Breaking

PER Rendah, Cermati 10 Saham LQ45 dan Target Harganya

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 18 September 2026
PER Rendah, Cermati 10 Saham LQ45 dan Target Harganya
Ilustrasi daftar saham LQ45 dengan PER rendah yang menjadi perhatian investor di tengah pemulihan IHSG (sumber foto: NET)

JAKARTA - Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 tercatat memiliki valuasi rendah berdasarkan rasio price to earnings ratio (PER). Rasio tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan investor dalam mencermati valuasi saham.

Data Pusat Data Kontan per Kamis (17/9/2026) menunjukkan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menjadi saham dengan PER terendah dalam daftar 10 saham LQ45 yang disorot.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 0,40% ke level 6.462,43 pada akhir perdagangan Kamis (17/9/2026), setelah melemah selama enam hari perdagangan berturut-turut.

Berikut daftar 10 saham LQ45 dengan PER rendah berdasarkan data Pusat Data Kontan:

  • BBTN — 3,42 kali
  • INKP — 3,59 kali
  • NCKL — 5,11 kali
  • JPFA — 5,50 kali
  • AADI — 5,69 kali
  • PGAS — 5,89 kali
  • ANTM — 6,17 kali
  • BBNI — 6,48 kali
  • BMRI — 6,67 kali
  • INDF — 6,67 kali

PER merupakan rasio yang membandingkan harga saham dengan laba per saham atau earnings per share (EPS).

Rasio tersebut kerap digunakan untuk melihat seberapa besar harga yang dibayarkan investor dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan. Meski demikian, PER rendah tidak secara otomatis menunjukkan saham berada dalam kondisi undervalued.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menjelaskan, PER rendah memang dapat menjadi indikasi bahwa saham relatif murah dibandingkan laba yang dihasilkan perusahaan.

Namun, investor perlu membaca rasio tersebut bersama dengan prospek pertumbuhan laba, kualitas fundamental, siklus industri, risiko bisnis, serta valuasi historis dan peer group.

"Namun, PER yang rendah juga dapat mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba ke depan atau adanya risiko tertentu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam daftar tersebut, BBTN dan INKP tercatat memiliki PER rendah. Materi juga menyebut INKP memiliki price to book value (PBV) sekitar 0,37 kali per 16 September 2026.

Menurut Nafan, momentum rebound IHSG dapat membuka peluang re-rating bagi saham dengan fundamental solid apabila pertumbuhan laba tetap terjaga dan sentimen pasar membaik.

Meski demikian, investor tidak disarankan menjadikan PER sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.

Apalagi, pada 16 September 2026 masih terjadi net foreign sell sekitar Rp624,7 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan risiko tekanan akibat arus dana asing masih perlu diperhatikan.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, PER rendah juga belum otomatis berarti undervalued.

"Bisa karena harga saham sudah terkoreksi terlalu dalam sementara fundamental masih solid, tetapi bisa juga karena pasar sedang mengantisipasi penurunan laba ke depan atau risiko sektoral tertentu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Elandry, investor perlu membedakan saham yang genuinely undervalued dengan value trap.

Dalam kondisi pasar saat ini, valuasi murah dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk melakukan akumulasi secara selektif, terutama pada emiten yang masih mencatatkan pertumbuhan laba, memiliki arus kas kuat, dan neraca sehat.

Dari 10 saham tersebut, Elandry menyoroti lima saham, yakni BBTN, BMRI, BBNI, ANTM, dan JPFA.

Untuk sektor perbankan, BBTN dinilai menarik karena pertumbuhan laba masih cukup kuat. Namun, tekanan net interest margin (NIM) dan cost of fund tetap perlu diwaspadai.

BMRI dan BBNI juga masih ditopang pertumbuhan laba serta penyaluran kredit. Risiko yang perlu dipantau mencakup likuiditas dan margin.

Elandry menilai karakter bisnis perbankan perlu dianalisis menggunakan metrik yang sesuai, bukan hanya PER.

Di sektor komoditas, ANTM dinilai relatif menarik karena memiliki eksposur terhadap emas dan nikel. Portofolio tersebut memberikan sumber bisnis yang lebih beragam dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap satu komoditas.

Sementara itu, AADI masih ditopang fundamental industri batu bara. Namun, investor perlu memperhatikan entry point dan risiko normalisasi harga komoditas.

Untuk JPFA, perbaikan margin bisnis poultry menjadi salah satu faktor yang dicermati. Risiko oversupply tetap perlu diperhatikan.

Elandry menegaskan PER sebaiknya tidak digunakan sebagai metrik tunggal dalam menilai valuasi saham.

Untuk saham perbankan, rasio PBV dan return on equity (ROE) dinilai lebih relevan. Analisis tersebut dapat dilengkapi dengan NIM, cost of credit, rasio non-performing loan (NPL), loan at risk (LAR), serta pertumbuhan kredit.

Sementara itu, untuk emiten komoditas, indikator yang dapat digunakan mencakup EV/EBITDA, cash cost, average selling price (ASP), volume produksi, hingga posisi net cash atau net debt.

"Secara umum, valuasi saat ini juga perlu dibandingkan dengan historical average dan peers. Saham dengan PER 5 kali belum tentu lebih murah dibanding saham PER 10x apabila laba perusahaan pertama sedang berada di puncak siklus," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Elandry lebih mencermati saham BMRI, BBNI, BBTN, ANTM, dan JPFA dengan pendekatan buy on weakness.

Berikut target harga yang disebutkan dalam materi:

  • BMRI — Rp6.500-Rp6.800
  • BBNI — Rp4.900-Rp5.200
  • BBTN — Rp1.400-Rp1.500
  • ANTM — Rp3.400-Rp3.600
  • JPFA — Rp2.400-Rp2.500

Pendekatan buy on weakness berarti mempertimbangkan pembelian ketika harga mengalami pelemahan, bukan mengejar harga saat rebound kuat.

Ruang re-rating, menurut Elandry, akan lebih terbuka apabila pertumbuhan laba tetap terjaga serta sentimen pasar dan foreign flow kembali membaik.

Investor tetap perlu mempertimbangkan risiko bisnis, kondisi pasar, valuasi, serta profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua