Inflasi Melambat Indeks Nikkei Jepang Melonjak Lebih dari Dua Persen

Jumat, 22 Mei 2026 | 15:23:32 WIB

JAKARTA – Jelang akhir pekan, Jumat (22/5), bursa saham Asia dibuka menguat dan berlanjut mixed. Para investor terus mencermati langkah-langkah diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran dalam upaya mencapai kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan dari CNBC, walaupun harga minyak dunia mengalami penurunan pada sesi perdagangan di AS karena ekspektasi tercapainya perdamaian, muncul laporan bahwa pihak Teheran memiliki niat untuk mempertahankan cadangan uranium yang sudah diperkaya di dalam negeri mereka.

Sikap tersebut dinilai berpotensi menyulitkan jalannya perundingan dengan Washington, sebab Presiden AS Donald Trump menempatkan pembongkaran program nuklir Iran sebagai target utama dari aksi militernya terhadap Teheran.

Di sisi lain, rilis data inflasi inti di Jepang untuk periode April memperlihatkan perlambatan yang lebih besar dari estimasi semula, hingga menyentuh level terendah sejak Maret 2022. Perkembangan ini diperkirakan bakal memangkas peluang bagi Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Inflasi inti yang tidak menghitung kelompok makanan segar tersebut berada di angka 1,4%, lebih rendah daripada hasil survei ekonom Reuters sebesar 1,7% sekaligus berada di bawah pencapaian bulan Maret yang sebesar 1,8%.

Pada aktivitas perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200 di Australia dibuka dengan membukukan kenaikan sebesar 0,5%, dan berlanjut menguat 0,31% menuju posisi 8.648,40 pada pukul 8:15 WIB.

Indeks Kospi di Korea Selatan juga mengawali hari dengan penguatan 0,52%, sementara indeks Kosdaq melonjak lebih dari 3%. Meski demikian, Kospi kemudian berbalik melemah 0,19% ke level 7.801,12.

Pada waktu yang bersamaan, indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 2,03% ke level 62.935,45 setelah dibuka melaju 1,36%, sedangkan indeks Topix bertambah 0,55%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong terakhir berada di posisi 25.568, lebih tinggi dari penutupan perdagangan sebelumnya di level 25.386,52.

Untuk pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan memiliki peluang untuk mengalami technical rebound, walaupun posisinya dinilai masih rawan terkena koreksi lanjutan. Pada sesi perdagangan kemarin, IHSG terperosok sedalam 3,54% ke level 6.094.

Selaras dengan itu, harga ETF saham Indonesia, iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO), di New York Stock Exchange juga ambles 3,03% menuju posisi USD 13.080.

Sejumlah analis memproyeksikan pergerakan IHSG akan cenderung bergerak fluktuatif serta volatil, akibat kombinasi sentimen dari dalam negeri maupun global. Apabila mata uang rupiah kembali tertekan dan aksi jual oleh investor asing masih berlanjut, IHSG berisiko melorot hingga ke bawah level 6.000.

Kendati demikian, secara teknikal, ruang bagi IHSG untuk mencatatkan penguatan jangka pendek mulai terbuka yang didorong oleh aksi bargain hunting setelah indeks mengalami koreksi yang sangat dalam selama beberapa hari terakhir. Indeks diproyeksikan bergerak pada kisaran rentang support 5.950 dan resistance 6.200.

Amerika Serikat dan Eropa

Aktivitas perdagangan di bursa Wall Street pagi tadi ditutup menguat tipis sejalan dengan merosotnya harga minyak di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik.

Proses negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan adanya perkembangan, tetapi hambatan utama masih tertuju pada isu pengayaan uranium serta kendali di Selat Hormuz. Sementara itu, rilis data ekonomi terbaru AS memperlihatkan pasar tenaga kerja yang tetap kokoh, serta aktivitas manufaktur periode Mei yang sukses menduduki level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Di lantai bursa, saham Walmart ambles 7,3% sehingga menyeret kejatuhan mendalam pada sektor consumer staples sebesar -1,6%. Saham Casey's General Stores dan Costco Wholesale masing-masing ikut drop sebesar 3,3% dan 2,2%.

Saham Nvidia tergelincir 1,8% akibat adanya aksi ambil untung, namun Indeks Philadelphia Semiconductor justru mampu melaju 1,3%. Saham IBM melejit hingga 12,4% seiring kabar bahwa Gedung Putih bersiap mengucurkan dana untuk sejumlah perusahaan komputasi kuantum.

Saham GlobalFoundries turut melejit 14,9%, sementara D-Wave Quantum, Rigetti Computing, dan Infleqtion melambung antara 30,6% hingga 33,4%.

Pada penutupan, Dow Jones Industrial Average naik 0,55% menuju level 50.285,66. S&P 500 menguat sebesar 0,17% ke posisi 7.445,72, dan Nasdaq Composite bertambah tipis 0,09% pada level 26.293,10.

Sementara itu, bursa saham utama di Eropa semalam berakhir hampir stagnan. Reli yang terjadi sebelumnya mulai kehilangan tenaga di tengah memanasnya ketegangan AS-Iran terkait program uranium dan Selat Hormuz.

Harga minyak terpantau melonjak lebih dari 2%, sementara data aktivitas sektor swasta di Prancis dan Jerman kembali mengalami kontraksi, sehingga memicu kekhawatiran stagflasi di zona euro. Pelaku pasar memperkirakan ECB masih akan mengerek suku bunga acuan lebih dari dua kali hingga akhir tahun ini.

