Harga Minyak Brent dan WTI Longsor ke Level Terendah 3 Bulan

Ilustrasi harga minyak (Sumber; AP Photo)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:41 WIB

JAKARTA - Harga minyak global merosot ke level paling rendah dalam jangka waktu lebih dari tiga bulan setelah pasar mulai menghilangkan premi risiko ketegangan AS-Iran, seiring adanya progres dalam dialog antara kedua pihak serta besarnya harapan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada sesi perdagangan Selasa, 23 Juni 2026 waktu Amerika Serikat, minyak jenis Brent bertengger di level USD77,08 per barel atau melemah USD4,34 setara 5,3 persen.

Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendarat di posisi USD73,21 per barel setelah menyusut USD4,14 atau 5,4 persen.

Penurunan nilai jual ini terjadi menyusul mencuatnya dinamika terbaru seputar perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pelaku pasar menganggap potensi gangguan pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah mulai berkurang, sehingga premi perang yang awalnya mendongkrak harga minyak kini mulai dilepas.

Bukan hanya persoalan geopolitik, pasar juga mencermati peluang bertambahnya suplai minyak dunia jika aktivitas ekspor Iran kembali berjalan.

Beberapa lembaga keuangan global bahkan telah mulai menurunkan estimasi harga minyak mereka untuk paruh kedua 2026 sejalan dengan tingginya ekspektasi normalisasi pasokan.

Bagi Indonesia, melandainya harga minyak berpotensi memberikan ruang bagi pengelolaan subsidi serta kompensasi energi yang sempat terbebani selama masa kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.

Sebelumnya, anggaran subsidi energi Indonesia membengkak tinggi akibat lonjakan harga minyak selama konflik AS-Iran. Dengan posisi Brent yang kembali bergerak di kisaran USD77 per barel, beban tambahan bagi pos pengeluaran energi pemerintah berpeluang berkurang jika dibandingkan saat harga minyak sempat mendekati level USD100 per barel.

Meski demikian, level harga minyak saat ini sebenarnya masih berada di atas posisi sebelum ketegangan meletus. Sebelum pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari 2026, Brent berada di kisaran USD72,48 per barel dan WTI di angka USD67,02 per barel.

Menariknya, penurunan harga minyak tetap berjalan walaupun rilis data stok minyak Amerika Serikat menunjukkan penyusutan dalam jumlah yang terhitung besar.

American Petroleum Institute (API) melaporkan cadangan minyak mentah AS berkurang 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni 2026. Angka tersebut jauh melampaui prediksi pelaku pasar yang memperkirakan penurunan hanya di kisaran 4,6 juta barel.

Dalam kondisi normal, penyusutan stok minyak dalam volume masif tersebut umumnya menjadi stimulus pendorong harga karena mencerminkan suplai yang kian menipis.

Namun untuk situasi saat ini, kondisi psikologis geopolitik dinilai jauh lebih dominan dibandingkan rilis data inventori.

Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menyebutkan nilai minyak merosot cepat akibat pelaku pasar mengasumsikan Selat Hormuz bakal segera beroperasi kembali.

“Harga minyak mentah turun cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 23 Juni 2026.

Pasar juga turut mengalkulasi potensi Iran kembali menjual minyak ke pasar dunia andai kesepakatan dengan pihak Amerika Serikat benar-benar terwujud.

Managing Principal Obsidian Risk Advisors Brett Erickson memprediksi Iran mempunyai koleksi lebih dari 100 million barel minyak yang tersimpan dalam depot penampungan serta armada kapal tanker yang dapat dilepas ke pasar dalam waktu relatif kilat jikalau blokade ekspor dihapuskan.

Penurunan harga minyak berpeluang ikut meredakan tekanan inflasi sektor energi di tingkat global. Nilai komoditas energi yang semakin turun biasanya berdampak positif pada biaya transportasi, manajemen logistik, hingga harga jual bahan bakar.

Bagi Indonesia yang posisinya masih bertindak sebagai net importir minyak berikut komoditas BBM, melandainya harga minyak dapat menekan beban impor energi sekaligus menyokong stabilitas fiskal lewat berkurangnya keperluan subsidi serta kompensasi energi.

Kendati demikian, para pelaku pasar masih memantau perkembangan lebih lanjut mengenai eksekusi nyata dari kesepakatan AS-Iran serta situasi riil lalu lintas distribusi minyak di Selat Hormuz.

Beberapa pengamat berpendapat bahwa pasar fisik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat kembali stabil jika dibandingkan reaksi cepat yang terlihat di pasar berjangka.

Oleh karena itu, meskipun harga minyak sudah terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir, arah pergerakan selanjutnya tetap akan digerakkan oleh dinamika pasokan dari Timur Tengah, rilis berkala stok minyak AS, serta level pemulihan jalur ekspor minyak dunia.

Reporter: Ibtihal