Breaking

KIJA Rugi Rp236 Miliar Q2-2026, Tapi Marketing Sales Capai 32 persen Target

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 19 Agustus 2026
KIJA Rugi Rp236 Miliar Q2-2026, Tapi Marketing Sales Capai 32 persen Target
Ilustrasi KIJA mencatat rugi bersih Rp236 miliar pada kuartal II-2026. (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Kinerja PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) pada kuartal II-2026 tertekan cukup dalam.

Perusahaan ini membukukan rugi bersih Rp236 miliar, sementara pendapatan pada periode tersebut turun 13 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp1,2 triliun.

Namun, tekanan tersebut dinilai belum mencerminkan pelemahan fundamental KIJA secara keseluruhan.

Cheryl Jennifer Wang Analis Sucor Sekuritas menilai penurunan kinerja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sementara, terutama timing penyerahan lahan industri dan lonjakan beban non-operasional serta biaya terkait restrukturisasi utang.

Dalam risetnya pada 3 Agustus 2026 Sucor Sekuritas mencatat total beban non-operasional KIJA pada semester I-2026 mencapai Rp444 miliar.

Beban tersebut antara lain berasal dari rugi selisih kurs sebesar Rp264 miliar serta biaya penghentian derivatif dan amortisasi dipercepat sebesar Rp155 miliar terkait pelunasan Senior Notes.

Jika berbagai pos non-operasional tersebut dikeluarkan, kinerja laba bersih operasional atau underlying PATMI KIJA pada semester I-2026 sebenarnya masih berada di zona positif.

Di tengah tekanan laba, aktivitas penjualan lahan KIJA justru mulai menunjukkan perbaikan.

Sepanjang semester I-2026, perusahaan ini mencatat marketing sales Rp1,19 triliun, setara 32 persen dari target setahun penuh 2026 sebesar Rp3,75 triliun.

Momentum tersebut semakin terlihat pada kuartal II-2026.

KIJA membukukan marketing sales Rp648 miliar pada periode tersebut, dengan total lahan terjual mencapai 51 hektare.

Penjualan terutama berasal dari kawasan industri Kendal, sementara sisanya berasal dari Cikarang.

Sucor Sekuritas melihat prospek semester II-2026 masih cukup menjanjikan.

Perseroan memiliki pipeline sekitar 42 hektare lahan di Cikarang dan Kendal yang berpotensi menopang akselerasi penjualan hingga akhir tahun.

Dengan demikian, pelemahan kinerja pada paruh pertama tahun ini dinilai lebih mencerminkan masalah timing daripada perubahan struktural terhadap permintaan kawasan industri.

Selain penjualan lahan, bisnis infrastruktur juga memberikan sinyal positif.

Pendapatan segmen infrastruktur tumbuh 15 persen secara year on year (yoy) sehingga kontribusinya terhadap pendapatan berulang (recurring revenue) semakin besar.

Meski demikian, kualitas laba masih menghadapi tekanan dari bisnis ketenagalistrikan (power).

Margin kotor segmen tersebut anjlok menjadi hanya 2 persen pada semester I-2026, dari sebelumnya 22 persen.

Sucor Sekuritas menyebut penurunan tersebut terutama disebabkan perselisihan penagihan (billing dispute) dengan PLN yang menunda pengakuan pendapatan.

Perselisihan ini diperkirakan dapat terselesaikan pada kuartal III-2026, sehingga terdapat peluang bagi margin segmen power untuk kembali normal.

Di sisi arus kas, KIJA masih menghadapi tantangan.

Arus kas operasional turun menjadi sekitar Rp300 miliar dan arus kas bebas alias free cash flow (FCF) berada di posisi negatif.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan net gearing menjadi 21 persen, dari sebelumnya 12 persen.

Dengan mempertimbangkan tekanan kinerja dan biaya pendanaan, Cheryl memangkas proyeksi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) KIJA menjadi Rp203 miliar pada 2026 dan Rp362 miliar pada 2027.

Angka tersebut berarti laba bersih 2026 diperkirakan turun 52 persen dari Rp423 miliar pada 2025.

Namun, pada 2027 laba diproyeksikan kembali tumbuh 78 persen menjadi Rp362 miliar.

Proyeksi pendapatan juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif terbatas.

Pendapatan KIJA diperkirakan mencapai Rp5,277 triliun pada 2026, dibandingkan Rp5,149 triliun pada 2025, sebelum sedikit turun menjadi Rp5,113 triliun pada 2028.

Sementara itu, proyeksi laba per saham alias earnings per share (EPS) Sucor Sekuritas berada di Rp10 untuk 2026, Rp17 pada 2027, dan Rp19 pada 2028.

Sebagai perbandingan, EPS 2025 berada di sekitar Rp20 per saham.

Kendati memangkas proyeksi laba dan target harga, Sucor Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KIJA.

Target harga ditetapkan di Rp250 per saham dengan metode sum-of-the-parts (SOTP).

Harga saham KIJA naik 34,96 persen di Rp166 per saham pada Selasa (18/8/2026).

Sucor menilai valuasi KIJA masih tergolong murah atau undervalued, terutama jika dilihat dari rasio price-to-book value (P/BV).

Normalisasi margin bisnis power, penyelesaian persoalan penagihan dengan PLN, serta membaiknya profil risiko utang menjadi sejumlah katalis yang dapat mendukung pemulihan kinerja.

Adapun risiko utama yang perlu dicermati investor mencakup potensi keterlambatan transaksi maupun penyerahan lahan, margin segmen power yang tetap lemah lebih lama dari perkiraan, serta kemungkinan berlanjutnya pelemahan arus kas.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua