Breaking

Negara Asia Tengah Nikmati Lonjakan Harga Emas US$4.000 per Troi Ons

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 27 Juli 2026
Negara Asia Tengah Nikmati Lonjakan Harga Emas US$4.000 per Troi Ons
Ilustrasi Emas (foto : NET)

JAKARTA – Bertahannya kenaikan harga emas di kisaran US$4.000 per troi ons memberikan dampak positif yang signifikan bagi negara-negara di wilayah Asia Tengah. Lonjakan harga logam mulia ini tidak hanya mendongkrak penghasilan para pekerja serta perusahaan tambang, melainkan juga memperkokoh cadangan devisa, penerimaan pajak, dan kemampuan pemerintah dalam mengakses pembiayaan.

Sebagaimana dilaporkan OilPrice, wilayah Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, serta Tajikistan menjadi pihak yang merasakan manfaat terbesar dari kenaikan harga emas ini. Komoditas emas bagi negara-negara tersebut menempati posisi penting sebagai barang ekspor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas keuangan negara.

Nilai pengiriman ekspor Uzbekistan mengukir rekor US$33 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar US$9,9 miliar atau hampir 30 persen di antaranya disumbang oleh ekspor emas. Pada saat yang sama, emas tetap menjadi barang ekspor paling bernilai bagi Kyrgyzstan dan Tajikistan, sedangkan di Kazakhstan logam mulia ini menduduki peringkat kedua komoditas ekspor terbesar setelah minyak mentah.

Penguatan harga emas turut mengerek nilai cadangan devisa bank sentral di berbagai negara kawasan tersebut. Ekonom Eurasia Group, Alberto Galdini, menyebutkan bahwa bertambahnya cadangan devisa ini memperkuat tingkat kepercayaan investor sekaligus menekan biaya pinjaman pemerintah di pasar global.

Fenomena peningkatan ini salah satunya terjadi di Kyrgyzstan, di mana cadangan devisanya melambung dari US$5,1 miliar pada akhir 2024 menjadi US$8,6 miliar, dengan porsi sekitar 75 persen disimpan dalam bentuk emas. Kelonggaran cadangan devisa ini memperluas ruang fiskal pemerintah, sehingga Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan dapat memanfaatkan situasi ini untuk meraih pembiayaan dengan biaya lebih terjangkau demi mendorong pembangunan ekonomi.

" Tidak ada bahaya bagi perekonomian. Kami bisa melunasi utang luar negeri dalam satu hari," kata Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov dalam sidang parlemen pada Desember lalu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain memperkokoh kondisi keuangan negara, peningkatan harga emas juga mendorong naiknya penerimaan dari sektor pajak. Navoi Mining and Metallurgical Co. (NMMC), perusahaan tambang milik pemerintah Uzbekistan, mencatatkan pembayaran pajak sebesar US$2,64 miliar pada 2025, yang menyumbang hampir 12 persen dari total pendapatan pajak negara sebesar US$22,3 miliar serta tumbuh dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Sektor swasta pertambangan di Kazakhstan pun turut mengantongi lonjakan keuntungan. AltynGold selaku pengelola tambang Sekisovskoye mencatat kenaikan volume penjualan emas sebesar 29 persen pada kuartal I-2026, dengan raihan pendapatan melesat 122 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kazakhstan menyesuaikan tarif pajak ekstraksi emas menjadi sistem progresif hingga 11 persen untuk produsen skala besar sejak awal 2026, menggantikan tarif tunggal sebelumnya yang sebesar 7,5 persen. Manfaat kenaikan harga emas ini turut menyasar penambang skala kecil di Uzbekistan sejak legalisasi pertambangan rakyat diberlakukan pada 2018 melalui lelang konsesi oleh pemerintah.

"Kami berupaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik; kami bisa membelikan pakaian yang bagus dan makanan yang lebih bergizi untuk anak-anak, serta berobat di rumah sakit swasta," ujar Doniyor, pengelola alat berat di salah satu tambang rakyat di wilayah Navoi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, tambahan penghasilan yang diperoleh belum sepenuhnya menutup kenaikan biaya hidup harian. Gulum, seorang operator ekskavator berusia 48 tahun yang kembali dari Rusia untuk bekerja di Uzbekistan, mengungkapkan bahwa penghasilannya meningkat dari US$500 menjadi US$650 per bulan dalam kurun setahun terakhir.

"Dimakan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, listrik, gas, dan air,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping keuntungan ekonomi, reli harga emas ini juga membawa tantangan baru bagi kawasan tersebut. Tingginya minat investor luar negeri, terutama pelaku usaha dari China, menimbulkan kekhawatiran terkait dominasi asing pada sektor pertambangan lokal.

Pemerintah Uzbekistan juga memperketat pengawasan terhadap praktik penambangan tanpa izin yang marak ditemukan di beberapa daerah penghasil emas. Ketergantungan tinggi pada komoditas emas ini menyimpan risiko bagi kestabilan ekonomi kawasan Asia Tengah.

Apabila terjadi penurunan harga emas secara drastis, performa ekspor, penerimaan kas negara, hingga cadangan devisa berpotensi tertekan. Meski begitu, Alberto Galdini mengindikasikan bahwa risiko koreksi harga emas dalam waktu dekat masih tergolong minim lantaran biaya produksi yang merambat naik serta tingginya permintaan berkelanjutan dari bank sentral dunia.

Namun, ia menegaskan bahwa melesatnya harga emas belum memicu pergeseran mendasar pada struktur ekonomi kawasan.

"Aspek-aspek mendasarnya tidak berubah," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bagi penambang seperti Doniyor, kenaikan harga emas memang memberikan peluang pendapatan yang lebih baik untuk masa depan. Meski demikian, dampak positif tersebut belum sepenuhnya merubah tatanan ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan sekitar tambang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua