Breaking

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 09 September 2026
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
Ilustrasi minyak brent (FOTO : NET)

JAKARTA – Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga minyak mentah jenis Brent dan WTI pada hari Minggu karena memprediksi gangguan pengiriman di kawasan Timur Tengah berlanjut hingga tahun depan.

Tim yang dipimpin Daan Struyven menaikkan proyeksi Brent/WTI sebesar 5 dolar AS menjadi 85/80 dolar AS per barel untuk Desember 2026 dan 80/75 dolar AS untuk 2027. Para ahli strategi mengungkapkan bahwa pasar kian memperhitungkan dampak konflik yang berkepanjangan: futures spot Brent telah merangkak naik ke 97 dolar AS, sedangkan probabilitas tersirat dari opsi bahwa Brent menembus 100 dolar AS pada Maret 2027 melonjak ke sekitar 25 persen dari posisi sebulan lalu yang sebesar 6 persen.

Kendati membuat asumsi baru tersebut, Goldman Sachs menilai kenaikan harga yang diproyeksikannya masih tergolong moderat berdasarkan dua pertimbangan. Persediaan minyak komersial OECD sebagai pendorong utama harga "hampir tidak berkurang sejak perang dimulai," mencerminkan defisit yang lebih kecil dari perkiraan serta penarikan stok yang terkonsentrasi pada cadangan strategis, penyimpanan di atas air, dan China sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Goldman Sachs juga memprediksi adaptasi pasokan di Timur Tengah terus berjalan dengan pemulihan produksi secara bertahap pada paruh kedua 2027 seiring beroperasinya jalur pipa baru.

Para ahli strategi menjelaskan bahwa rendahnya stok minyak global yang terlihat serta rendahnya tingkat cadangan strategis OECD tidak serta-merta menandakan lonjakan harga dalam waktu dekat. Saat stok global yang terlihat menyentuh titik terendah sepanjang masa pada November 2024, Brent diperdagangkan di angka 76 dolar AS. Goldman Sachs turut memperkirakan bahwa stok minyak global yang mendarat menyusut dari 9,1 miliar barel sebelum perang menjadi 8,6 miliar barel saat ini, angka yang masih berada jauh di atas perkiraan penyimpanan operasional minimum.

Impor minyak mentah China yang sensitif terhadap harga dan masih turun sekitar 30 persen secara tahunan juga diprediksi akan menahan kenaikan harga lebih lanjut.

Goldman Sachs menilai risiko terhadap proyeksinya tetap "condong secara signifikan ke sisi atas secara keseluruhan, terutama dalam jangka pendek" sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pada skenario optimistis, Brent berpotensi melampaui 120 dolar AS per barel jika rata-rata produksi Teluk pada 2027 bertahan 4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, berbanding 0,5 juta barel per hari di bawah level sebelum perang pada skenario dasar. Menurut para ahli strategi, eskalasi serangan pengiriman di Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi pemicu paling memungkinkan untuk skenario ini.

Sementara pada skenario pesimistis, Brent dapat merosot ke kisaran 60-an dolar AS pada 2027 apabila rata-rata produksi Teluk meningkat 1 juta barel per hari di atas level sebelum perang.

Goldman Sachs menyatakan bahwa pihaknya terus merekomendasikan lindung nilai risiko geopolitik melalui timespread diesel Eropa berjangka Maret 2027 hingga Desember 2027. Langkah tersebut dinilai akan naik lebih dari 100 persen apabila gangguan kilang Rusia atau Timur Tengah yang persisten menjaga spread sembilan bulan terdekat mendekati level saat ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua