JAKARTA - Pergerakan harga logam mulia di pasar global kembali menarik perhatian pelaku pasar.
Dalam beberapa hari terakhir, harga emas dan perak sama sama mengalami tekanan, namun penurunan yang terjadi tidak berlangsung dengan intensitas yang sama. Perak justru mengalami koreksi jauh lebih dalam dibandingkan emas.
Fenomena ini membuat pasar global cukup terkejut karena biasanya kedua logam mulia tersebut bergerak searah ketika terjadi ketidakpastian ekonomi. Namun pada perdagangan kali ini, harga perak tertekan lebih kuat dibandingkan emas sehingga memicu perhatian investor di berbagai pasar komoditas.
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga emas masih relatif stabil dibandingkan perak. Meski mengalami fluktuasi, penurunan harga emas terlihat jauh lebih kecil dibandingkan koreksi yang dialami perak.
Perbedaan pergerakan ini menegaskan bahwa kedua logam mulia tersebut memiliki karakter pasar yang berbeda. Emas dikenal sebagai aset lindung nilai, sementara perak memiliki peran ganda yang membuatnya lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Pergerakan harga emas di tengah gejolak pasar global
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5.175,45 per troy ons atau menguat 0,31 persen pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Pergerakan tersebut terjadi setelah sebelumnya emas sempat mencatat kenaikan sebesar 1,06 persen pada Selasa.
Meski sempat menguat, harga emas kembali mengalami pelemahan pada perdagangan berikutnya. Pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 14.33 WIB, harga emas diperdagangkan di posisi US$ 5.169,07 per troy ons atau turun sekitar 0,12 persen.
Tekanan terhadap harga emas juga terlihat sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sejak konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026, harga emas telah mengalami penurunan sekitar 2,05 persen.
Kendati demikian, penurunan emas masih tergolong terbatas jika dibandingkan dengan koreksi yang terjadi pada perak. Hal ini menunjukkan bahwa emas masih mempertahankan perannya sebagai salah satu aset lindung nilai.
Harga perak jatuh jauh lebih dalam dibanding emas
Berbeda dengan emas yang hanya mengalami penurunan tipis, harga perak justru mengalami koreksi yang jauh lebih tajam. Dalam perdagangan intraday, harga perak bahkan sempat turun hampir 3 persen.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa harga perak ditutup di posisi US$ 86,32 per troy ons atau anjlok sebesar 2,35 persen pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Penurunan ini mencerminkan tekanan kuat yang terjadi pada pasar logam tersebut.
Pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 14.35 WIB, harga perak diperdagangkan di posisi US$ 86,44 per troy ons atau naik sekitar 0,76 persen. Meski sempat menguat, harga perak masih menunjukkan penurunan yang cukup besar sejak konflik geopolitik meningkat.
Sejak perang tersebut meletus, harga perak telah jatuh sekitar 7,4 persen. Koreksi tersebut menunjukkan bahwa volatilitas perak memang lebih tinggi dibandingkan emas dalam kondisi pasar yang tidak menentu.
Karakter perak yang membuat harga lebih volatil
Perbedaan besar dalam pergerakan harga emas dan perak tidak terjadi tanpa alasan. Kedua logam mulia tersebut memiliki karakter pasar yang berbeda sehingga responsnya terhadap perubahan sentimen juga tidak sama.
Perak memiliki karakter unik karena tidak hanya digunakan sebagai logam mulia untuk investasi. Logam ini juga merupakan komoditas industri yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai sektor manufaktur.
Kombinasi antara fungsi investasi dan kebutuhan industri membuat harga perak sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global. Ketika pasar mengalami tekanan, permintaan industri juga dapat memengaruhi pergerakan harga secara signifikan.
Selain itu, pasar perak relatif lebih kecil dibandingkan pasar emas. Aktivitas spekulatif juga memiliki pengaruh yang cukup besar sehingga tekanan jual dapat memicu penurunan harga yang lebih cepat dan dalam.
Perubahan arus dana global memicu tekanan pada logam mulia
Melansir laporan dari The Economic Times, selisih penurunan antara emas dan perak berkaitan dengan struktur pasar kedua logam tersebut. Salah satu pemicu utama berasal dari perubahan arus dana global.
Investor mulai mengalihkan portofolio mereka menuju dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Peralihan ini terjadi ketika imbal hasil obligasi mendekati 4 persen sehingga menjadi lebih menarik bagi pelaku pasar.
Perubahan arus investasi tersebut mengurangi minat terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas dan perak. Akibatnya, harga logam mulia mengalami tekanan di pasar global.
Selain itu, penguatan dolar juga berpengaruh terhadap harga perak. Ketika dolar menguat, harga perak menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain sehingga berpotensi menekan permintaan global.
Tekanan tambahan dari pasar derivatif dan kebijakan moneter
Faktor lain yang turut memperburuk tekanan pada perak berasal dari pasar derivatif. Bursa Chicago Mercantile Exchange menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka perak sebesar 36 persen.
Kenaikan margin tersebut membuat para trader dengan posisi leverage tinggi harus menambah jaminan. Banyak pelaku pasar akhirnya memilih menutup posisi mereka secara cepat untuk menghindari risiko tambahan.
Aksi likuidasi yang terjadi secara bersamaan memicu tekanan jual yang lebih tajam pada perak dibandingkan emas. Kondisi ini mempercepat penurunan harga di pasar logam tersebut.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga ikut memengaruhi pergerakan logam mulia. Pasar mulai memperkirakan bahwa suku bunga tinggi di Amerika Serikat akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik dolar serta obligasi pemerintah. Karena emas dan perak tidak memberikan imbal hasil, minat terhadap kedua logam tersebut menjadi berkurang.
Prospek jangka panjang perak masih dipengaruhi permintaan industri
Meskipun mengalami tekanan dalam jangka pendek, prospek perak dalam jangka panjang belum berubah secara drastis. Permintaan industri terhadap logam ini masih cukup tinggi di berbagai sektor teknologi modern.
Sektor energi surya serta infrastruktur kecerdasan buatan membutuhkan perak dalam jumlah besar sebagai bahan penting dalam proses produksi. Hal ini membuat permintaan terhadap logam tersebut tetap terjaga.
Sekitar 50 hingga 60 persen permintaan perak berasal dari sektor industri. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan emas yang sebagian besar digunakan sebagai aset lindung nilai.
Karena itu, koreksi harga yang terjadi saat ini lebih mencerminkan penyesuaian pasar setelah reli kuat sebelumnya serta perubahan likuiditas global. Dalam jangka panjang, dinamika permintaan industri masih menjadi faktor penting yang akan menentukan arah harga perak di pasar dunia.