Breaking

Permintaan Emas Global Semester I 2026 Naik 2 Persen Capai 2.522 Ton

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 31 Juli 2026
Permintaan Emas Global Semester I 2026 Naik 2 Persen Capai 2.522 Ton
Ilustrasi Emas (FOTO: NET)

JAKARTA – World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa total permintaan emas secara global pada kuartal II-2026 berada pada angka 1.269 ton atau relatif stabil dibanding tahun lalu.

Kondisi tersebut terjadi seiring dengan mulai melandainya harga emas usai sempat menyentuh rekor pada awal tahun 2026. Secara akumulatif, permintaan emas sepanjang semester I-2026 tumbuh 2% secara tahunan hingga menyentuh sekitar 2.522 ton dengan estimasi nilai mencapai US$ 380 miliar.

"Tren kenaikan harga emas di awal tahun mulai melandai pada kuartal kedua dan memasuki fase konsolidasi usai terkoreksi dari rekor tertinggi. Meski demikian, pasar tetap disokong oleh fundamental yang kuat, menegaskan peran emas sebagai instrumen diversifikasi dan aset penyimpan nilai," ujar Louise Street, Senior Markets Analyst World Gold Council sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun aliran dana ke ETF emas melemah akibat adanya koreksi harga, konsistensi aksi beli dari bank sentral serta meningkatnya investasi di luar bursa resmi berhasil menjaga pertumbuhan total permintaan emas sebesar 2% yoy selama semester I-2026.

"Memasuki semester II - 2026, investasi diperkirakan menjadi pendorong utama permintaan emas, meski komposisinya berpotensi bergeser. Aktivitas di luar bursa resmi dan minat investor Asia diprediksi makin dominan," kata Louise sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, Louise mengamati bahwa kinerja ETF emas di bursa Barat akan lebih banyak dipengaruhi imbal hasil riil, ekspektasi arah kebijakan moneter AS, dan pergerakan kurs dolar AS. Pihak bank sentral diproyeksikan tetap aktif memborong emas, walaupun lajunya cenderung sedikit melambat jika dibandingkan dengan performa dalam empat tahun terakhir.

"Namun, konsumen cenderung menahan kepemilikan mereka alih-alih menjualnya, sehingga pasokan dari daur ulang diprediksi tidak akan melonjak signifikan," jelas Louise sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan data World Gold Council, volume investasi pada ETF emas, emas batangan, serta koin menyusut menjadi 262 ton pada kuartal kedua lantaran penurunan harga emas menahan tingginya tren permintaan awal tahun. Pengurangan ini utamanya disebabkan oleh timbulnya arus dana keluar (outflow) senilai 45 ton dari ETF emas fisik, meskipun permintaan ETF selama semester pertama masih menorehkan arus masuk bersih sebesar 18 ton.

Di sisi lain, tingkat investasi emas batangan dan koin terbilang stabil dengan terkoreksi tipis 3% secara tahunan. Jika ditotal, angka permintaan emas batangan dan koin pada semester I-2026 masih 21% lebih tinggi dibanding periode sama di tahun sebelumnya berkat sokongan kinerja kuat pada kuartal pertama.

Aktivitas investasi dari kawasan Asia turut memicu lonjakan permintaan di luar bursa resmi (OTC), yaitu naik positif hingga 327 ton pada kuartal kedua dan menyentuh 571 ton sepanjang semester I-2026.

Tingginya harga emas yang bertahan juga terus menekan penyerapan di sektor perhiasan selama kuartal II-2026. Alhasil, permintaan perhiasan global anjlok 17% yoy menjadi 278,2 ton karena pembeli memangkas konsumsi dan berpindah ke unit perhiasan yang bobotnya lebih ringan.

Kecenderungan penurunan ini menyebar hingga ke Indonesia, di mana permintaan perhiasan tercatat merosot 10% yoy dan meneruskan tren penurunan selama 13 kuartal secara berturut-turut.

Adanya ketidakpastian kondisi ekonomi membuat masyarakat cenderung memilih perhiasan dengan kadar karat lebih rendah, sebuah fenomena yang turut marak terjadi di sejumlah negara ASEAN lainnya. Hal tersebut mengakibatkan total volume permintaan selama semester pertama ikut mengalami penurunan.

Meskipun volumenya turun, nilai pasar perhiasan global tetap mencatatkan daya tahan dengan kenaikan nilai permintaan sebesar 22% yoy hingga mencapai US$86 miliar pada semester pertama.

Adapun total pasokan emas pada kuartal II-2026 bertahan stabil di angka 1.269 ton jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Kondisi ini didorong oleh adanya dinamika yang bertolak belakang antara produksi sektor pertambangan dan aktivitas daur ulang.

Produksi tambang diperkirakan tumbuh 2% yoy mencapai 966 ton seiring berkat masuknya pasokan tambahan dari Kanada dan Chile. Sebaliknya, pasokan emas dari jalur daur ulang justru terkikis 6% yoy di tengah tingginya harga emas yang masih bertahan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua