Breaking

Pasokan Ketat Dorong Harga Tembaga Rekor US$14.533

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 09 September 2026
Pasokan Ketat Dorong Harga Tembaga Rekor US$14.533
Ilustrasi tembaga (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga tembaga mengukir rekor tertinggi sepanjang sejarah di London Metal Exchange (LME) pada Senin (7/9). Kenaikan ini terjadi seusai reli selama beberapa pekan yang didorong spekulasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memperbesar tarif impor logam olahan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, kontrak tembaga LME pengiriman tiga bulan melonjak hingga 0,8% ke level US$14.533 per ton, melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada Januari.

Sepanjang tahun 2026, harga tembaga telah melesat 17% dan meroket 47% dalam kurun 12 bulan terakhir. Lonjakan ini didukung oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan jangka panjang, terutama karena tambang-tambang tua kesulitan memenuhi kebutuhan pusat data, energi terbarukan, dan jaringan listrik.

Meskipun demikian, faktor jangka pendek saat ini menjadi lebih dominan. Para pedagang mengalihkan ratusan ribu ton tembaga ke AS sepanjang tahun ini demi mengejar harga yang lebih tinggi di pasar domestik, serta mengantisipasi potensi penerapan tarif impor tembaga primer.

Laporan mengenai urgensi penerapan tarif tersebut sejatinya sudah diserahkan Departemen Perdagangan AS kepada Gedung Putih sekitar dua bulan lalu. Namun, para pelaku pasar hingga kini masih menantikan kepastian dari kebijakan tersebut.

“Hal ini lebih disebabkan oleh relokasi logam karena tarif dibandingkan kelebihan permintaan akhir,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Ini merupakan kasus kekurangan di wilayah tertentu, bukan kelebihan permintaan secara global,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun persediaan tembaga global relatif melimpah, stok tersebut kini menumpuk di AS. Sementara itu, cadangan pada jaringan gudang LME global terus menyusut sehingga membatasi ketersediaan logam untuk perdagangan jangka pendek.

Penguatan harga tetap berlangsung biarpun aktivitas perdagangan cenderung sepi akibat libur Labor Day di bursa AS. Reli ini juga terjadi di tengah tekanan makroekonomi dan geopolitik, seperti konflik di Iran serta naiknya biaya pinjaman AS yang berpotensi membebani industri manufaktur padat modal.

Lonjakan harga ini berpotensi menekan permintaan karena konsumen mulai berpaling ke material alternatif. Akan tetapi, tekanan dari sisi permintaan tersebut belum mampu membendung tren kenaikan harga tembaga.

Maraknya pengiriman tembaga ke AS terutama dipicu oleh tingginya premi pada kontrak tembaga Comex New York. Situasi ini membuka celah arbitrase besar bagi pedagang semenjak Trump pertama kali mengusulkan tarif tembaga pada Februari 2025.

Aktivitas perdagangan yang didorong ekspektasi tarif turut menguras persediaan global. Kondisi ini mencapai puncaknya bulan lalu ketika pasar LME tertekan hebat akibat stok tembaga anjlok ke level kritis.

Meskipun pasokan baru mulai mengalir untuk meredakan ketegangan, harga spot tetap berada jauh di atas harga kontrak tiga bulan LME. Kondisi backwardation ini mengindikasikan bahwa pasokan jangka pendek sangat terbatas dibandingkan tingkat permintaan.

Tingginya harga tembaga memberi keuntungan besar bagi perusahaan tambang raksasa seperti Rio Tinto Group, BHP Group, Glencore Plc, dan Zijin Mining Group Co. Keempat emiten tersebut membukukan lonjakan laba dalam laporan keuangan terbaru berkat kontribusi bisnis tembaga.

Di sisi lain, beberapa produsen tambang besar harus menghadapi kendala operasional sepanjang tahun ini. Data pada Senin memperlihatkan pendapatan ekspor tembaga Chile, sebagai produsen terbesar dunia, turun ke level terendah dalam lebih dari setahun pada Agustus.

Apabila pihak industri gagal mendongkrak produksi pada paruh kedua tahun ini, pasokan tembaga tambang global berisiko mencatatkan penurunan tahunan pertama sejak 2017.

Michael Cuoco, Head of Metals StoneX Financial Inc., menilai bahwa perpaduan antara lonjakan permintaan dan kendala pasokan akan semakin memperketat keseimbangan pasar tembaga.

“Kondisi tersebut seharusnya memperketat keseimbangan pasar ke depan dan menopang harga lebih tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua