Breaking

Harga Minyak Turun 10 Persen, Saham Migas Berbalik Loyo

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 27 Juli 2026
Harga Minyak Turun 10 Persen, Saham Migas Berbalik Loyo
Ilustrasi saham migas (foto : NET)

JAKARTA – Sejumlah saham migas mengalami penurunan akibat meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling menunda serangan.

Harga minyak jenis Brent berada di posisi US$90,24 per barel pada Senin (27/7/2026) berdasarkan data Bloomberg pukul 15:40 WIB, atau turun 10,38% point–to–point.

Penurunan harga acuan minyak mentah di pasar global tersebut memberi sentimen negatif bagi saham–saham energi, khususnya emiten migas.

Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melemah 3,01% ke posisi Rp1.285/saham setelah sempat menyentuh level Rp1.250/saham.

Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga terkoreksi 2,75% ke posisi Rp1.410/saham dengan titik terendah Rp1.375/saham.

Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) turut tertekan 1,51% ke posisi Rp655/saham pada perdagangan siang ini.

Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) melorot 1,35% ke level Rp146/saham setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp140/saham.

Konflik di Timur Tengah mulai mereda seiring langkah AS menghentikan serangan sementara ke Iran sejak Jumat malam.

Angkatan bersenjata Iran menyampaikan bahwa Teheran turut menangguhkan aksi balasan mereka.

Pasar merespons positif jeda serangan tersebut setelah AS melancarkan aksi militer terhadap Iran selama 13 hari.

Jeda ini terjadi saat pejabat Iran dan Oman berunding mengenai pelayaran di Selat Hormuz guna menghindari gangguan jalur minyak dunia.

“Penyelesaian konflik akan menjadi perkembangan yang positif,” papar Shoji Hirakawa, Kepala Strategi Global di Tokai Tokyo Intelligence Lab sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, jeda serangan tersebut membuka harapan kedua belah pihak untuk menuju meja perundingan.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia menyatakan upaya damai baru antara AS dan Iran yang diusahakan Pakistan menjadi sentimen pasar hari ini.

“Seperti diketahui pada awal pekan lalu, Donald Trump mengatakan bahwa dirinya akan segera membuat keputusan apakah Amerika melakukan serangan besar terhadap Iran pasca konflik meluas ke laut merah,” jelas CGS International Sekuritas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kantor berita New York Times melaporkan Donald Trump telah berdiskusi dengan para penasihat utama dan pejabat kabinet terkait kelanjutan konflik.

Namun, Panin Sekuritas menilai risiko geopolitik masih tinggi setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu.

“Sehingga ketidakpastian terhadap pasokan energi global tetap tinggi,” sebut Panin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua