NEW YORK – Banderol emas global kembali meroket naik pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026), sesudah sempat terperosok ke titik paling rendah dalam lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya.
Kenaikan logam mulia ini terjadi di saat nilai minyak dunia menurun seiring perkembangan positif diskusi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga emas spot ditutup menguat 0,75% menuju posisi US$ 4.191,43 per ons troi. Pada sesi terdahulu, emas sempat anjlok ke level terendah sejak 11 Juni.
Walau begitu, kontrak berjangka emas AS untuk batas pengiriman Agustus malah ditutup merosot 0,85% ke level US$ 4.209,7 per ons troi.
"Harga energi akan tetap menjadi penggerak utama pasar logam mulia dalam jangka pendek," kata analis Saxo Bank Ole Hansen dikutip dari Reuters. Lewat evaluasinya, perundingan antara AS dan Iran di Swiss yang sedang berjalan menunjukkan arah positif menuju kesepakatan. “Kesepakatan tersebut pada dasarnya akan menambah pasokan minyak mentah ke pasar global," ujar Hansen. Hansen menambahkan, estimasi penambahan ketersediaan minyak itu memberikan beban bagi nilai minyak mentah sekaligus mendorong tren kenaikan nilai emas.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebutkan, pertemuan dengan delegasi Iran di Swiss telah menghasilkan fondasi yang bagus menuju kesepakatan damai akhir, walaupun sejumlah persoalan penting seperti Selat Hormuz dan Lebanon masih menjadi topik diskusi. Kabar tersebut langsung membebani pasar energi.
Nilai minyak Brent dikabarkan merosot di atas 3% setelah pernyataan itu disiarkan.
Di sisi lain, investor juga mengamati arah kebijakan moneter AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, para penanam modal sekarang mengestimasikan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 89%, melonjak dari posisi 61% sebelum pertemuan bank sentral AS pekan lalu.
Dari total 19 pejabat The Fed, sembilan orang di antaranya masih menilai kenaikan suku bunga masih dibutuhkan pada tahun ini. Prediksi suku bunga yang lebih tinggi menjadi faktor yang menghambat laju kenaikan emas.
Sebab komoditas ini tidak menghasilkan imbal hasil, emas biasanya kehilangan daya tarik ketika suku bunga naik karena investor dapat meraih return lebih tinggi dari produk yang berbunga.
Sementara itu, Bank of America melalui laporan paling barunya memaparkan, target nilai emas di posisi US$ 6.000 per ons troi masih sulit diwujudkan dalam waktu dekat.
Berdasarkan bank investasi itu, pasar harus menghapus secara menyeluruh prediksi kenaikan suku bunga agar nilai emas dapat melampaui posisi tersebut.
Meskipun demikian, Bank of America menilai faktor utama yang menyokong prediksi bullish emas masih berlangsung, yakni kebijakan makroekonomi AS yang dinilai tidak konvensional serta berpotensi menaikkan ketertarikan pada aset lindung nilai.
Tidak hanya emas, harga perak spot ikut terdongkrak 0,28% ke angka US$ 65,1 per ons. Nilai platinum melonjak 0,95% menuju US$ 1.683,1 per ons, sementara palladium menguat 0,42% menjadi US$ 1.269,6 per ons.