Breaking

ASSA Targetkan IRR 41,93 Persen dari Bisnis Teknologi Logistik

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
ASSA Targetkan IRR 41,93 Persen dari Bisnis Teknologi Logistik
ILUSTRASI, PT Adi Sarana Armada Tbk (Sumber Gambar : Net)Persiapan Bisnis

JAKARTA – Emiten transportasi dan logistik dari Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), tengah bersiap untuk melebarkan sayap bisnisnya ke sektor teknologi informasi. Langkah ini diwujudkan melalui perancangan solusi digital yang ditujukan bagi industri transportasi dan logistik. Guna melancarkan rencana tersebut, manajemen ASSA bakal meminta restu dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 17 Juni 2026. Perseroan berniat menambah empat lini kegiatan usaha baru yang berfokus pada teknologi informasi serta digitalisasi sistem operasional.

Adapun keempat bidang usaha yang diusulkan tersebut meliputi Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya (KBLI 62199), Aktivitas Penerbitan Perangkat Lunak atau software (KBLI 58290), Aktivitas Konsultasi dan Perancangan Internet of Things (IoT) (KBLI 62204), serta Aktivitas Jasa Sistem Komunikasi Data (KBLI 61105).

Corporate Secretary Adi Sarana Armada, Jerry Fandy Tunjungan, mengungkapkan bahwa penambahan lini usaha baru ini sengaja dipersiapkan guna menopang ekspansi bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution yang kini sedang digarap oleh perseroan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Perseroan merencanakan pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution, yaitu suatu solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Minggu (14/6/2026).

Berdasarkan analisis manajemen ASSA, sektor transportasi dan logistik di tanah air saat ini sedang mengarah pada transformasi besar. Hal tersebut didorong oleh pesatnya pertumbuhan e-commerce, rantai pasok yang kian kompleks, serta tuntutan akan efisiensi biaya maupun keterbukaan operasional.

Pihak perseroan melihat bahwa tantangan yang dihadapi industri saat ini tidak lagi sekadar mengenai ketersediaan jumlah armada maupun infrastruktur fisik. 

Lebih dari itu, tantangan utamanya terletak pada kecakapan dalam mengelola data operasional secara terpadu dan berbasis pada data yang akurat.

Dalam realitas di lapangan, rangkaian proses mulai dari perencanaan rute, pelacakan pengiriman, pengawasan tingkat layanan (service level agreement atau SLA), penyelarasan biaya transportasi, hingga penyusunan laporan kinerja dinilai masih banyak berjalan sendiri-sendiri dengan tingkat otomatisasi yang minim. 

Kondisi seperti ini dipandang berisiko memicu ketidakefisienan dalam operasional sekaligus mempersulit proses pengambilan keputusan strategis bagi bisnis.

Lewat sistem TMS ini, ASSA berupaya menyajikan sebuah ekosistem yang mampu menyatukan seluruh rangkaian proses logistik, mulai dari tahap perencanaan, eksekusi lapangan, hingga penyelesaian administrasi ke dalam satu wadah platform digital.

Tidak hanya sebatas memasarkan perangkat lunak, ASSA juga akan menawarkan jasa business process outsourcing (BPO). 

Layanan ini mencakup pengelolaan order, pengaturan penugasan armada (dispatching), pengawasan jalur distribusi, hingga mekanisme penagihan dan penyelesaian urusan administrasi para pelanggan. 

Disamping itu, perusahaan juga membangun fasilitas control tower yang bertindak sebagai pusat kendali operasional guna memantau jalannya pengiriman secara real-time, mengontrol SLA, sekaligus memitigasi kendala operasional di lapangan secara proaktif.

Demi memperkuat kejelasan informasi operasional, ASSA bakal memadukan teknologi Internet of Things (IoT) ke dalam sistem platform TMS mereka. 

Penerapan teknologi ini memberikan peluang bagi perusahaan untuk menghimpun data langsung dari lapangan secara real-time, seperti posisi kendaraan lewat GPS, pemantauan suhu serta kelembapan bagi kebutuhan distribusi rantai dingin (cold chain), rekam jejak perilaku sopir, hingga data telematika dari armada itu sendiri.

Nantinya, seluruh data lapangan yang terkumpul akan diintegrasikan langsung ke dalam sistem TMS. Data tersebut dimanfaatkan untuk menyokong fitur pelacakan pengiriman, kalkulasi estimasi waktu kedatangan (estimated time of arrival/ETA), pengawasan kepatuhan layanan, hingga kebutuhan analisis performa yang berbasis pada data konkret.

Pihak manajemen menerangkan bahwa pada tahap awal, TMS ini bakal difungsikan sebagai sistem inti (core system) guna menyokong operasional internal milik ASSA serta melayani kebutuhan dari basis pelanggan yang sudah ada saat ini. 

Kendati demikian, platform digital ini juga sengaja dikembangkan agar nantinya dapat dikomersialkan kepada perusahaan-perusahaan eksternal di luar grup dari beragam sektor industri.

Melalui langkah ekspansi ke ranah bisnis teknologi ini, ASSA menaruh harapan dapat mendongkrak efisiensi operasional, memperbanyak variasi portofolio layanan yang memiliki nilai tambah, serta menciptakan ceruk pendapatan berulang (recurring income) yang menjanjikan potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.

Merujuk pada hasil studi kelayakan yang digarap oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RSR, proyek pengembangan bisnis TMS ini dinyatakan sangat layak untuk direalisasikan. 

Proyek bisnis tersebut diproyeksikan mampu mendatangkan net present value (NPV) senilai Rp12,62 miliar, dengan nilai internal rate of return (IRR) menembus angka 41,93%, serta masa pengembalian modal (payback period) berkisar dalam waktu 4 tahun 8 bulan. 

Pihak manajemen menegaskan bahwa penambahan bidang usaha baru ini sudah diperhitungkan secara matang di dalam rencana strategis perseroan dan diyakini akan memberi andil positif bagi performa finansial di masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua