Inovasi Kreatif UMKM Kalibaru Olah Limbah Kerang Jadi Paving Guna Kurangi Pencemaran

Selasa, 28 April 2026 | 22:33:47 WIB
Inovasi Kreatif UMKM Kalibaru Olah Limbah Kerang Jadi Paving

JAKARTA – UMKM Kalibaru Olah Limbah Kerang Jadi Paving sebagai upaya mengatasi tumpukan cangkang yang mencapai 3 ton per hari menjadi produk konstruksi bernilai ekonomi.

Kawasan pesisir Jakarta Utara kini memiliki cara unik dalam menangani persoalan lingkungan yang menahun. Limbah cangkang kerang hijau di kawasan pesisir Kalibaru, Jakarta Utara, diperkirakan mencapai 2 hingga 3 ton per hari dan sebagian besar belum dikelola secara optimal.

Tumpukan material sisa ini biasanya hanya berakhir menjadi gunungan sampah di sepanjang pinggir pantai. “Menurut estimasi, limbah cangkang kerang di sini bisa 2 sampai 3 ton per hari, dan itu dibuang begitu saja menumpuk di tanggul,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Bappeda DKI Jakarta juga menyoroti besarnya volume sampah yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi warga lokal. Kondisi ini terjadi seiring tingginya aktivitas pengolahan kerang hijau oleh warga setempat, yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama di kawasan pesisir Kalibaru.

Melihat potensi yang terbuang, sekelompok masyarakat mulai menginisiasi gerakan perubahan melalui jalur kewirausahaan. Komunitas Cangkring di Kelurahan Kalibaru memanfaatkan limbah tersebut menjadi paving block, kloset, hingga cendera mata.

Proses produksinya melibatkan tahap pembersihan hingga penggilingan menjadi material yang sangat halus. Limbah yang sudah diproses tersebut kemudian dikombinasikan dengan bahan semen sebagai pengikat utama.

“Kalau biasanya bahan bangunan pakai pasir, kita pakainya dari cangkang kerang hijau yang sudah digiling. Perbandingannya sekitar 50:50 dengan semen dan bahan lain,” kata Yuliah sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Hasil karya inovatif ini dipasarkan dengan harga yang sangat terjangkau bagi kebutuhan konstruksi ringan. Produk paving block yang dihasilkan dijual dengan harga sekitar Rp1.700 hingga Rp2.000 per unit, sementara produk lain seperti cendera mata dan kloset dibanderol Rp25.000 hingga Rp150.000.

Kapasitas produksi kelompok ini sebenarnya sudah cukup mumpuni untuk memenuhi skala kebutuhan tertentu. Dalam kondisi normal, produksi dapat mencapai ratusan unit per hari dan berpotensi meningkat jika permintaan bertambah.

Namun, perjalanan bisnis ramah lingkungan ini masih menjumpai berbagai rintangan dalam pengembangannya. “Kita sebenarnya bisa produksi banyak, tapi terbentur di pemasaran dan permodalan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Keterbatasan jangkauan konsumen serta pemanfaatan teknologi digital menjadi faktor penghambat yang cukup serius. Yuliah menyatakan bahwa pendampingan yang ada saat ini masih memerlukan tindak lanjut hingga ke tahap penjualan.

Upaya kolaborasi dengan berbagai pihak terus diusahakan agar inisiatif ini dapat terus berkelanjutan. Langkah nyata ini diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga membersihkan wilayah pesisir dari dampak polusi limbah cangkang.

Terkini