Kementerian ESDM Hitung Ulang Harga Keekonomian Pertamax
JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah mengalkulasi ulang harga keekonomian yang tepat untuk BBM Pertamax menyusul penurunan harga minyak mentah di pasar global.
Anjloknya harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026) terjadi seiring langkah Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mulai menghentikan aksi saling serang.
Pada penutupan perdagangan tersebut, harga minyak mentah Brent merosot 11,3 persen ke angka US$85,87 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 7 persen ke posisi US$82,61 per barel.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax memang berpatokan pada mekanisme pasar, sehingga pemerintah masih mencermati dinamika geopolitik internasional.
Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa fluktuasi global masih membayangi harga minyak mentah yang saat ini dinilai masih berada di tingkatan cukup tinggi.
Hal tersebut dikarenakan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) pada APBN 2026 telah ditetapkan sebesar US$70 per barel, sehingga hitungan keekonomian Pertamax harus dikaji kembali secara matang.
"Jadi nanti akan dihitung BPP [biaya pokok penyediaan]-nya Pertamina plus itu keuntungan. Jadi nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomian kira-kira bagaimana," kata Yuliot Tanjung ditemui di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Selasa (28/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meskipun demikian, Yuliot Tanjung membuka peluang adanya penurunan harga BBM nonsubsidi di tingkat domestik apabila tren penurunan harga minyak mentah dunia terus berlanjut.
"Termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," tutur Yuliot Tanjung sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk bulan Juli 2026, harga jual Pertamax dipatok sebesar Rp16.250 per liter, belum mengalami perubahan dari bulan sebelumnya namun masih relatif lebih tinggi dibanding posisi Mei 2026 yang sebesar Rp12.300 per liter.
Meredanya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama melandainya harga minyak dunia, di mana AS memutuskan menyetop rentetan serangan ke Iran.
Iran sendiri memberikan sinyal akan menahan diri dari tindakan penyerangan selama pihak AS juga tidak melakukan provokasi militer.
Berdasarkan laporan media CBS, langkah penghentian penyerangan tersebut diambil demi menjaga kelancaran agenda diplomasi langsung antara Teheran dan Oman.
Perwakilan Iran dan Oman telah menggelar beberapa kali perundingan tingkat wakil menteri luar negeri di Teheran pada 24-25 Juli 2026.
Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak membicarakan regulasi dasar serta skema praktis untuk menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pihak Kementerian Luar Negeri Iran pun mengklaim terdapat perkembangan positif dalam pembahasan navigasi Selat Hormuz, kendati kondisi keamanan di perairan tersebut belum berubah signifikan.
Sementara itu, laporan Axios pada Sabtu (25/7/2026) menyebutkan bahwa pihak militer AS tetap menyusun rencana antisipasi untuk operasi militer balasan berskala besar terhadap Iran walau belum mendapat instruksi resmi dari Presiden Donald Trump.
Sumber tersebut menambahkan bahwa Presiden Donald Trump telah menginstruksikan penghentian serangan susulan pada Jumat (24/7/2026) guna merampungkan rangkaian aksi militer selama 13 hari berturut-turut.