Penambang Nikel Yakin Permintaan EV dan Baja Dorong Pasar

Ilustrasi Nikel tetap menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 28 Juli 2026 | 22:45:29 WIB

JAKARTA - Pelaku industri nikel tetap optimistis terhadap prospek komoditas ini dalam beberapa tahun ke depan meski harga masih tertekan.

Dikutip dari berita sumber, Head of Sustainability Nickel Industries Muchtazar menilai nikel tetap menjanjikan karena menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik (EV) dan baja nirkarat. “Sebagian besar penggunaan nikel, sekitar 65–70 persen, masih untuk industri baja. Hingga saat ini belum ada material yang mampu menggantikan fungsi nikel dalam paduan logam karena kemampuannya meningkatkan ketahanan terhadap korosi,” ujarnya.

Permintaan baja diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, industri otomotif, hingga sektor pertahanan. Di sisi lain, kebutuhan nikel kelas satu untuk baterai EV juga diproyeksikan bertambah.

Harga nikel saat ini berada di kisaran USD16.000–17.000 per ton, turun jauh dari puncaknya sekitar USD40.000 per ton pada awal dekade 2020-an. Lonjakan kala itu dipicu ekspektasi transisi cepat menuju EV berbasis baterai nikel. Namun, realisasi adopsi EV tidak secepat perkiraan, ditambah dampak pandemi Covid-19, sehingga terjadi oversupply.

Meski demikian, Muchtazar optimistis kondisi ini tidak permanen. “Dalam tiga sampai lima tahun ke depan penggunaan nikel, baik dari industri baterai maupun baja, akan meningkat. Hal itu akan menciptakan keseimbangan baru yang mendorong harga nikel menjadi lebih baik dibandingkan saat ini, meskipun kemungkinan tidak kembali ke level lima tahun lalu,” katanya.

Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informasi umum mengenai prospek industri nikel, bukan ajakan investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pihak.

Reporter: Ibtihal