Indeks STOXX 600 berakhir naik tipis 0,04% di level 620,56 dengan pergerakan saham teknologi yang bervariasi. Saham emiten semikonduktor ASML melaju sebesar 1%, sedangkan STMicroelectronics turun tipis.

Di sisi lain, antusiasme terhadap SpaceX berhasil melambungkan saham operator serta produsen satelit, seperti Eutelsat (+22%), OHB (+7,7%), dan SES (+3,7%). Sektor perjalanan dan rekreasi merosot 1,4%, sedangkan pada sektor keuangan, saham Generali melonjak 2,7%. Perusahaan pertahanan asal Inggris, QinetiQ, melejit 7,9%, sementara saham platform otomotif Inggris, Autotrader, rontok mendekati 9%.

Untuk indeks saham regional Eropa, DAX Jerman melemah 0,53% ke posisi 24.606,77, CAC Prancis turun 0,39% ke level 8.086,00, dan FTSE 100 Inggris meningkat 0,11% menuju area 10.443,47.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada pasar uang New York pagi tadi terpantau relatif tidak mengalami perubahan. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak mendatar di posisi 99,13, setelah sebelumnya sempat merangkak naik di tengah ketidakpastian perundingan AS-Iran.

Laporan mengenai langkah Iran yang melarang ekspor uranium yang diperkaya mendekati level senjata nuklir sempat menyokong penguatan dolar. Namun, sentimen tersebut berbalik setelah muncul kabar bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati draf akhir perdamaian, meskipun hal ini belum mendapatkan konfirmasi resmi.

Ketidakpastian situasi perang serta risiko gangguan pasokan energi turut meningkatkan kekhawatiran atas inflasi di AS, sekaligus mempertegas proyeksi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Pelemahan data PMI di Eropa, Inggris, dan Jepang kian memperkuat daya tarik dolar AS.

Mata uang euro terpantau melemah tipis, sedangkan poundsterling mengalami penguatan. Sementara itu, Bank of Japan mulai memberikan sinyal mengenai kenaikan suku bunga secara bertahap akibat adanya tekanan inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Pada kurs spot dolar, tercatat pergerakan sebagai berikut: Euro (EUR-USD): 1.1617 (Berubah 0.00 / % Perubahan: 0.02% pada 7:22 PM) Yen (USD-JPY): 159.00 (Berubah 0.02 / % Perubahan: 0.01% pada 7:22 PM) Poundsterling (GBP-USD): 1.3431 (Berubah 0.00 / % Perubahan: 0.00% pada 7:22 PM) Rupiah (USD-IDR): 17.667 (Berubah 13.00 / % Perubahan: 0.07% pada 3:59 AM) Yuan (USD-CNY): 6.8030 (Berubah 0.00 / % Perubahan: 0.05% pada 2:59 PM) (Sumber : Bloomberg.com, 21/5/2026 ET)

Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent North Sea pada dini hari tadi ditutup anjlok sekitar 2% setelah melewati sesi perdagangan yang sangat volatil di tengah ketidakpastian negosiasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Harga minyak sempat melonjak hingga 4% sesaat setelah Iran memperkeras sikapnya terkait pengawasan Selat Hormuz dan isu uranium. Namun, pasar berbalik melemah karena munculnya harapan baru terkait perundingan damai yang dimediasi oleh Pakistan.

Di samping itu, pihak Iran terus memperketatkan pengawasan mereka di Selat Hormuz. Lembaga keuangan UBS menaikkan proyeksi harga minyak Brent menjadi USD105 per barel, sementara IEA mengeluarkan peringatan bahwa pasar minyak global dapat memasuki "zona merah" pada periode Juli-Agustus.

Pasokan di tingkat global kini semakin ketat menyusul adanya gangguan di Timur Tengah, menyusutnya stok minyak dunia, serta naiknya permintaan bahan bakar pada musim panas. Tujuh negara produsen utama dalam OPEC+ diperkirakan bakal menyepakati peningkatan produksi minyak secara moderat untuk bulan Juli dalam pertemuan yang dijadwalkan pada 7 Juni mendatang.

Pada penutupan, harga Brent berjangka anjlok 2,3% menuju level USD102,58 per barel, dan harga WTI berjangka merosot sebesar 1,9% ke angka USD96,35 per barel.

Sementara itu, harga emas di bursa berjangka AS pada dini hari tadi ditutup cenderung stabil setelah sempat merosot hingga 1%. Pergerakan ini ditopang oleh melemahnya dolar AS, koreksi harga minyak, serta penurunan imbal hasil US Treasury. Volatilitas harga minyak akibat ketidakpastian konflik geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar emas. Penurunan sebesar 0,2% pada imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turut menjaga daya tarik logam mulia ini di mata investor.

Kenaikan harga energi dinilai memperbesar risiko inflasi dan membuka peluang bagi suku bunga di AS untuk bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Pelaku pasar kini memperkirakan adanya peluang sebesar 58% bagi The Fed untuk kembali mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun 2026.

Untuk komoditas logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot meningkat 0,9% ke level USD76,63 per ounce, platinum naik 0,6% menjadi USD1.962, dan paladium melaju sebesar 1,1% menuju posisi USD1.384,50. Adapun harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% ke level USD4.547,54 per ounce, sedangkan harga emas berjangka AS melemah 0,1% di posisi USD4.542,50 per ounce.

Terkini