Breaking

Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Variatif dan SpaceX Terkoreksi

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 23 Juni 2026
Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Variatif dan SpaceX Terkoreksi
Ilustrasi: Indeks Nasdaq turun 1,32 persen akibat tekanan pada saham teknologi besar. (Foto: NET)

NEW YORK – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (22/6/2026). Penurunan tersebut dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi raksasa, sementara SpaceX mencatat pelemahan selama tiga hari berturut-turut.

"Indeks S&P 500 turun 0,37 persen ke level 7.472,79," sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,32 persen menjadi 26.166,60," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

"Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat 148,01 poin (0,29 persen) ke level 51.712,71," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Penguatan ini didorong oleh lonjakan saham Caterpillar yang mencapai hampir 4 persen.

Tekanan besar datang dari sektor teknologi, di mana saham Alphabet anjlok 5 persen akibat kekhawatiran terkait hengkangnya sejumlah talenta kecerdasan buatan. Saham Amazon turun 4,8 persen, Meta Platforms melemah 2,3 persen, dan Microsoft terkoreksi 3 persen.

Salah satu sorotan utama pasar adalah SpaceX yang kembali mengalami tekanan jual. Saham perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut merosot 16 persen, memperpanjang tren penurunan selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Di tengah tekanan pada sektor teknologi, sejumlah saham semikonduktor justru mencatat kinerja positif. Saham Micron Technology melonjak hampir 7 persen menjelang perilisan laporan keuangan kuartalan pada Rabu waktu setempat.

Saham produsen chip lainnya pun ikut menguat, dengan Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 2 persen dan Intel melesat 5 persen. Pelaku pasar saat ini juga tengah mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak dunia berbalik turun setelah mediator menyatakan bahwa pejabat Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Harga minyak Brent untuk kontrak Agustus turun 3,31 persen dan ditutup di US$ 77,90 per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 2,32 persen menjadi US$ 74,82 per barel. Fokus investor kini tertuju pada rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2026).

Ekonom memperkirakan inflasi inti PCE akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Setelah pertemuan The Fed yang bernada hawkish pekan lalu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bergeser menjadi lebih cepat, bahkan berpotensi terjadi pada Oktober mendatang.

Meski pasar saham tengah menghadapi tekanan, National Investment Strategist US Bank Asset Management Group Tom Hainlin menilai prospek saham kapitalisasi besar Amerika Serikat masih relatif menarik. Ekonomi Amerika Serikat disebut masih ditopang oleh pasar tenaga kerja yang kuat, kepercayaan konsumen yang terjaga, serta aktivitas bisnis yang ekspansif.

"Selama konsumen masih memperoleh pendapatan dan yakin terhadap pekerjaannya sehingga tetap berbelanja, serta perusahaan masih melihat ekonomi dalam kondisi baik dan terus melakukan ekspansi, maka kondisi tersebut masih menjadi fondasi yang cukup positif bagi pasar," ujar Hainlin sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua