JAKARTA – Harga minyak dunia melanjutkan penurunan pada Selasa (28/7/2026) lebih dari 1 dollar AS per barel di tengah harapan tercapainya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sebelumnya mengganggu arus pasokan energi global secara signifikan.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,47 dollar AS atau 1,66 persen menjadi 86,89 dollar AS per barel pada pukul 10.26 WIB, yang menjadi level terendah sejak 20 Juli sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,45 dollar AS atau 1,76 persen menjadi 81,16 dollar AS per barel yang juga menjadi level terendah sejak 20 Juli sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kedua kontrak tersebut sebelumnya anjlok sekitar 8 persen pada perdagangan sebelumnya setelah AS secara tiba-tiba menghentikan kampanye serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan.
Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan masih ada peluang tercapainya penyelesaian konflik sebagaimana dilansir dari berita sumber. Namun, ia menegaskan serangan AS akan kembali dilanjutkan jika perundingan gagal, sementara Iran juga menyampaikan peringatan serupa terkait kemungkinan pembalasan.
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan untuk sementara waktu pasar merasa lega karena telah ditemukan jalan keluar untuk meredakan konflik sehingga tekanan terhadap harga minyak berkurang dan kekhawatiran mengenai serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi ikut mereda sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Namun, situasinya masih sangat dinamis," tulis Sycamore dalam catatan kepada kliennya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menteri Luar Negeri terpilih Yaman dari pemerintahan yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, Afrah al-Zouba, mengatakan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman berupaya meniru strategi Iran dalam mengendalikan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dengan menerapkannya di Bab el-Mandeb sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Analis Marex, Edward Meir, menilai masih dipertanyakan apakah kelompok Houthi memiliki kemampuan militer untuk memberlakukan blokade secara menyeluruh, terutama karena Arab Saudi diperkirakan akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Kendati demikian, tidak diragukan lagi bahwa lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz telah menurun secara signifikan," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meir menambahkan, salah satu alasan harga minyak tidak melonjak lebih tinggi adalah karena pelemahan permintaan energi yang sedang terjadi, terutama di kawasan Asia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Faktor lain yang turut menekan harga minyak adalah kembali beroperasinya terminal Laut Hitam milik Caspian Pipeline Consortium di pesisir Rusia setelah sempat menghentikan pemuatan minyak selama satu pekan akibat serangan drone Ukraina.
Meski demikian, para analis mengingatkan risiko gangguan pasokan yang meluas hingga kawasan Laut Merah masih tetap tinggi.
Peringatan tersebut muncul setelah Arab Saudi mengumumkan berhasil menembak jatuh sejumlah drone yang menargetkan fasilitas minyak, termasuk di ibu kota Riyadh. Arab Saudi menyatakan drone tersebut diluncurkan dari Irak oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran, dan menegaskan pihak kami berhak memberikan respons.
Secara terpisah, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang jaringan pipa East-West yang mengalirkan minyak menuju pelabuhan utama Arab Saudi di Yanbu, Laut Merah, sebagai balasan atas serangan drone Arab Saudi.
Analis Barclays dalam laporannya pada Senin menyatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada pada level yang rendah sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada pekan yang berakhir 24 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz rata-rata hanya mencapai 2,9 juta barel per hari, turun dibandingkan 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Di sisi lain, survei awal Reuters pada Senin menunjukkan persediaan minyak mentah AS kemungkinan kembali menurun pada pekan lalu, seiring turunnya stok bensin. Sebaliknya, persediaan produk sulingan (distillate) diperkirakan meningkat.