Lonjakan Energi Global Tekan Investasi AI Big Tech USD725 Miliar
JAKARTA - Lonjakan harga minyak dunia yang sempat mendorong Brent kembali menyentuh USD100 per barel dinilai dapat mengancam investasi kecerdasan buatan (AI) perusahaan teknologi raksasa. Tahun ini belanja AI diperkirakan mencapai USD725 miliar, namun risiko gejolak pasar semakin besar.
Dikutip dari berita sumber, meski harga minyak mulai turun setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang, ketidakpastian perang di Timur Tengah masih membayangi pasar. Kondisi ini diperparah oleh ekspansi pusat data AI yang meningkatkan permintaan energi global.
Alphabet, induk Google, melaporkan arus kas negatif sekitar USD6 miliar pada kuartal II akibat besarnya belanja AI. Hal ini memicu kekhawatiran investor terhadap biaya pengembangan teknologi yang belum sebanding dengan imbal hasil.
Gangguan pasokan energi juga meningkat setelah kelompok Houthi memperluas serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah dan mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Penutupan Selat Hormuz serta serangan drone Ukraina terhadap jaringan Caspian Pipeline Consortium turut mengurangi produksi minyak Kazakhstan. Gabungan gangguan tersebut diperkirakan memengaruhi hingga seperempat pasokan minyak dunia.
Kepala Strategi Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai konflik kini memasuki fase lebih berbahaya dan berpotensi mengubah pandangan pasar. Harga energi yang lebih tinggi diperkirakan meningkatkan inflasi karena biaya minyak dan gas memengaruhi hampir seluruh rantai produksi, termasuk pembangunan pusat data AI. Kondisi ini menekan prospek keuntungan perusahaan teknologi dalam waktu dekat.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informasi umum mengenai harga energi dan investasi teknologi, bukan ajakan investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pihak.