Saham Sektor Teknologi dan Semikonduktor Anjlok, Wall Street Melemah
JAKARTA – Indeks saham Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026) waktu setempat. Penurunan tersebut dipicu oleh aksi jual masif di sektor teknologi serta semikonduktor yang menyebabkan gelombang koreksi di pasar global.
Indeks Nasdaq Composite terperosok 2,21 persen ke level 25.587,04, setelah pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026) juga terkoreksi 1,3 persen, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 1,44 persen ke posisi 7.365,46 dan Dow Jones Industrial Average melemah tipis 45,87 poin atau 0,09 persen menjadi 51.666,84.
Tekanan utama berasal dari saham-saham yang sebelumnya menjadi penerima manfaat tren kecerdasan buatan atau AI. Produsen chip memori Micron Technology anjlok 13 persen, sedangkan Sandisk juga merosot 13 persen.
Saham teknologi lainnya turut tertekan, dengan Seagate Technology yang turun lebih dari 5 persen dan Intel melemah 6 persen. Selain itu, Advanced Micro Devices atau AMD turun hampir 6 persen dan Qualcomm jatuh sekitar 8 persen.
Kinerja exchange-traded fund atau ETF sektor teknologi ikut tertekan oleh aksi jual tersebut. Technology Select Sector SPDR Fund atau XLK turun 4 persen, sementara VanEck Semiconductor ETF atau SMH anjlok 7 persen.
Gelombang koreksi tidak hanya menyasar Wall Street, tetapi juga menekan bursa Asia yang dipimpin oleh pasar Korea Selatan. Indeks Kospi terkoreksi hampir 10 persen, dengan saham raksasa chip memori SK Hynix yang ambruk lebih dari 12 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 3,55 persen sekaligus mengakhiri reli delapan hari berturut-turut. Para investor mulai merealisasikan keuntungan setelah saham teknologi dan AI mencatat kenaikan sangat tajam sepanjang tahun ini.
Pelemahan pasar tidak terjadi secara merata di seluruh sektor karena beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar di luar sektor chip justru menguat, seperti Microsoft dan Amazon. Saham defensif seperti Walmart, Procter & Gamble, serta Johnson & Johnson bergerak positif dan membantu menahan penurunan indeks utama.
Saham IBM melonjak 5 persen setelah meraih rekomendasi overweight dari JPMorgan, sementara saham Sherwin-Williams dan Merck juga ditutup menguat. Alphabet kembali berada di bawah tekanan dengan penurunan 1 persen setelah sehari sebelumnya merosot 5 persen karena investor masih mencermati berita hengkangnya sejumlah talenta AI penting.
Senior Portfolio Manager Morgan Stanley Investment Management, Andrew Slimmon, menilai aksi jual tersebut disebabkan oleh posisi investor yang sudah terlalu padat pada saham bertema AI.
“Penerima manfaat AI sedang mengalami aksi jual. Menurut saya, valuasinya tidak mahal, tetapi posisinya sudah terlalu ramai. Ketika sebuah tema menjadi pusat perhatian trader momentum, koreksi tajam seperti ini sangat mungkin terjadi. Saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang sehat bagi pasar,” kata Slimmon, sebagaimana dilansir dari sumber berita.