Breaking

Harga BBM Pertamax dan Lainnya Berpotensi Turun Agustus 2026? Ini Kata ESDM

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 28 Juli 2026
Harga BBM Pertamax dan Lainnya Berpotensi Turun Agustus 2026? Ini Kata ESDM
Ilustrasi bbm non subsidi (foto : NET)

JAKARTA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax menyesuaikan pergerakan harga pasar internasional. Hal itu membuatnya belum bisa memastikan kemungkinan adanya penurunan harga dalam waktu dekat.

Sebab, penetapan harga Pertamax dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar global akibat situasi geopolitik. Selain itu, harga minyak di pasar internasional saat ini justru cenderung mengalami peningkatan.

"Untuk harga Pertamax ini kan kami mengikuti harga pasar, harga pasar ini kan kalau kami lihat kondisi secara geopolitik, jadi kan juga uncertainty-nya cukup tinggi. Jadi justru di pasar internasional kan harga naik," ujarnya ditemui di Jakarta, Selasa (28/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menuturkan, perhitungan harga Pertamax nantinya mengacu pada biaya pokok penyediaan (BPP) Pertamina yang ditambahkan dengan margin keuntungan.

Di samping itu, Kementerian ESDM bakal terus memantau pergerakan harga minyak dunia serta mengevaluasi harga keekonomian BBM. Pertamina dapat melakukan penyesuaian harga jika rata-rata harga pasar menunjukkan penurunan.

"Jadi nanti kami dari ESDM itu nanti akan mencoba melihat ya kira-kira harga yang ini keekonomian ya kira-kira bagaimana ya termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.05 WIB, harga jenis Brent berada di angka US$87,86 per barel atau melemah 0,57 persen dari penutupan sebelumnya di level US$88,36 per barel. Adapun West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 0,77 persen ke level US$81,97 per barel dibanding posisi sebelumnya US$82,61 per barel.

Penurunan ini melanjutkan tren koreksi setelah Brent sempat bertengger di US$96,78 per barel pada 24 Juli. Dalam rentang dua hari perdagangan terakhir, Brent melemah hampir 9 persen dan WTI merosot lebih dari 8 persen.

Kondisi tersebut dipicu oleh optimisme pasar terkait terbukanya peluang penyelesaian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Senin, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dialog dengan Teheran berlangsung dengan baik, meski opsi tindakan militer tetap terbuka bila perundingan tidak membuahkan hasil.

Sinyal positif dari jalur diplomasi ini meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Walau begitu, ancaman gangguan stabilitas di area tersebut belum sepenuhnya reda. Kelompok Houthi di Yaman diperkirakan masih berpotensi menghambat jalur pelayaran vital Bab el-Mandeb di Laut Merah saat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz belum pulih.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua