Breaking

Proyeksi BI Rate Juli 2026 Antara Stabilitas Rupiah dan Sektor Riil

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 22 Juli 2026
Proyeksi BI Rate Juli 2026 Antara Stabilitas Rupiah dan Sektor Riil
Ilustrasi gedung bi (sumber foto : NET)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juli 2026 pada hari ini, Rabu (22/7/2026) siang. Otoritas moneter sedang berada di persimpangan antara memilih jalan stabilitas nilai tukar rupiah dan harga atau menahan beban pada sektor riil.

Pandangan para ekonom juga terbelah menjadi dua kelompok. Sebagian memproyeksikan bank sentral akan mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) hingga menjadi 6 persen, sementara kelompok lainnya meyakini BI akan menahan laju pengetatan pada level 5,75 persen.

Sebanyak 18 ekonom yang tergabung dalam BIG Consensus Insights oleh DataIndonesia menunjukkan perbedaan estimasi ini. Sebanyak 10 ekonom atau analis (55,56 persen) memperkirakan kenaikan BI Rate, sedangkan 8 ekonom atau analis (44,44 persen) memproyeksikan suku bunga bertahan.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan tersebut. Menurut analisisnya, peluang BI menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen sangat terbuka akibat memburuknya ekspektasi inflasi mendatang.

Ancaman cuaca ekstrem El Nino yang mendorong lonjakan inflasi pangan bergejolak (volatile food) menjadi salah satu penyebab utamanya. Pada Juni 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi volatile food menyentuh 5,58 persen secara tahunan (year on year/YoY), melewati batas target inflasi umum di kisaran 2±1 persen.

Di sisi lain, tekanan dari pasar global masih berlangsung seiring ekspektasi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang diprediksi menaikkan suku bunga (Fed Funds Rate) minimal 25 bps pada paruh kedua tahun 2026.

"BI Rate sebenarnya sudah lagging behind [tertinggal] dari indikator suku bunga lain seperti SRBI [Sekuritas Rupiah Bank Indonesia] yang sudah lebih tinggi, dan juga Indonia yang konsisten berada di atas level 6% selama dua minggu terakhir," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan Indonia (Indonesia Overnight Index Average) yang menjauhi BI Rate menandakan bahwa likuiditas pasar uang antarbank sedang ketat. Oleh sebab itu, penyesuaian nilai BI Rate dinilai sebagai respon pasar yang masuk akal.

Berbeda pandangan, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memprediksi otoritas moneter bakal mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Pertimbangan ini berpatokan pada tindakan BI yang telah menaikkan BI Rate sebesar 100 bps dalam dua bulan terakhir.

Menurut Josua, penyesuaian kebijakan moneter memerlukan jeda waktu untuk berdampak. BI dinilai perlu memberi ruang transmisi demi melihat dampak pengetatan sebelumnya terhadap stabilitas rupiah, inflasi, yield Surat Berharga Negara (SBN), dan penyaluran kredit.

Meskipun demikian, Josua menekankan bahwa mempertahankan suku bunga tidak menandakan BI beralih ke kebijakan longgar.

"Menahan BI-Rate di 5,75% tetap bisa dibaca sebagai sikap ketat apabila disertai komunikasi yang tegas bahwa BI siap menaikkan suku bunga lagi jika rupiah kembali tertekan. Tekanan inflasi pada Juni yang naik menjadi 3,34% YoY lebih banyak berasal dari sisi biaya, seperti kenaikan biaya input impor, BBM nonsubsidi, dan tarif angkutan udara, bukan lonjakan permintaan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Josua menambahkan, kenaikan suku bunga lanjutan tidak secara otomatis menyelesaikan masalah inflasi yang bersumber dari pasokan. Sebaliknya, pengetatan agresif berpotensi memperberat biaya dana (cost of fund) perbankan, meningkatkan bunga kredit baru, menekan pasar SBN, dan memperbesar beban pembiayaan pemerintah.

Selain itu, Josua menyoroti struktur aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri. Walaupun total arus portofolio masuk mencapai US$3,89 miliar pada Juni, mayoritas aliran dana tersebut bertumpu pada instrumen jangka pendek SRBI sebesar US$9,03 miliar sejak awal tahun (year to date/YtD), sedangkan pasar saham mencatatkan modal keluar (capital outflow) senilai US$4,19 miliar.

"Untuk menjaga tren aliran modal masuk, kebijakan BI saja tidak cukup. Pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dan menjaga defisit tetap kredibel," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senada dengan hal itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuan pada RDG hari ini. Riefky menyoroti tingginya kerentanan eksternal pascadefisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026.

Defisit tersebut menjadi peringatan lantaran merupakan defisit perdana setelah Indonesia mengalami surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Laju pertumbuhan impor terus mendahului ekspor di tengah kondisi pelemahan ekonomi global.

Mengenai pergerakan mata uang, Riefky menyebutkan bahwa rupiah mengalami depresiasi cukup dalam hingga menyentuh Rp18.060 per dolar AS atau melemah 7,29 persen YtD.

"Mengingat tekanan inflasi sebagian besar masih didorong oleh sisi penawaran, pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin hanya akan memberikan dukungan yang semakin berkurang terhadap rupiah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jika dipaksakan naik, Riefky mengkhawatirkan kebijakan pengetatan moneter lanjutan justru menekan ritme aktivitas ekonomi domestik yang sedang berupaya menjaga pemulihan. Karena itu, mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen dipandang sebagai opsi paling rasional untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua