Indeks Dolar AS Melemah ke 99,55 Persen Jelang Rilis Risalah The Fed
JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) tertahan di sekitar level terendah beberapa bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (19/8). Kondisi ini terjadi usai imbal hasil Treasury AS melorot dari level puncaknya, sementara pelaku pasar menantikan risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed).
Euro menguat 0,1% ke posisi US$1,1585 dan bertahan di dekat level tertinggi dua bulan sejak awal pekan. Pound sterling turut menguat tipis mencapai US$1,3538, mendekati level tertinggi tiga bulan sebelum rilis data inflasi Inggris.
Yen Jepang juga bergerak menguat tipis pada level 159,32 per dolar AS. Mata uang Negeri Sakura ini kembali menjauhi kisaran 160 per dolar yang terus dipantau pasar setelah sebelumnya terkikis dari penguatan akibat intervensi.
Indeks dolar AS, yang mencatat kinerja greenback menghadapi enam mata uang utama, melemah 0,1% ke posisi 99,55.
Tekanan jual di pasar Treasury AS mulai melandai setelah gelombang aksi jual sebelumnya mengerek yield ke posisi tertinggi beberapa tahun.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun merosot ke 4,686%, sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun turun ke level 5,268% dari posisi tertingginya dalam hampir 20 tahun.
Daya tarik aset berbasis dolar sangat dipengaruhi oleh pergerakan yield obligasi AS. Melorotnya imbal hasil tersebut mengurangi keunggulan aset AS sekaligus menekan permintaan pada dolar.
Pelaku pasar saat ini memfokuskan perhatian pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan rilis pada Rabu oleh The Fed.
Sejumlah indikator ekonomi AS belakangan ini memperlihatkan indikasi pelemahan. Sektor ketenagakerjaan mengalami kehilangan pekerjaan secara mendadak pada Juli, sedangkan laju inflasi mulai melambat.
Kondisi tersebut memicu para investor untuk memangkas ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga.
"Jika The Fed tidak melanjutkan kenaikan suku bunga yang sedang diantisipasi, potensi kenaikan imbal hasil obligasi akan sangat terbatas," kata Harvinder Kalirai, Kepala Strategi Pendapatan Tetap dan Mata Uang Global Alpine Macro, dalam webcast kepada klien sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Pasar tenaga kerja dan kejutan inflasi sedang mereda dan biasanya hal itu bertepatan dengan penyempitan keunggulan imbal hasil dolar, dan itu berdampak pada pelemahan dolar." sebagaimana dilansir dari berita sumber
Ketegangan diplomatik di kawasan Timur Tengah memicu harga minyak bergerak mendekati level tertinggi dalam tiga pekan. Situasi ini menjaga ancaman inflasi tetap tinggi sekaligus berpotensi membatasi kelonggaran kebijakan The Fed.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Selasa bahwa tidak ada negosiasi dengan Iran serta menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka. Pernyataan ini bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut jalur pelayaran tersebut masih tertutup bagi kapal.
Pergerakan mata uang global lainnya turut dipengaruhi oleh dinamika perdagangan internasional serta sentimen risiko pasar.
Dolar Kanada mencatatkan kenaikan tipis ke level US$1,3880 usai Trump menunda pengenaan tarif 50% untuk barang Kanada selama tiga hari. Trump menyebutkan bahwa kedua pihak telah membuahkan kesepakatan.
Dolar Australia terdepresiasi 0,2% menuju US$0,7069 akibat aksi jual di bursa saham utama yang menekan aset berisiko. Di sisi lain, dolar Selandia Baru cenderung bergerak stabil pada posisi US$0,5874.