Breaking

Potensi Relaksasi RKAB 2026 Dongkrak Kinerja Kontraktor Tambang

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
Potensi Relaksasi RKAB 2026 Dongkrak Kinerja Kontraktor Tambang
ILUSTRASI, Tambang Batu Bara (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Perusahaan-perusahaan penyedia jasa atau kontraktor di industri pertambangan batubara mendapatkan angin segar menyusul adanya potensi kelonggaran dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk produksi batubara pada tahun 2026. Walakin, sederet tantangan lain tetap membayangi kinerja bisnis perusahaan-perusahaan kontraktor tersebut.

Merujuk pada informasi sebelumnya, Kementerian ESDM membuka peluang untuk memberikan relaksasi terhadap kuota produksi batubara nasional lewat mekanisme revisi RKAB 2026. 

Langkah tersebut diambil sebagai respons atas melesatnya harga jual komoditas batubara akibat eskalasi ketegangan geopolitik global. Pada keputusan awal, pemerintah telah menetapkan target volume produksi batubara di dalam RKAB 2026 sebesar 600 juta ton. 

Target tersebut mengindikasikan bahwa kuota produksi batubara untuk tahun 2026 menyusut sebesar 24% jika dibandingkan dengan realisasi total produksi batubara nasional sepanjang tahun 2025 yang menembus 790 juta ton.

Investment Analyst dari Infovesta Utama, Ekky Topan, menerangkan bahwa kebijakan relaksasi terhadap RKAB ini berpotensi memicu kenaikan volume produksi batubara nasional, terutama pada paruh kedua atau semester II-2026. 

Kondisi tersebut pastinya mampu memberikan sentimen positif bagi para emiten penyedia jasa tambang, seperti UNTR, DEWA, DOID, PTRO, MYOH, dan emiten sejenis lainnya. 

Perusahaan-perusahaan tersebut berpeluang mendulang profit karena intensitas operasional penambangan kembali merangkak naik, mulai dari kegiatan pengupasan lapisan tanah atau overburden removal, pengangkutan material galian atau hauling, hingga tingkat keterpakaian atau utilisasi unit alat berat.

Meski begitu, dampak positif dari pelonggaran RKAB ini diperkirakan tidak akan terdistribusi secara merata. 

Kontraktor jasa pertambangan yang akan meraup keuntungan paling optimal adalah mereka yang telah mengamankan kontrak kerja sama jangka panjang dengan pelanggan, memiliki kesiapan kapasitas alat produksi beserta fasilitas pendukungnya, serta mempunyai eksposur besar terhadap klien pemilik tambang batubara yang berhasil memperoleh tambahan kuota produksi. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Jadi, katalis RKAB ini positif, tetapi perlu dilihat realisasi produksinya pada semester kedua,” kata dia, Jumat (12/6/2026).

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas operasional emiten penyedia jasa tambang, mulai dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga lonjakan pada pos biaya energi. 

Pelemahan mata uang rupiah berisiko meningkatkan pengeluaran untuk pengadaan suku cadang, pembelian unit alat berat baru, sekaligus memperberat beban utang dalam denominasi dolar AS yang dimiliki perusahaan.

Selain itu, kenaikan biaya energi akan menggerus margin keuntungan kontraktor jika beban tersebut tidak dapat dialihkan kepada para pemilik lahan tambang selaku pelanggan. Maka dari itu, peningkatan volume produksi belum menjadi jaminan margin laba yang diperoleh perusahaan akan otomatis membaik.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, berpendapat bahwa dalam mengantisipasi situasi ini, perusahaan penyedia jasa tambang harus mengambil langkah renegosiasi kesepakatan kontrak dengan pelanggan melalui penyisipan klausul penyesuaian biaya operasional. 

Langkah ini dipandang krusial karena kenaikan biaya energi mesti dibebankan kepada pihak pemilik tambang demi mempertahankan stabilitas margin laba perusahaan jasa tambang. 

Para kontraktor tambang juga diimbau untuk memprioritaskan penyelesaian kontrak jangka panjang dengan pelanggan yang telah memegang persetujuan izin RKAB. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Sebaliknya, emiten perlu menunda investasi alat baru hingga kepastian volume produksi dalam RKAB semester II-2026 terkonfirmasi,” ujar dia, Jumat (12/6/2026).

Wafi mengimbuhkan bahwa emiten jasa pertambangan yang berpeluang mencatatkan performa impresif sepanjang tahun 2026 ialah PTRO. 

Hal ini disokong oleh rekam jejak yang solid melalui lonjakan laba bersih hingga 197% secara year on year (yoy) pada tahun 2025 serta porsi kepemilikan saham publik atau free float yang berada di level 27,7%. 

Di samping itu, ada DOID yang memegang keunggulan kompetitif berupa strategi diversifikasi basis pelanggan serta skala cakupan bisnis yang luas. Opsi berikutnya tertuju pada MYOH yang disokong oleh keunggulan ikatan kontrak jangka panjang bersama entitas Grup Adaro.

Berdasarkan analisis itu, ia menilai bahwa saham-saham seperti PTRO, DOID, dan MYOH amat prospektif untuk masuk dalam radar perhatian para investor, dengan rincian target harga masing-masing berada di level Rp 5.200 per lembar saham, Rp 800 per lembar saham, dan Rp 1.200 per lembar saham.

Dari sudut pandang berbeda, Ekky memaparkan bahwa emiten jasa pertambangan yang diproyeksikan tampil lebih dominan pada tahun ini ialah mereka yang disokong oleh ikatan kontrak yang kuat, kondisi neraca keuangan yang sehat, tingkat utilisasi unit alat berat yang tinggi, serta langkah diversifikasi ke sektor bisnis lain. 

Saham UNTR diposisikan sebagai opsi yang cenderung defensif karena lini bisnisnya yang lebih bervariasi, sedangkan saham DEWA dan DOID dinilai lebih menarik bagi para investor bertipe agresif lantaran mempunyai ruang pemulihan kinerja yang jauh lebih lebar. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “PTRO juga menarik, tetapi valuasinya relatif lebih premium sehingga lebih cocok untuk trading selektif,” tutur dia.

Secara umum, Ekky memandang sektor industri jasa pertambangan ini sangat menarik untuk dicermati secara saksama, meski para investor dituntut untuk tetap selektif dalam menentukan pilihan. 

Opsi utama dari Ekky tetap tertuju pada saham UNTR dengan target harga berkisar antara Rp 24.000–Rp 25.000 per lembar saham serta target untuk strategi swing pada level Rp 27.000 per lembar saham.

Bagi para investor yang menyukai strategi agresif, pergerakan saham DEWA dapat diperhatikan dengan target harga terdekat pada kisaran Rp 380–Rp 400 per lembar saham, kemudian dilanjutkan dengan target untuk strategi swing di posisi Rp 420–Rp 450 per lembar saham. 

Saham DOID juga dinilai potensial untuk dikoleksi dengan tindakan speculative buy dengan patokan target harga berkisar di angka Rp 220–Rp 240 per lembar saham. 

Tidak ketinggalan, saham PTRO juga dipandang layak masuk pertimbangan dalam aktivitas trading dengan target harga pada rentang Rp 5.000–Rp 5.450 per lembar saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua