Breaking

Penjualan Indocement INTP Tumbuh 1,8 Persen Kuartal Pertama 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 02 Juni 2026
Penjualan Indocement INTP Tumbuh 1,8 Persen Kuartal Pertama 2026
ILUSTRASI, pt indocement tunggal prakarsa tbk (Sumber Gambar : pintarsaham.id)

JAKARTA – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berhasil membukukan total volume penjualan (semen dan klinker) hingga 4,44 juta ton pada kuartal I-2026. Jumlah tersebut memperlihatkan adanya kenaikan sebesar 1,8% apabila dikomparasikan dengan kuartal yang sama di tahun lalu.

Berdasarkan publikasi resmi perusahaan pada Senin (1/6/2026), peningkatan volume transaksi pada awal tahun 2026 ini didorong oleh realisasi ekspor yang melonjak hingga 239% secara tahunan (YoY). Kebalikannya, volume transaksi untuk pasar dalam negeri justru terkoreksi sebesar 2,3%.

Dari aspek kinerja keuangan, INTP mengantongi pendapatan sebesar Rp 3,84 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka ini menyusut 3,3% YoY dari capaian triwulan pertama tahun lalu yang bernilai Rp 3,97 triliun.

Selaras dengan penurunan omzet tersebut, beban pokok pendapatan perseroan ikut terpangkas 3,9% menjadi Rp 2,74 triliun. Melalui hasil itu, perseroan mengamankan margin laba kotor sebesar Rp1,10 triliun atau setara 28,6% dari keseluruhan Pendapatan Neto.

Kendati demikian, beban usaha operasional perseroan terpantau naik 3% menjadi Rp872,5 miliar pada saat yang sama. Pembengkakan ini disebabkan oleh tingginya ongkos pengiriman atau pos logistik.

Meskipun begitu, perseroan masih sanggup mempertahankan margin laba usaha di level 6,2% serta posisi EBITDA pada level 17,0% selama periode kuartal I-2026.

Pada laba bersih, laba periode berjalan INTP pada kuartal I-2026 mampu tumbuh tipis 2,1% menjadi Rp215,2 miliar, meningkat dari perolehan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 210,7 billion.

Corporate Secretary INTP Dani Handajani menjelaskan, walaupun pasar semen domestik merangkak naik pada kuartal I 2026, sektor bisnis ini masih dihadapkan pada tantangan surplus kapasitas terpasang yang jauh melampaui total permintaan pasar nasional. Situasi ini berdampak pada minimnya level utilisasi operasional pabrik.

Bukan hanya itu, lonjakan harga energi terkini yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan bakal semakin menekan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Ditambah lagi, porsi pendanaan bagi proyek-proyek baru berisiko ikut dipangkas.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Oleh karena itu, industri harus terus memaksimalkan seluruh aspek aktivitas operasional serta mengoptimalkan jaringan distribusi dan logistik,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua