Breaking

Perak Naik 0,37 Persen di Tengah Perlambatan Inflasi Amerika Serikat

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 15 Agustus 2026
Perak Naik 0,37 Persen di Tengah Perlambatan Inflasi Amerika Serikat
Ilustrasi Perak (FOTO : NET)

JAKARTA – Perak menguat 0,37 persen pada hari Jumat dan kembali berada di kisaran 64,70 dolar AS meskipun sempat dilanda aksi profit-taking.

Penurunan laju inflasi AS menekan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang menjadi angin segar bagi logam mulia tanpa imbal hasil ini.

Ketegangan di Selat Hormuz membuat risiko inflasi tetap membayang, sementara para pelaku pasar tengah menantikan rilis data Penjualan Ritel AS.

Perak (XAG/USD) menguat 0,37 persen pada hari Jumat dan ditransaksikan di kisaran 64,70 dolar AS saat laporan ini diturunkan, memangkas sebagian penurunan dari koreksi sebelumnya. Aset logam mulia ini memperoleh sokongan dari berkurangnya ekspektasi pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS), walaupun perselisihan di Timur Tengah masih mengembuskan kekhawatiran terkait harga energi dan menahan optimisme pasar.

Data inflasi AS terbaru mempertegas indikasi bahwa tekanan harga mulai melandai. Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) melambat menjadi 4,7 persen YoY, sedangkan IHP inti berada di level 4,2 persen. Rincian data tersebut, berpadu dengan laporan Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) pada hari Rabu, turut menekan spekulasi pengetatan moneter lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini berada di kisaran 35 persen, melorot dari 40 persen sesaat setelah rilis IHP dan jauh di bawah posisi pada akhir Juli. Perubahan estimasi ini menguntungkan Perak karena tingkat suku bunga yang rendah menekan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil.

Meskipun demikian, pandangan para pejabat The Fed masih terbelah. "sebagian tekanan harga terbaru berasal dari faktor-faktor temporer, khususnya tarif dan energi, sehingga mendukung pendekatan yang sabar." sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sebaliknya, "kemajuan inflasi masih belum memadai dan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan stabilitas harga." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dinamika geopolitik juga masih menjadi katalis penting bagi XAG/USD. Isu negosiasi untuk pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz belum menemukan titik terang, sedangkan arus lalu lintas di kawasan vital tersebut serta Selat Bab el-Mandeb masih amat terbatas. Hambatan pada pasokan energi mempertahankan harga minyak tetap tinggi dan berisiko memicu kembali inflasi, yang pada akhirnya memperrumit langkah The Fed.

Kini perhatian pasar tertuju pada data Penjualan Ritel AS periode Juli yang dijadwalkan rilis pada Jumat ini. Menyusul indikasi perlambatan inflasi serta pelemahan pasar tenaga kerja baru-baru ini, angka yang lebih rendah dari estimasi dapat memperkuat proyeksi sikap The Fed yang lebih hati-hati sekaligus memberi dorongan tambahan bagi Perak. Sebaliknya, konsumsi masyarakat AS yang solid dapat memicu kembali spekulasi bahwa suku bunga akan dipertahankan di level tinggi lebih lama.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua