Breaking

BEI Tambah 1 Emiten di MBX, 9 di DBX, dan 3 di ABX, Berlaku 1 September 2026

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 26 Agustus 2026
BEI Tambah 1 Emiten di MBX, 9 di DBX, dan 3 di ABX, Berlaku 1 September 2026
Ilustrasi BEI menambah 1 emiten di MBX, 9 di DBX, dan 3 di ABX mulai 1 September 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia kembali melakukan evaluasi terhadap komposisi indeks saham berdasarkan papan pencatatan, yakni Indeks Papan Utama, Indeks Papan Pengembangan, dan Indeks Papan Akselerasi.

Perubahan tersebut akan berlaku efektif mulai 1 September 2026 hingga 27 November 2026. Untuk indeks papan utama, BEI menambahkan saham PT Sillo Maritime Perdana Tbk sebagai konstituen baru. Tidak ada saham yang dikeluarkan dari indeks ini.

Sementara itu, indeks papan pengembangan mencatat penambahan sembilan emiten baru, yakni AGAR, AIMS, ALKA, BABY, BAPA, BKDP, CSAP, CTTH, FORU, JECC, MMIX, PDES, RDTX, RGAS, dan SQMI.

Adapun pada indeks papan akselerasi, terdapat tiga saham baru yang masuk, antara lain FLMC, KING dan MSIE.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan evaluasi indeks papan BEI pada dasarnya dapat memberikan dampak terhadap pergerakan harga saham, terutama melalui perubahan perhatian investor, likuiditas, dan potensi permintaan dari investor yang menjadikan indeks sebagai salah satu referensi investasi.

Namun, karena pada evaluasi kali ini seluruh emiten yang masuk tidak disertai emiten yang keluar, dampaknya cenderung bersifat positif dari sisi sentimen, tetapi tidak serta-merta signifikan atau berkelanjutan.

"Pergerakan harga tetap akan lebih banyak ditentukan oleh fundamental, prospek kinerja, likuiditas saham, serta sentimen pasar secara keseluruhan. Jadi, masuk indeks dapat menjadi katalis tambahan, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu kenaikan harga," kata Nafan kepada Kontan, Selasa 25 Agustus 2026.

Selain itu, Nafan menambahkan suatu saham ke dalam indeks papan BEI tidak otomatis mencerminkan adanya peningkatan kualitas fundamental perusahaan.

Penempatan dalam papan indeks lebih berkaitan dengan kriteria dan klasifikasi yang ditetapkan BEI, sehingga investor tetap perlu melakukan bottom-up analysis terhadap masing-masing emiten.

Aspek seperti pertumbuhan pendapatan dan laba, profitabilitas, arus kas, struktur permodalan, valuasi, tata kelola, prospek industri, serta likuiditas saham tetap menjadi parameter utama untuk menilai kualitas fundamental. Dengan begitu, masuk indeks sebaiknya dipandang sebagai additional positive signal, bukan sebagai jaminan bahwa fundamental emiten telah membaik secara signifikan.

Untuk emiten baru di masing-masing papan, prospeknya tetap perlu dilihat secara selektif karena karakteristik dan risiko setiap perusahaan berbeda.

Dari sisi risk-reward, saham yang masuk Main Board Index seperti SHIP dapat menjadi perhatian karena secara umum papan utama dihuni emiten dengan karakteristik yang lebih mapan, meskipun fundamental individual tetap harus dikaji.

Sementara itu, emiten yang masuk DBX seperti AGAR, AIMS, ALKA, BABY, BAPA, BKDP, CSAP, CTTH, FORU, JECC, MMIX, PDES, RDTX, RGAS, dan SQMI menawarkan potensi pertumbuhan yang lebih beragam sehingga investor perlu lebih selektif melihat katalis bisnis dan valuasinya.

Adapun saham yang masuk ABX, yakni FLMC, KING, dan MSIE, secara karakteristik memiliki peluang pertumbuhan lebih agresif, tetapi juga dibarengi risiko dan volatilitas yang lebih tinggi.

"Jadi, menurut saya, emiten yang paling menarik bukan semata-mata yang masuk papan tertentu, melainkan yang memiliki kombinasi pertumbuhan laba yang berkelanjutan, neraca sehat, valuasi relatif menarik, likuiditas memadai, dan katalis bisnis yang jelas," tambah Nafan.

Disamping itu, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menjelaskan untuk evaluasi indeks saat ini seharusnya tidak akan terlalu mempengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.

"Saham-saham yang masuk tidak memiliki market cap dan cenderung likuiditas tidak tinggi, sehingga tidak terlalu besar pengaruhnya," ujar Fath. Dari sisi strategi investasi, Fath menyarankan investor menyikapi hasil evaluasi ini secara netral.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua