Breaking

Dorong Daya Saing, OJK Imbau Emiten Fokus pada Strategi ESG

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 03 Juli 2026
Dorong Daya Saing, OJK Imbau Emiten Fokus pada Strategi ESG
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi (Sumber Gambar : stabilitas.id)

JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyoroti meningkatnya tren penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di level global. Kondisi ini menuntut para emiten untuk segera memperkuat strategi keberlanjutan agar dapat mempertahankan daya saing di hadapan para investor.

Friderica menyampaikan hal tersebut usai menghadiri London Climate Action Week, sebuah forum internasional yang mempertemukan regulator, pemerintah, serta pelaku industri untuk membahas isu keuangan berkelanjutan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Saya baru kembali dari London Climate Action Week. Di sana bertemu, berkumpul para pelaku bisnis dari berbagai belahan dunia, regulator, pemerintah, dan juga semua yang tertarik pada isu keberlanjutan, sustainable finance, dan saya melihat trennya sangat luar biasa," ujarnya saat memberikan sambutan di ajang Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, setiap korporasi perlu bersiap agar operasional bisnisnya mampu bertahan dalam jangka panjang. Isu keberlanjutan kini telah bertransformasi menjadi parameter krusial yang dipertimbangkan investor dan lembaga keuangan sebelum memberikan pendanaan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Saya percaya Bapak-Ibu di sini juga berpikir perusahaannya Bapak-Ibu harus terus eksis, walaupun nanti kami semua di sini sudah tidak ada. Harapannya perusahaan yang Bapak-Ibu dirikan, perusahaan yang Bapak-Ibu pimpin akan terus berkelanjutan di masa yang akan datang," tuturnya.

Friderica menambahkan bahwa investor global kini semakin agresif memburu perusahaan yang memiliki komitmen nyata terhadap ESG dan ekonomi hijau. 

Tren serupa juga terjadi di sektor jasa keuangan, di mana industri perbankan semakin mengutamakan penyaluran kredit bagi korporasi yang fokus pada keberlanjutan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Karena ini trennya luar biasa, investor mencari perusahaan-perusahaan yang punya fokus pada isu keberlanjutan, dan juga sektor jasa keuangan misalnya perbankan dan lain-lain juga mencari perusahaan-perusahaan yang mempunyai fokus kepada ESG, green economy dan sebagainya," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa OJK telah menerbitkan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebagai acuan nasional untuk mengklasifikasikan aktivitas ekonomi hijau dan transisi yang selaras dengan standar internasional serta prioritas nasional. 

Selain itu, OJK terus memperkuat pengelolaan risiko iklim melalui perumusan metodologi khusus untuk meningkatkan ketahanan sektor jasa keuangan.

Friderica menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar potensi risiko di masa depan, melainkan tantangan nyata yang tengah dihadapi dunia usaha saat ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kalau kami bicara tentang risiko iklim, itu kami sudah tidak bicara lagi tentang future risk, it is happening now," tegasnya.

Sebagai ilustrasi, ia menceritakan pengalamannya saat gelombang panas (heatwave) melanda Inggris dan beberapa negara Eropa ketika kegiatan London Climate Action Week berlangsung, yang bahkan sempat mengganggu agenda forum internasional tersebut.

Bagi Friderica, insiden itu menjadi peringatan bagi perusahaan untuk segera meningkatkan kualitas pengungkapan keberlanjutan dan mematangkan strategi bisnis jangka panjang. Hal ini dinilai krusial agar pelaku usaha mampu memitigasi risiko perubahan iklim sekaligus memenuhi standar yang diharapkan oleh investor global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua