Breaking

OJK Sebut Kredit Sektor Ekspor Bakal Kencang Imbas Rupiah Melemah

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 04 Juni 2026
OJK Sebut Kredit Sektor Ekspor Bakal Kencang Imbas Rupiah Melemah
ILUSTRASI, OJK proyeksikan pertumbuhan kredit perbankan melonjak tajam di sektor ekspor (Sumber Gambar : idxchannel.com)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa perkembangan penyaluran kredit oleh perbankan di semester II-2026 berpeluang melaju lebih cepat pada sektor industri yang berhubungan dengan ekspor.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Erdiana Rae menyampaikan, dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat menimbulkan efek yang bervariasi bagi tiap-tiap sektor industri.

Berdasarkan penuturannya, saat kondisi rupiah sedang melemah, pembiayaan kredit pada sektor yang berbasis ekspor berpeluang mengalami kenaikan. 

Hal ini dikarenakan permintaan ekspor dari pasar luar negeri biasanya akan meningkat lantaran harga komoditas domestik dinilai menjadi lebih terjangkau. 

"Begitu mata uang kami terdepresiasi, ekspor akan lebih banyak permintaannya karena harganya otomatis jadi lebih murah bagi di sana. Tapi kebalikannya kalau kami impor, harga yang kami beli jadi lebih mahal," jelas Dian saat ditemui, Selasa (2/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Oleh karena itu, Dian menyampaikan bahwa perkembangan kredit perbankan di semester 2-2026 mendatang bakal ditentukan oleh tingkat sensitivitas nilai tukar rupiah pada tiap-tiap sektor industri.

Dian juga memberikan tanggapan terkait kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps hingga menyentuh angka 5,25% pada Mei 2026. Dian menuturkan, peningkatan BI Rate ini tidak akan serta-merta langsung mendorong pihak perbankan untuk mendongkrak suku bunga kredit mereka dalam periode dekat.

Menurut Dian, tiap jajaran manajemen bank tentu bakal memperhitungkan berbagai aspek bisnis terlebih dahulu sebelum mengerek suku bunga kredit, yang salah satunya dengan memantau situasi likuiditas serta tingkat biaya dana (cost of fund). "Akan selalu ada jeda waktu untuk perbankan menyesuaikan. Karena bank itu bisnis, dia akan mengkalkulasi tingkat suku bunga bisa dinaikkan," kata Dian sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua