Breaking

Rupiah Tertekan, ASSA Beralih ke Target Pertumbuhan Lebih Konservatif

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Rupiah Tertekan, ASSA Beralih ke Target Pertumbuhan Lebih Konservatif
ILUSTRASI, PT Adi Sarana Armada (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) tetap berkomitmen menjalankan program pembaruan terhadap 5.000 unit armada mereka tiap tahunnya, meskipun depresiasi nilai tukar rupiah berpotensi memperberat pengeluaran operasional perseroan. 

Mengacu pada data pasar spot pada hari Jumat (22/5/2026), mata uang rupiah berakhir melemah sebesar 0,28% dalam sehari ke posisi Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS).

Presiden Direktur ASSA, Prodjo Sunarjanto, menyampaikan bahwa emiten tersebut selalu menjalankan agenda peremajaan armada secara rutin. 

Namun, dengan memperhatikan dinamika ekonomi global maupun domestik yang masih diliputi ketidakpastian, ASSA memutuskan untuk menetapkan proyeksi pertumbuhan yang lebih moderat pada tahun ini, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Strategi ekspansif pasti ditunda seiring dilakukannya perbaikan dan penghematan. Target pertumbuhan kami lebih konservatif,” ujar Prodjo, pekan lalu.

Dia memaparkan bahwa kemerosotan kurs rupiah sebetulnya tidak berdampak secara langsung terhadap bidang usaha yang dijalankan ASSA. Hanya saja, pelemahan mata uang tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga beli armada baru, bahan bakar minyak (BBM), hingga suku cadang kendaraan.

Di sudut lain, Prodjo menilai kondisi ini turut mendatangkan berkah tersendiri bagi nilai jual kembali (resale value) dari armada bekas yang dipunyai korporasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Harga mobil yang saat ini dimiliki ASSA juga akan mengalami kenaikan nilai bekas karena faktor inflasi,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dampak naik-turunnya rupiah bagi profitabilitas perusahaan ke depan bakal sangat bergantung pada perkembangan kondisi global serta situasi geopolitik.

Mengenai struktur permodalan, Prodjo memastikan bahwa seluruh fasilitas pinjaman yang diperoleh ASSA menggunakan denominasi mata uang rupiah, sehingga aman dari imbas langsung fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

Kendati demikian, perusahaan tetap mewaspadai tantangan dari kecenderungan peningkatan suku bunga yang berisiko mengerek beban biaya dana.

Dalam merespons situasi yang serbadinamis ini, jajaran manajemen ASSA mengaku belum dapat menghitung secara pasti seberapa besar pengaruh pelemahan rupiah terhadap kinerja keuangan perseroan ke depan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Yang pasti, perusahaan tetap akan melakukan efisiensi seiring ekspansi yang lebih terukur,” tutup Prodjo.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua