JAKARTA - Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat penyaluran rumah subsidi melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga 26 Februari 2026 mencapai 19.741 unit.
Realisasi ini menunjukkan tren positif, sekaligus memperlihatkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menjelaskan bahwa Januari tercatat 7.312 unit rumah disalurkan, sedangkan Februari meningkat menjadi 12.429 unit, atau naik 69,98 persen. Angka ini setara 5,64 persen dari target pemerintah tahun ini sebanyak 350.000 unit rumah. Lonjakan penyaluran menandai akselerasi implementasi FLPP yang mulai merata di berbagai daerah.
Distribusi Penyaluran Berdasarkan Provinsi
Secara geografis, Jawa Barat menjadi provinsi dengan realisasi tertinggi, yakni 4.902 unit rumah atau 24,83 persen dari total nasional. Posisi berikutnya ditempati Sulawesi Selatan dengan 1.838 unit, Jawa Tengah 1.633 unit, Banten 1.388 unit, dan Sumatera Selatan 1.208 unit. Data ini memperlihatkan konsentrasi pembangunan di wilayah dengan kebutuhan tinggi dan permintaan stabil.
Pada tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Bekasi memimpin dengan 1.322 unit rumah tersalurkan, disusul Kabupaten Bogor 835 unit, Kabupaten Karawang 683 unit, Kabupaten Maros 556 unit, dan Kabupaten Tangerang 542 unit. Distribusi ini menunjukkan penetrasi FLPP semakin merata ke daerah perkotaan maupun semi-urban.
Peran Perbankan dan Pengembang dalam Penyaluran
Dari sisi perbankan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menjadi kontributor terbesar dengan 10.759 unit rumah atau 54,55 persen dari total nasional. Sementara itu, Asosiasi Pengembang REI mencatat penyaluran terbanyak mencapai 8.272 unit rumah, setara 41,9 persen. Keterlibatan bank dan pengembang menjadi faktor penting dalam mempercepat penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Heru Pudyo Nugroho menekankan bahwa dukungan ekosistem perumahan dan sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program. “Dukungan penuh ekosistem perumahan dan sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam mengatasi backlog perumahan sekaligus meningkatkan kualitas kawasan permukiman secara berkelanjutan,” ujarnya.
Penambahan Kuota FLPP dan Anggaran Pendukung
Pemerintah resmi menambah kuota FLPP menjadi 350.000 unit rumah sepanjang 2026. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menuturkan bahwa tambahan anggaran dari Kementerian Keuangan untuk mendukung kuota baru mencapai Rp16,4 triliun. Total anggaran untuk mendukung 350.000 unit rumah FLPP mencapai Rp35 triliun, dengan Rp18 triliun merupakan dana eksisting untuk 220.000 unit, sedangkan sisanya Rp16,4 triliun dialokasikan untuk 130.000 unit tambahan.
Penambahan kuota ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk menjawab kebutuhan perumahan yang masih tinggi di berbagai daerah. Program FLPP diharapkan mampu menekan backlog rumah sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah.
Proyeksi Pertumbuhan Penyaluran FLPP ke Depan
Tren penyaluran FLPP hingga Februari 2026 menunjukkan akselerasi yang kuat. Jika peningkatan serupa dapat dipertahankan hingga akhir tahun, target 350.000 unit rumah kemungkinan besar akan tercapai. Monitoring realisasi bulanan menjadi strategi penting untuk menyesuaikan distribusi anggaran, mengevaluasi efektivitas program, dan mengantisipasi kendala di lapangan.
Kolaborasi antara BP Tapera, perbankan, pengembang, serta pemerintah daerah menjadi faktor kunci kesuksesan. Sinergi ini tidak hanya memastikan tersalurkannya rumah subsidi, tetapi juga mendorong pembentukan kawasan permukiman berkualitas dengan infrastruktur memadai, fasilitas publik, dan akses layanan masyarakat yang lebih baik.
Dampak Program FLPP terhadap Masyarakat
Selain meningkatkan akses rumah layak huni, program FLPP memberikan dampak ekonomi luas. Penyaluran rumah subsidi membuka lapangan pekerjaan baru di sektor konstruksi, memperkuat industri material bangunan, dan memutar roda ekonomi lokal. Dengan pemantauan dan evaluasi yang tepat, program ini mampu memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
Secara keseluruhan, pencapaian 19.741 unit rumah subsidi hingga Februari 2026 menunjukkan keberhasilan awal FLPP dalam mengatasi kebutuhan perumahan nasional. Dengan dukungan anggaran yang memadai, keterlibatan pengembang dan perbankan, serta koordinasi lintas sektor, penyaluran rumah subsidi diproyeksikan terus meningkat dan mendekati target tahunan.