Breaking

GDX-GDXJ Direview, Saham AMMN, BRMS dan ARCI Jadi Sorotan

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 15 September 2026
GDX-GDXJ Direview, Saham AMMN, BRMS dan ARCI Jadi Sorotan
Ilustrasi Review GDX-GDXJ mengubah free float sejumlah saham emas Indonesia. AMMN, BRMS dan ARCI berpotensi mendapat passive inflow jangka pendek. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Penyedia indeks yang menjadi benchmark VanEck, Market Vectors Index Solutions, telah mengumumkan hasil evaluasi terhadap Global Gold Miners Index (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ). Perubahan tersebut akan berlaku efektif pada 18 September 2026.

Dalam evaluasi terbaru, tidak terdapat emiten asal Indonesia yang masuk ataupun keluar dari kedua indeks tersebut. Namun, MarketVector melakukan penyesuaian free float factor terhadap sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menjadi konstituen indeks.

Berdasarkan perhitungan terbaru, free float factor PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) meningkat dari 10% menjadi 16%. Kemudian, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik dari 21% menjadi 26%, sedangkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) meningkat dari 51% menjadi 60%.

Sementara itu, free float factor PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun dari 37% menjadi 31%. Adapun PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) tidak mengalami perubahan dan tetap berada di level 10%.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan kenaikan free float factor pada ARCI, AMMN dan BRMS berpotensi menjadi sentimen positif.

Pasalnya, secara mekanisme, peningkatan tersebut dapat menaikkan bobot efektif saham dalam indeks sekaligus membuka peluang passive inflow ketika proses rebalancing berlangsung.

"Namun efeknya kemungkinan lebih dominan dalam jangka pendek dan tidak otomatis mengubah fundamental emiten," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (15/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Elandry menambahkan, koreksi yang terjadi pada harga emas global saat ini masih dapat menjadi tekanan bagi underlying commodity. Kondisi tersebut berpotensi membatasi sentimen pasar terhadap saham-saham berbasis emas secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, Elandry menyarankan investor tidak hanya mengejar momentum rebalancing. Investor tetap perlu memperhatikan kombinasi pergerakan harga emas, fundamental setiap emiten, serta capital flow menjelang dan setelah tanggal efektif.

Secara lebih rinci, ARCI, AMMN dan BRMS dapat dicermati melalui perkembangan volume transaksi dan aliran dana institusi. Sementara EMAS perlu mendapat perhatian lebih karena free float factor mengalami penurunan. Adapun PSAB cenderung netral karena tidak mengalami perubahan.

Dengan volatility yang masih tinggi, strategi masuk secara bertahap dinilai lebih prudent daripada mengejar harga hanya karena adanya sentimen rebalancing.

"Secara umum, rebalancing bisa menjadi katalis teknikal jangka pendek, sementara arah harga emas dan fundamental emiten tetap lebih menentukan prospek saham emas dalam jangka menengah-panjang," jelas Elandry, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senada, Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan penyesuaian free-float factor berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi AMMN, BRMS dan ARCI.

Penyesuaian tersebut berpotensi meningkatkan bobot saham sekaligus mendorong passive inflow yang mengikuti indeks GDX/GDXJ.

Namun, katalis tersebut lebih bersifat tactical catalyst dan bukan menjadi faktor utama yang menentukan tren saham dalam jangka menengah hingga panjang. Pergerakan saham berbasis emas tetap sangat dipengaruhi oleh harga emas global, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), yield Treasury, serta ekspektasi kebijakan The Fed.

"Meskipun terdapat rebalancing indeks, concern lain yang perlu diperhatikan adalah arah harga emas global, kinerja operasional emiten, dan konfirmasi teknikal," ucap Alrich kepada Kontan, Selasa (15/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan harga emas yang tengah mengalami koreksi, risk-reward dinilai akan lebih menarik apabila investor menunggu stabilisasi harga emas serta adanya konfirmasi pembalikan tren. Strategi tersebut dinilai lebih baik dibandingkan masuk secara agresif hanya berdasarkan katalis indeks.

Di sisi lain, Investment Analyst Stockbit Sekuritas Theodorus Melvin memperkirakan sejumlah saham berpotensi mencatatkan inflow setelah pengumuman hasil review tersebut.

"AMMN berpotensi mencatatkan inflow US$ 43 juta, BRMS US$ 37 juta dan ARCI US$ 3 juta. Sementara EMAS menghadapi outflow US% 18 juta dan PSAB US$ 0,2 juta," jelas Theodorus, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi rekomendasi saham, Alrich menyarankan investor mempertimbangkan buy untuk saham BRMS, AMMN dan ARCI.

Masing-masing saham tersebut memiliki target harga Rp 820, Rp 5.300 dan Rp 1.450 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua