Breaking

Dolar AS Melemah, Euro Punya Katalis Kuat Dibanding Pound dan AUD

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
Dolar AS Melemah, Euro Punya Katalis Kuat Dibanding Pound dan AUD
Ilustrasi indeks dolar (FOTO : NET)

JAKARTA – Pelemahan indeks dolar AS (DXY) memicu penguatan pada sejumlah mata uang utama dunia. Euro dinilai memegang katalis fundamental paling kuat untuk melanjutkan tren kenaikan dibanding poundsterling dan dolar Australia.

Indeks dolar AS mengalami penurunan sebesar 0,18 persen ke posisi 98,72 dibandingkan hari sebelumnya pada Jumat (21/8/2026) pukul 14.39 WIB. Penguatan terbesar dicatatkan oleh dolar Australia sebesar 0,46 persen di posisi 0,7147, diikuti poundsterling naik 0,1 persen ke 1,3644, dan euro melonjak 0,09 persen di tingkat 1,1689 per dolar AS.

Sutopo Widodo selaku Presiden Komisaris HFX International Berjangka menjelaskan bahwa penurunan DXY ke level 98 merupakan posisi terendah sejak akhir Mei yang dipicu oleh data ekonomi AS serta penyesuaian ekspektasi kebijakan The Fed. Laporan inflasi AS periode Juli memperlihatkan penurunan inflasi headline menjadi 3,4 persen secara tahunan dari sebelumnya 3,5 persen pada Juni, sementara inflasi inti menyentuh angka terendah sejak awal tahun.

Langkah Departemen Keuangan AS yang membatalkan rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang turut memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan dolar.

“Namun sentimen tidak sepenuhnya satu arah, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang masih berlangsung menjaga risiko inflasi tetap menjadi perhatian pasar, sehingga indeks dolar sesungguhnya mencerminkan kompromi antara ekspektasi suku bunga yang mengarah pada dolar lebih lemah dan faktor geopolitik yang mengarah pada dolar lebih kuat,” jelas Sutopo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut menjadi alasan utama EUR, GBP, serta AUD mengalami penguatan bersamaan yang lebih didominasi faktor pelemahan dolar AS (dolar-driven) ketimbang dorongan internal masing-masing.

Di antara ketiga mata uang tersebut, Sutopo menganggap euro memiliki faktor pendorong fundamental paling nyata. Salah satu penopangnya adalah pengetatan selisih kebijakan moneter antara Bank Sentral Eropa (ECB) dan The Fed.

Sutopo memaparkan bahwa ECB menaikkan suku bunga ke tingkat 2,40 persen, sedangkan The Fed memilih menahan suku bunga di angka 3,75 persen. Selain itu, tingkat inflasi AS sebesar 3,5 persen masih berada di atas inflasi kawasan euro yang tercatat 2,8 persen.

Dinamika ini menjadi motor penggerak utama pasangan EUR/USD, ditambah beberapa perbankan mulai melihat euro berada dalam posisi undervalued di kisaran level 1,1570.

Di sisi lain, pergerakan poundsterling dinilai cenderung sticky lantaran masih sangat bergantung pada dinamika dolar AS daripada ditopang dorongan domestik.

AUD justru dipandang menyimpan tingkat risiko yang lebih tinggi. Sutopo menilai dolar AS berpeluang tetap tangguh terhadap mata uang berbasis komoditas seperti AUD apabila eskalasi geopolitik meningkat dan memicu perburuan aset safe haven.

“Bagi investor berbasis rupiah, memegang dolar AS pun masih punya alasan taktis selama The Fed belum benar-benar memangkas suku bunga dan risiko geopolitik Timur Tengah belum mereda, jadi ini lebih soal horizon waktu dan toleransi risiko daripada satu jawaban mutlak,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ke depannya, Sutopo memproyeksikan DXY akan terus bergerak dalam rentang lebar dengan support teknikal di 98,10-96,54 dan resistance psikologis di area 100-102.

Pasangan EUR/USD diperkirakan bergerak pada kisaran 1,14-1,19 hingga penutupan tahun, sementara GBP/USD memiliki support di 1,3432 dan 1,3329 serta resistance di 1,3485 dan 1,3560.

Adapun pasangan AUD/USD diprediksi memiliki area support di 0,7026 dan 0,6965, dengan resistance di level 0,7088 dan 0,7140.

“Investor perlu mencermati level-level ini sebagai zona keputusan, bukan target pasti, terutama menjelang rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS berikutnya yang akan menjadi penentu arah The Fed hingga penghujung tahun,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua