Bahlil Percepat Pembangunan Storage Minyak Nasional Libatkan Swasta Dan Investor Asing

Kamis, 05 Maret 2026 | 12:31:15 WIB
Bahlil Percepat Pembangunan Storage Minyak Nasional Libatkan Swasta Dan Investor Asing

JAKARTA - Pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional dengan menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah dalam skala besar. 

Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan energi dalam negeri tetap stabil di tengah dinamika pasar global. Selain itu, pembangunan storage minyak dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mempercepat pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah atau crude oil. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan mampu memperbesar cadangan energi nasional serta memperkuat sistem distribusi bahan bakar minyak di dalam negeri.

Pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah itu rencananya tidak hanya mengandalkan pembiayaan pemerintah. Proyek tersebut akan melibatkan pihak swasta dengan skema pembiayaan campuran dari dalam negeri dan luar negeri, sehingga proses pembangunan dapat berlangsung lebih cepat.

“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Udah siap. Investasinya bisa dari di-blending antara dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan dari AS [Amerika Serikat],” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.

Pentingnya Penambahan Tangki Penyimpanan Minyak

Bahlil menilai pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah tambahan menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia. Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, kilang-kilang domestik dapat memperoleh kepastian pasokan bahan baku dalam mengolah produk energi.

Keberadaan storage minyak juga akan membantu menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak bagi masyarakat. Jika pasokan minyak mentah tersedia dengan cukup, maka proses pengolahan di kilang dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa gangguan.

Menurut Bahlil, ketersediaan minyak mentah menjadi faktor utama dalam operasional kilang energi nasional. Tanpa pasokan yang stabil, proses produksi bahan bakar minyak bisa terganggu.

“Kalau crude-nya ada, BBM-nya kan tangkinya bisa jalan. Itu. Dan kita lihat ekspansinya, kalau memang itu dibutuhkan untuk kita bangun untuk BBM jadinya, itu kan di kilang sebenarnya. Tinggal kita meminta kepada kilang-kilang Pertamina menambah tangki-tangkinya,” tegas Bahlil.

Target Peningkatan Kapasitas Cadangan Energi

Saat ini kapasitas penyimpanan minyak nasional dinilai masih terbatas. Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, kapasitas storage minyak Indonesia hanya mampu menampung cadangan energi untuk sekitar 25 hingga 26 hari.

Angka tersebut masih berada di bawah standar internasional yang umumnya mencapai sekitar tiga bulan atau 90 hari cadangan energi. Karena itu pemerintah berencana meningkatkan kapasitas tangki penyimpanan minyak mentah agar lebih mendekati standar global.

Bahlil menyebutkan bahwa saat ini studi kelayakan atau feasibility study proyek tersebut sedang dikerjakan. Kajian ini bertujuan memastikan lokasi pembangunan, kapasitas tangki, serta kebutuhan investasi yang diperlukan.

“Makanya sekarang pemerintah lagi sedang berusaha untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa sampai dengan 3 bulan, karena itu standar internasional,” kata Bahlil, dalam konferensi pers, Selasa (3/3/2026).

Rencana Pembangunan Storage di Sumatra

Dalam rencana awal yang disampaikan pemerintah, salah satu lokasi pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah akan berada di wilayah Sumatra. Pulau tersebut dipilih karena memiliki posisi strategis dalam distribusi energi nasional.

Pembangunan fasilitas penyimpanan ini diharapkan dapat memperkuat jaringan pasokan minyak mentah ke berbagai kilang dalam negeri. Selain itu, lokasi di Sumatra dinilai memiliki akses logistik yang mendukung distribusi energi ke berbagai wilayah Indonesia.

Bahlil mengatakan proses studi kelayakan masih berjalan dan pemerintah menargetkan pembangunan dapat dimulai dalam waktu dekat. Meski demikian, pemerintah belum mengungkap secara rinci lokasi proyek tersebut.

“Kami akan targetkan, FS lagi berjalan, dan ditargetkan di tahun ini pembangunannya sudah mulai dilakukan. Jangan tanya saya bulan apa ya, lokasinya di daerah Sumatra. Sumatranya pun jangan tanya saya di kabupaten apa,” papar Bahlil.

Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global

Rencana pembangunan storage minyak mentah ini juga berkaitan dengan kondisi geopolitik global yang memengaruhi jalur perdagangan energi. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah situasi di Selat Hormuz yang saat ini mengalami gangguan.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Jalur sempit tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Dalam situasi konflik yang terjadi di Timur Tengah, kapal-kapal tanker minyak mulai menghindari jalur tersebut karena risiko keamanan yang meningkat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pasokan energi global, termasuk bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Meski demikian, Bahlil memastikan pasokan energi nasional masih berada dalam kondisi aman menjelang Idulfitri. Ia menyebut stok minyak mentah, bahan bakar minyak, serta liquified petroleum gas atau LPG berada di atas standar minimum nasional.

“Khusus untuk menyangkut dengan persiapan hari raya, ya hari raya Idulfitri, bulan puasa, alhamdulillah teman-teman, saya menyampaikan bahwa untuk stok BBM kita, crude, BBM, LPG, itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” kata Bahlil.

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik

Di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, pemerintah juga menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan. Hal ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Bahlil menyebut harga minyak dunia saat ini sudah mencapai kisaran US$78 hingga US$80 per barel. Angka tersebut berada di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.

Meski harga minyak global mengalami kenaikan, pemerintah memutuskan tidak melakukan penyesuaian harga untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Keputusan tersebut diambil setelah melalui rapat dan pertimbangan pemerintah.

Untuk BBM nonsubsidi, harga akan tetap mengikuti mekanisme pasar. Artinya, jika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, maka harga BBM nonsubsidi juga berpotensi ikut meningkat menyesuaikan kondisi pasar energi global.

Langkah pemerintah memperkuat cadangan energi melalui pembangunan storage minyak diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, Indonesia dapat lebih siap menghadapi ketidakpastian pasokan energi dunia.

Terkini