Breaking

Fast Food Indonesia Tekan Rugi Tajam, Strategi Omnichannel dan Efisiensi Jadi Kunci

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 18 Agustus 2026
Fast Food Indonesia Tekan Rugi Tajam, Strategi Omnichannel dan Efisiensi Jadi Kunci
Ilustrasi PT Fast Food Indonesia catat penurunan rugi usaha sebesar 77,4 persen pada semester I 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang waralaba KFC dan Taco Bell di Indonesia, membukukan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan pada semester pertama 2026.

Mengutip keterbukaan informasi perseroan di laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (18/8), meski masih mencatatkan kerugian, FAST berhasil menekan besaran rugi secara tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang solid.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, FAST membukukan pendapatan sebesar Rp2,79 triliun, naik 16,1 persen dibandingkan Rp2,40 triliun pada semester I 2025.

Secara rinci, penjualan dari makanan dan minuman mencapai Rp2,78 triliun, komisi atas penjualan konsinyasi Rp6,35 miliar dan jasa layanan antar Rp2,41 miliar.

Total keseluruhan segmen penjualan tersebut dikurangi potongan penjualan Rp7,8 miliar menghasilkan total pendapatan Rp2,78 triliun.

Namun, pertumbuhan pendapatan ini diiringi oleh kenaikan beban pokok penjualan yang lebih agresif, yakni 28,2 persen menjadi Rp1,23 triliun dari sebelumnya Rp961,4 miliar.

Dengan begitu, laba bruto hanya tumbuh 8 persen menjadi Rp1,56 triliun, lebih rendah dari laju pertumbuhan pendapatan, sehingga margin laba bruto perseroan mengalami penyusutan.

Di sisi beban operasional, FAST menunjukkan disiplin biaya yang lebih baik.

Beban penjualan dan distribusi, naik tipis 1,5 persen menjadi Rp1,32 triliun.

Beban umum dan administrasi justru turun signifikan 19,6 persen menjadi Rp281,3 miliar dari Rp349,8 miliar.

Meski demikian, beban operasi lain melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp41,9 miliar, sementara penghasilan operasi lain justru menyusut 35,3 persen menjadi Rp57,6 miliar dari Rp89,1 miliar tahun sebelumnya.

Deretan beban operasional tersebut membuat rugi usaha (operating loss) FAST menyempit signifikan sebesar 77,4 persen, dari Rp143,2 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp32,4 miliar pada semester I 2026.

Dari sisi kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, tercatat Rp56,7 miliar, jauh membaik dibandingkan Rp138,8 miliar pada periode sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan FAST, Yohannes Kristiarto Soeryo Legowo mengatakan kinerja yang meningkat di Semester I 2026 merupakan hasil kerja yang terus ditingkatkan sejak 2025, di mana perusahaan melakukan solid repositioning, mencakup sejumlah langkah perbaikan menyeluruh untuk menjawab berbagai tantangan, sekaligus memperkuat kembali fundamental usaha.

"Langkah ini difokuskan pada efisiensi biaya, optimalisasi pemanfaatan asset, serta penguatan pengelolaan modal kerja," kata Kristiarto kepada Kontan, Minggu (16/8/2026).

Selain pembenahan dari sisi internal, perseroan juga terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penguatan strategi omnichannel yang mencakup layanan makan di tempat (dine in), bawa pulang (take away), dan pesan-antar (delivery).

Di samping itu, perusahaan turut memperkuat efektivitas program promosi di tingkat lokal pada seluruh gerainya, serta mengoptimalkan pemanfaatan kanal digital guna mendukung penjualan dan memperluas basis pelanggan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat kondisi fundamental FAST memang tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan (turnaround).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga sahamnya saat ini telah melaju lebih cepat dibandingkan dengan laju pemulihan labanya.

"Jadi, upside berikutnya akan sangat bergantung pada pembuktian bahwa efisiensi dan pertumbuhan penjualan tersebut benar-benar mampu membawa FAST menuju profitabilitas yang berkelanjutan," jelas Nafan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua