JAKARTA - Indonesia tengah bersiap melakukan akselerasi besar dalam struktur ekonomi nasional melalui penguatan sektor industri pengolahan. Dalam upaya mempercepat transformasi dari negara pengekspor bahan mentah menjadi pemain kunci industri global, Pemerintah Indonesia secara resmi telah menetapkan 15 komoditas prioritas hilirisasi. Penetapan ini merupakan bagian dari skema besar pengembangan 28 komoditas yang akan digarap secara intensif dalam empat tahun ke depan, sesuai dengan mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Nikel sebagai Tulang Punggung Investasi Hilirisasi
Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Selasa, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, memaparkan arah kebijakan strategis ini. Dari daftar 15 komoditas yang diprioritaskan, nikel muncul sebagai primadona utama dengan nilai investasi yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp365 triliun. Angka ini mencerminkan besarnya kepercayaan pemerintah dan investor terhadap potensi nikel untuk menggerakkan roda ekonomi nasional.
Pengembangan ini tidak dilakukan secara acak. Pemerintah telah menyusun pemetaan lokasi yang komprehensif, menentukan target investor potensial, serta memilih teknologi yang paling relevan untuk memastikan hilirisasi nikel memberikan nilai tambah maksimal. Fokus pada nikel dianggap sebagai langkah paling rasional mengingat posisi tawar Indonesia yang sangat kuat di pasar internasional.
Dominasi Mutlak Indonesia di Pasar Nikel Global
Kekuatan Indonesia dalam rantai pasok nikel dunia bukan sekadar klaim sepihak. Data dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) tahun 2024 menunjukkan dominasi yang hampir mutlak. Indonesia tercatat menguasai 82% pangsa pasar global untuk mixed hydroxide precipitate (MHP), sebuah komponen vital dalam industri baterai kendaraan listrik. Selain itu, Indonesia juga menguasai 70% pasar nickel matte dan 81% pasar nickel pig iron (NPI).
Dominasi ini menjadi pondasi kuat bagi kebijakan hilirisasi yang tengah digenjot. Dengan mengontrol sebagian besar pasokan dunia, Indonesia memiliki daya tawar yang tinggi untuk menarik investasi di sektor turunan, sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan tidak lagi lari ke luar negeri dalam bentuk bijih mentah, melainkan dalam bentuk produk olahan bernilai tinggi.
Potret Sebaran Ekspor dan Pangsa Pasar Internasional
Melihat lebih dalam pada data ekspor tahun 2024, China masih menjadi mitra dagang paling dominan bagi produk nikel Indonesia. Untuk komoditas nickel matte, volume ekspor ke China mencapai 186,1 kiloton (kt), disusul oleh Jepang sebesar 90,4 kt. Negara-negara Eropa seperti Belanda dan Norwegia juga tercatat sebagai tujuan ekspor meski dalam volume yang lebih kecil. Secara total, nilai ekspor nickel matte Indonesia menyentuh angka US$2,97 miliar.
Sementara itu, pada produk feronikel dan NPI, volume ekspor menunjukkan angka yang lebih masif. China menyerap sebanyak 8.142,8 kt, diikuti oleh India, Korea Selatan, dan Belanda. Nilai total ekspor dari kategori ini mencapai US$12,60 miliar. Di sektor MHP, China kembali menjadi pasar utama dengan serapan 1.361 kt, memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar US$3,44 miliar. Tingginya angka-angka ini membuktikan bahwa kebijakan hilirisasi secara efektif telah meningkatkan devisa negara melalui peningkatan kualitas produk ekspor.
Memperkuat Tata Kelola dan Sinergi Lintas Sektoral
Menteri Rosan Roeslani menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi di masa depan sangat bergantung pada penguatan kelembagaan dan koordinasi. Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat mekanisme koordinasi lintas kementerian dan lembaga (K/L) serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada hambatan birokrasi yang mengganggu realisasi investasi di lapangan.
Selain aspek koordinasi, pemerintah juga fokus pada perbaikan tata kelola investasi strategis. Hal ini mencakup pengawalan ketat terhadap proyek-proyek prioritas guna memastikan bahwa setiap investasi yang masuk selaras dengan target pembangunan jangka panjang. Dengan tata kelola yang lebih transparan dan efisien, diharapkan percepatan realisasi investasi dapat tercapai sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam RPJMN.
Visi Jangka Panjang dan Posisi Indonesia di Rantai Pasok
Pencapaian volume ekspor dan penguasaan pangsa pasar yang signifikan pada tahun 2024 merupakan bukti awal keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia. Hilirisasi bukan hanya tentang mengolah barang, tetapi tentang membangun ekosistem industri yang mandiri dan kompetitif di tingkat dunia. Dengan menempatkan 15 komoditas dalam daftar prioritas, pemerintah sedang membangun benteng ekonomi yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah dunia.
Langkah berani ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Melalui sinergi antara kebijakan yang konsisten, penguasaan teknologi, dan pengelolaan sumber daya alam yang bijak, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat industri hilirisasi terkemuka di kawasan Asia dan dunia.