Breaking

AS dan Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Brent Turun ke 84 USD

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
AS dan Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Brent Turun ke 84 USD
Ilustrasi Minyak Mentah. (Foto: net)

JAKARTA - Penurunan yang signifikan melanda dinamika harga komoditas minyak mentah di kancah global pasca-disepakatinya piagam perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri tensi ketegangan di teritori Timur Tengah pada Senin, 15 Juni 2026. 

Langkah diplomasi tersebut membuka akses lebar bagi pengoperasian kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat mengalami kendala.

Mengutip laporan dari Bloombergtechnoz, jenis minyak Brent terpantau langsung merosot di atas 3 persen menuju kisaran level US84perbarel, setelah pada penutupan pekan kemarin sempat menyentuh titik terendah dalam periode tiga bulan terakhir.

Pada waktu yang bersamaan, varian minyak West Texas Intermediate atau WTI juga ikut menyusut hingga mendekati level US81 per barel.

Kebijakan terkait penghentian blokade terhadap Republik Islam Iran ini dikonfirmasi langsung oleh pihak otoritas Gedung Putih melalui pernyataan resmi yang disebarluaskan di media sosial. 

Koridor pelayaran di selat yang bernilai strategis tersebut dijadwalkan akan kembali beroperasi secara normal sesaat setelah penandatanganan dokumen kesepakatan resmi selesai dilaksanakan pada akhir pekan ini.

"Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin kalian," ujar Trump dalam unggahannya.

Pemimpin tertinggi Amerika Serikat tersebut menegaskan bahwa dirinya telah mendelegasikan otoritas sepenuhnya untuk membuka kembali akses Selat Hormuz tanpa dipungut biaya demi menjaga stabilitas distribusi energi dunia.

"Biarkan minyak kembali mengalir!" ujar Trump.

Pihak pemerintah Iran pun membenarkan informasi bahwa konsensus diplomasi di tingkat tertinggi tersebut telah berhasil disepakati oleh kedua belah pihak. 

Dokumen resmi dari traktat damai ini akan segera diekspos secara transparan kepada publik global.

"draf teks resmi akan dipublikasikan setelah upacara penandatanganan selesai dilakukan di Swiss." ujar Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Kubu Washington merespons positif rencana seremoni itu dengan mengutus perwakilan khusus tingkat tinggi menuju Eropa. Delegasi resmi dari pemerintahan juga membuka peluang atas kehadiran sang pemimpin nomor satu negara tersebut dalam agenda penandatanganan tersebut.

"tentu saja" ujar JD Vance, Wakil Presiden AS.

Konflik militer di Timur Tengah ini sebelumnya telah memberikan tekanan yang masif pada pasar energi global sejak akhir Februari lalu, yang dipantik oleh serangan terhadap fasilitas nuklir kepunyaan Iran. 

Kubu Teheran kemudian membalasnya melalui langkah penutupan Selat Hormuz koridor utama bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia yang pada gilirannya memicu tindakan AS berupa pembatasan terhadap kapal-kapal milik Iran.

Walaupun piagam perdamaian ini membawa angin segar bagi sektor pelayaran serta konsumen di berbagai belahan dunia, normalisasi arus lalu lintas kapal di kawasan Selat Hormuz dinilai masih dihadapkan pada tantangan yang cukup rumit. 

Kegiatan pembersihan ranjau laut yang menyasar kapal-kapal komersial serta kepastian mengenai regulasi pengawasan dari pihak otoritas Teheran akan menjadi variabel krusial yang menentukan kelancaran rantai logistik di masa depan.

Kondisi pasar yang semakin membaik ini turut memberikan dampak pada bursa komoditas energi lainnya di teritori Eropa. 

Transaksi kontrak berjangka untuk komoditas gas alam Eropa dilaporkan ikut mengalami penurunan harga yang cukup dalam hingga menyentuh angka 5,8 persen seiring dengan meredanya eskalasi geopolitik tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua