BEI Awasi Ketat 3 Saham Akibat Lonjakan dan Penurunan Harga Tak Wajar
JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawasi secara ketat pola pergerakan Unusual Market Activity (UMA) terhadap tiga saham mulai Senin (27/7/2026). Pengawasan ini dilakukan menyusul adanya kenaikan harga saham yang tidak biasa pada emiten tersebut.
Tiga saham yang dimaksud yakni PT Lancartama Sejati Tbk. (TAMA), PT Era Media Sejahtera Tbk. (DOOH), dan PT MD Entertainment Tbk. (FILM).
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, pergerakan saham-saham tersebut berada di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Langkah ini diambil guna memberikan perlindungan bagi para investor, khususnya pemegang saham dari ketiga emiten itu.
"Pengumuman Unusual Market Activity (UMA) tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham TAMA tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Data pasar menunjukkan saham TAMA melonjak 24,51% ke posisi Rp254 per saham pada perdagangan kemarin. Selain itu, saham TAMA melesat 77.62% dalam kurun waktu satu bulan, serta melonjak 418.37% secara year to date.
Melalui pengumuman ini, investor diimbau memperhatikan konfirmasi emiten, mencermati kinerja serta keterbukaan informasi, mengkaji ulang rencana corporate action yang belum disetujui RUPS, dan mempertimbangkan potensi risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Senada dengan TAMA, BEI turut memberi perhatian khusus pada saham DOOH lantaran tingginya volatilitas transaksi yang dinilai tidak wajar.
Pada perdagangan kemarin, saham perusahaan digital tersebut menguat 21,84% ke level Rp212. Saham DOOH tercatat naik 96.30% dalam periode bulanan, namun melemah 27.40% sepanjang year to date (YTD).
Sementara itu, saham FILM juga masuk dalam pengawasan BEI akibat aktivitas transaksi yang tidak biasa. Sepanjang perdagangan kemarin, emiten rumah produksi ini melemah 1,89% ke posisi Rp1.040 per saham, turun 35.40% dalam sebulan terakhir, serta anjlok 91.56% secara year to date.