Saham GOTO dan CPIN Jadi Sorotan, Bobot MSCI Indonesia Naik
JAKARTA - Posisi Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam satu dekade. Bobot Indonesia kini stabil di kisaran 0,5 persen, naik dari titik terendah 0,4 persen pada Juni 2026.
Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin menyebut stabilisasi ini didorong oleh kinerja pasar saham Indonesia yang membaik. Sepanjang Juli 2026, MSCI Indonesia menguat 12,5 persen, berbanding terbalik dengan MSCI Emerging Markets yang terkoreksi sekitar 4 persen.
“Kondisi ini terjadi seiring meredanya penguatan saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI) di pasar global serta terkoreksinya pasar saham Korea Selatan sebesar 21,6 persen secara MTD,” tulis Wilbert dalam risetnya.
Perbaikan juga tercermin dari aliran dana asing. Arus keluar selama Juli menyusut menjadi sekitar Rp4,1 triliun, jauh lebih rendah dibanding rata-rata outflow bulanan Rp12,3 triliun pada semester I 2026.
Meski demikian, Wilbert menilai pemulihan bobot Indonesia masih tahap awal. Kenaikan signifikan baru dapat terjadi jika MSCI mencabut kebijakan freeze terhadap penambahan maupun kenaikan status konstituen indeks.
Perhatian pasar kini tertuju pada tinjauan kuartalan MSCI yang diumumkan 13 Agustus 2026 dan berlaku efektif 31 Agustus 2026. Mirae Asset memperkirakan tidak ada saham baru masuk indeks karena kebijakan freeze masih berlaku. Sebaliknya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diperkirakan turun status setelah kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float berada di bawah ambang batas akibat pelemahan harga saham 22,5 persen sejak Mei.
Di sisi lain, nasib PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih jadi tanda tanya. Wilbert menjelaskan secara kriteria umum GOTO masih memenuhi persyaratan likuiditas MSCI, dengan rasio ATVR tiga bulan 41,3 persen dan 12 bulan 72,8 persen, jauh di atas ambang batas.
“Kami menilai peluang GOTO tetap bertahan sedikit lebih besar daripada sekadar 50:50, tetapi belum cukup kuat untuk memastikan saham tersebut aman dari penghapusan,” ujar Wilbert.
Mirae Asset memperkirakan perpindahan status CPIN berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp500 miliar atau 150 juta saham. Jika GOTO juga keluar, tambahan arus keluar diperkirakan Rp1 triliun atau 20 miliar saham.
“Nilai tersebut relatif kecil dibandingkan kenaikan kapitalisasi pasar Indonesia sepanjang Juli sehingga potensi tekanan dari arus keluar dana pasif diperkirakan dapat diserap pasar,” tulis Wilbert.
Ke depan, Mirae Asset mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026. Wilbert menilai kondisi pasar mulai membaik dengan bobot Indonesia stabil di level rendah, komposisi indeks semakin bersih, serta bergesernya kepemimpinan pasar negara berkembang dari saham-saham bertema AI.
Karena itu, Mirae Asset merekomendasikan investor memanfaatkan potensi pelemahan pasar akibat penyesuaian indeks MSCI efektif 31 Agustus sebagai momentum akumulasi. Namun kepastian pemulihan lebih kuat masih bergantung pada keputusan MSCI terkait pencabutan kebijakan freeze yang diperkirakan jelas pada peninjauan November mendatang.