MAIN Optimistis Kinerja Kuartal II 2026 Membaik
JAKARTA – PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) tetap memiliki keyakinan tinggi untuk menjaga tren positif pertumbuhan performa bisnis mereka sepanjang tahun 2026. Sikap optimistis ini tetap dipertahankan kendati sektor perunggasan domestik saat ini sedang dihadapkan pada beragam tantangan berat, seperti melesatnya harga bahan baku di pasar internasional, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kondisi geopolitik global yang tidak menentu.
Direktur MAIN, Rudy Hartono mengungkapkan bahwa kenaikan signifikan pada harga jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM) akibat dinamika global telah meningkatkan beban produksi perseroan, terutama pada lini bisnis pakan ternak.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kenaikan harga bahan baku memang terjadi dan otomatis meningkatkan cost industri poultry. Namun kami terus melakukan efisiensi dan inovasi formulasi untuk meminimalkan dampak fluktuasi harga jagung maupun soybean meal global,” jelasnya pada Senin (25/5/2026).
Di samping tekanan dari harga komoditas, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diakui turut andil dalam mengerek harga bahan baku impor seperti bungkil kedelai.
Manajemen perusahaan tidak menampik bahwa dampak dari kenaikan harga SBM serta biaya logistik telah mulai memengaruhi jalannya operasional perseroan.
Kendati demikian, Malindo memastikan akan terus mengoptimalkan bermacam langkah mitigasi demi melindungi tingkat keuntungan perusahaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami akan terus mengikuti kondisi pasar sambil menerapkan inovasi untuk meminimalkan dampak pelemahan rupiah dan volatilitas harga komoditas global,” urainya.
Untuk menjaga margin keuntungan perseroan, Malindo memperkuat strategi manajemen biaya serta efisiensi operasional. Salah satu langkah nyata yang diterapkan adalah melakukan transisi energi dengan memasang panel surya (solar cell) di beberapa lokasi fasilitas operasional mereka.
Menurut Rudy, alokasi anggaran untuk sektor energi saat ini menjadi salah satu komponen biaya operasional yang paling besar, sehingga langkah efisiensi di sektor ini dijadikan sebagai prioritas utama korporasi.
Bukan hanya efisiensi energi, Malindo juga mengandalkan akselerasi program otomatisasi dan digitalisasi pada sistem operasional untuk menekan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas bisnis.
Perseroan juga memaksimalkan tingkat penggunaan bahan baku serta terus mengeksplorasi peluang di pasar-pasar baru agar pertumbuhan usaha tetap terjaga di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Mengenai aspek performa bisnis, Malindo menilai prospek industri perunggasan pada tahun 2026 ini masih terhitung positif. Situasi harga DOC (day-old chick) dan broiler yang terjaga stabil sepanjang kuartal I/2026 dinilai menjadi penyokong utama yang mendorong pertumbuhan laba perusahaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami melihat kuartal I tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Karena itu kami cukup optimistis kondisi industri poultry pada 2026 akan tetap stabil dan positif,” kata Rudi.
Bahkan, emiten dengan kode saham MAIN ini memproyeksikan perolehan kinerja pada kuartal II/2026 akan lebih memuaskan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana tekanan yang dihadapi saat itu masih relatif besar.
Walaupun pihak manajemen masih enggan memaparkan angka target topline (pendapatan) maupun bottom line (laba bersih) secara rinci, mereka melihat bahwa regulasi serta sokongan dari pemerintah terhadap sektor perunggasan menjadikan iklim industri saat ini jauh lebih kondusif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kalau bicara target memang cukup sulit karena industri ini bergerak sangat cepat. Tetapi secara umum kami dan pelaku industri lainnya masih sangat optimistis terhadap kondisi saat ini,” pungkasnya.