Breaking

Penjualan Lahan KEK Kendal Jadi Sokongan Utama Target Bisnis KIJA

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 04 Juni 2026
Penjualan Lahan KEK Kendal Jadi Sokongan Utama Target Bisnis KIJA
ILUSTRASI, KIJA (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Jababeka Tbk (KIJA) mematok sikap optimis bahwa prospek bisnis perseroan akan terus terjaga secara positif hingga akhir tahun ini. Kendati perhatian publik tengah tersedot pada dinamika industri dan investasi, KIJA tetap konsisten mengejar target marketing sales tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 3,75 triliun.

Sekretaris Perusahaan KIJA, Mulyadi Suganda memaparkan bahwa hingga periode sekarang, perolehan marketing sales yang berhasil dikantongi berada di angka Rp 540 miliar atau baru menyentuh kisaran 14% dari target tahunan.

"Walaupun ini bicara secara persen baru 14%, tapi itu tidak menjadi satu patokan. Karena kami lihat historical juga seperti itu," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Rabu (3/6/2026).

Dia menegaskan bahwa pencapaian di setiap kuartal tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur utama. Hal tersebut dikarenakan keputusan dalam menanamkan modal, khususnya bagi investor asing, sangat dipengaruhi oleh situasi global serta regulasi prinsipal yang berlaku di negara asal mereka.

Apabila dilihat dari perspektif penanam modal, daya tarik kawasan industri Jababeka didominasi oleh pemodal asing, terutama yang datang dari China dan kawasan Asia lainnya.

Adapun sektor-sektor usaha yang paling mendominasi wilayah ini mencakup consumer goods, tekstil, pusat data (data center), baterai, hingga industri bahan bangunan.

Terkait perincian komposisi penjualan lahan, kontribusi terbesar diharapkan bersumber dari kawasan industri Kendal dengan target sumbangsih mencapai Rp 2,5 triliun, sedangkan sisanya akan dipenuhi dari kawasan Cikarang.

Dipaparkan oleh Mulyadi, nilai tawar utama dari kawasan industri Kendal saat ini terletak pada ekosistem industri yang telah terbangun dengan matang, sehingga dinilai andal untuk menggaet investor baru sekaligus memperkuat supply chain industri yang sudah berjalan sebelumnya.

Keyakinan ini juga diperkuat oleh pipeline investor yang dinilai tetap kokoh, walaupun situasi perekonomian global masih diselimuti berbagai ketidakpastian.

Memperkuat Lini Bisnis Infrastruktur

Tidak hanya mengandalkan lini penjualan lahan semata, perseroan juga terus mendorong pertumbuhan pada sektor bisnis infrastruktur sebagai sumber pendapatan baru.

Dari total keseluruhan 139 tenant yang tercatat telah membeli lahan di Kendal, baru sekitar 50 tenant yang dipastikan sudah aktif beroperasi. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya ruang pertumbuhan yang luas bagi permintaan utilitas dari para tenant yang saat ini belum memulai operasionalnya.

Menatap langkah ke depan, perseroan bakal semakin memfokuskan arah transformasinya ke sektor bisnis yang bertumpu pada pendapatan berulang atau recurring income.

Menilik pada kinerja keuangan, angka pendapatan KIJA mencatatkan penurunan tipis menjadi Rp 1,19 triliun pada kuartal I-2026, jika dibandingkan dengan perolehan sebesar Rp 1,29 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyusutan ini dinilai lebih disebabkan oleh faktor perbedaan waktu pengakuan pendapatan atau timing difference saat proses serah terima (handover) proyek dilakukan, dan bukan mencerminkan kemunduran pada fundamental bisnis perseroan.

Sementara pada pos perolehan keuntungan, KIJA berhasil membukukan laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 57,78 miliar. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan jika disandingkan dengan raihan laba bersih pada kuartal I-2025 yang tercatat sebesar Rp 43,24 miar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua