Tertekan Sentimen China, Harga Batu Bara Stabil USD 131,5 per Ton

Ilustrasi Batubara. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 23 Juni 2026 | 11:31:22 WIB

JAKARTA - Nilai jual batu bara dilaporkan tidak bergerak pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026). Harga komoditas batu bara berakhir di level US$ 131,5 per ton.

Banderol tersebut jalan di tempat jika dibandingkan dengan posisi pada Jumat pekan lalu. Mandeknya pergerakan harga batu bara ini dipicu oleh sederet aspek, utamanya perkembangan dari China serta merosotnya nilai minyak dunia.

 Pada sesi transaksi Senin (22/6/2026), kontrak berjangka minyak jenis Brent untuk tenggat pengiriman Agustus menyusut 3,31% dan berakhir di angka US$ 77,90 per barel. 

Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk tenggat pengiriman Juli melandai 2,32% ke posisi US$ 74,82 per barel.

Batu bara serta minyak bumi merupakan dua rumpun komoditas yang bersifat saling menggantikan (substitusi), sehingga fluktuasi harga di antara keduanya akan saling memberikan dampak.

Sementara itu, nilai batu bara kokas di pasar China kembali tergelincir seiring membesarnya potensi ketersediaan pasokan. 

Situasi ini bergulir pasca sejumlah wilayah pertambangan di Provinsi Shanxi kembali beroperasi setelah sempat libur akibat insiden kecelakaan fatal pada akhir Mei. 

Tingginya angka impor juga turut memperberat tekanan terhadap pergerakan harga. 

Mengacu pada survei dari lembaga konsultan Mysteel, berkisar 63% dari total fasilitas tambang batu bara yang sempat menyetop aktivitas operasional usai insiden maut tersebut dilaporkan telah kembali berproduksi hingga tanggal 17 Juni.

Pada momen yang sama, catatan otoritas bea cukai memperlihatkan angka impor batu bara kokas oleh China pada Mei melesat hingga 51% dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lampau. 

Secara akumulasi sepanjang rentang Januari-Mei, aktivitas impor menanjak 25% dari perolehan tahun sebelumnya.

Para pelaku pasar memproyeksikan volume impor batu bara kokas China diprediksi masih akan terus merangkak naik sepanjang tahun ini.

Analis dari Galaxy Futures mengutarakan bahwa koreksi harga pada saat ini bukan dipicu oleh pergeseran fundamental yang masif, melainkan lantaran perhatian pelaku pasar mulai beralih dari kekhawatiran minimnya pasokan menjadi ekspektasi atas pulihnya hasil produksi dari sektor tambang. 

Walau begitu, mereka berpandangan bahwa faktor ketidakpastian masih menyelimuti laju pemulihan operasional produksi di beberapa lokasi tambang lainnya, sehingga total output berskala nasional belum dapat dipastikan bisa pulih total ke posisi sebelum insiden kecelakaan terjadi.

Di pasar bijih besi, tren harga terpantau bergerak cukup konstan. Para penanam modal masih memperhitungkan tingkat permintaan yang terpantau kokoh dari sektor industri baja di tengah melimpahnya stok persediaan yang ada di kawasan pelabuhan.

Data dari Mysteel memperlihatkan volume produksi harian rata-rata hot metal, yang menjadi tolok ukur utama bagi permintaan bijih besi, terangkat 0,6% menuju angka 2,42 juta ton per 18 Juni. Catatan tersebut menjadi raihan paling tinggi semenjak September 2025.

Di sudut lain, tingkat penyerapan dari sektor industri baja mulai menunjukkan tren penurunan imbas tibanya musim penghujan serta melambatnya roda aktivitas konstruksi di China.

 Sejumlah produsen baja saat ini berada di ambang batas impas (break-even point), sehingga mulai menahan diri dan menolak adanya katrolan harga kokas yang lebih tinggi lagi.

Reporter: Ibtihal