Harga CPO Naik Dua Hari Beruntun Disokong Sentimen Ringgit

Ilustrasi industri sawit. (Foto: dok KabarBursa.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 23 Juni 2026 | 12:09:01 WIB

JAKARTA – Banderol kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menanjak pada Senin (22/6/2026), mencatatkan kenaikan dua hari berturut-turut. 

Situasi ini didorong oleh menguatnya minyak nabati di pasar global serta melemahnya mata uang Ringgit Malaysia.

Melihat pada data BMD pada sesi penutupan Senin (22/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 terdongkrak 16 Ringgit Malaysia ke posisi 4.610 Ringgit Malaysia per ton. 

Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 meningkat 19 Ringgit Malaysia menuju angka 4.641 Ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO September 2026 melambung 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.672 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 meroket 33 Ringgit Malaysia ke posisi 4.701 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO November 2026 melonjak 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.729 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO Desember 2026 terangkat 44 Ringgit Malaysia menuju angka 4.754 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Tradingview, di sepanjang sesi perdagangan, harga CPO sempat menyentuh 4.703 Ringgit Malaysia, yang menjadi posisi tertinggi sejak 6 Mei, sebelum akhirnya membatasi sebagian kenaikan mendekati penutupan bursa.

Seorang pelaku pasar di Kuala Lumpur memaparkan bahwa tren kenaikan harga didukung oleh depresiasi mata uang ringgit serta angin segar dari bursa minyak kedelai di Chicago. 

Meski begitu, laju penguatan tertahan oleh anjloknya nilai minyak mentah dunia.

“Palm naik karena ringgit melemah dan minyak kedelai Chicago menguat, tetapi tertahan oleh turunnya harga minyak mentah,” ujarnya.

Di pasar global, minyak kedelai di Chicago Board of Trade dikabarkan menguat 0,89%, sementara kontrak minyak sawit di Bursa Dalian menanjak 0,45%. 

Di sisi yang berbeda, kontrak minyak kedelai yang paling aktif malah melemah tipis 0,07%.

Perubahan nilai minyak sawit memang kerap kali mengikuti minyak nabati lainnya karena bersaing di ceruk pasar minyak nabati global.

Dilihat dari faktor mata uang, ringgit Malaysia melemah 0,29% terhadap dolar AS, membuat komoditas ini menjadi lebih murah untuk para pembeli di luar negeri.

Selain itu, volume ekspor juga mempertegas sentimen pasar. Pengiriman produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1–20 Juni dikabarkan melonjak antara 19,1% hingga 25% secara bulanan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh dua lembaga survei kargo.

Walau demikian, penguatan harga minyak sawit dihambat oleh kemerosotan nilai minyak mentah Brent yang turun sekitar 2% setelah diskusi AS–Iran di Swiss membuahkan sinyal pelonggaran keran ekspor minyak Iran.

Penurunan pada harga minyak mentah ini ikut mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel di panggung pasar energi global.

Reporter: Ibtihal