Danantara Sebut Empat Raksasa Teknologi Global Incar Emiten Energi RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25:58 WIB
CEO Danantara Indonesia Rosan P Roeslani (Sumber Gambar : money.kompas.com)

JAKARTA – Danantara Indonesia berpendapat bahwa narasi pasar modal saat ini berfokus pada industri kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut menjadi penyebab bursa Taiwan dan Korea Selatan mengalami kenaikan signifikan, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkoreksi dua digit sejak awal tahun.

Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan bahwa dari kunjungannya ke Amerika Serikat, terdapat empat perusahaan teknologi raksasa global yang berminat masuk ke Indonesia.

"Kemarin juga saya ketemu dengan the big, ada 4 perusahaan terbesar di dunia untuk teknologi. Semuanya mau ke Indonesia nyarinya energi," kata Pandu saat ditemui di Kantor BEI, Jakarta, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pandu menilai Indonesia belum maksimal dalam mengoptimalkan sektor AI, mengingat fundamental pasar modal domestik saat ini masih didominasi industri tradisional. Sejauh ini, belum ada yang mengikuti tren AI.

"Padahal untuk AI berkembang seharusnya basis energi yang mengikuti itu. Jadi ya boleh dibilang apakah ini [koreksi tajam IHSG] soal MSCI? Menurut saya, MSCI sudah relatif melunak. Mungkin adalah soal kreativitas kalau mau lihat," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pandu mendasarkan argumen mengenai dampak MSCI yang kecil terhadap koreksi IHSG pada perbandingan perkembangan pasar modal negara lain. Ia mencontohkan India memiliki emiten yang membangun proyek pembangkit listrik berkapasitas 30 gigawatt (GW) guna mendukung AI, meskipun peringkat kredit India masih di bawah Indonesia.

Di sisi lain, pasar modal Taiwan memiliki TSMC yang nilai kapitalisasi pasarnya melampaui seluruh pasar ASEAN jika digabungkan. Narasi AI yang tumbuh pesat di kedua negara tersebut belum terlihat di pasar modal Indonesia yang bobotnya masih didominasi saham emiten perbankan besar.

Danantara juga mengamati bahwa emiten energi di Indonesia belum memanfaatkan potensi pertumbuhan AI seperti di pasar modal global yang terbukti mampu menaikkan harga saham secara signifikan.

"Aku udah ngomong sama beberapa owner-nya perusahaan energi. Kenapa kalian gak punya off-taker data center? Then you can tell a story energy for AI. Hanya cerita kayak gitu, di Korea, di Amerika, saham bisa naik 5-6 kali lipat. Tapi aku udah nginfo-in, tapi gak dijalanin," tandasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini