Breaking

Aksi Korporasi Marak Investor Diminta Cermat Baca Tujuan Dana Emiten

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 11 Mei 2026
Aksi Korporasi Marak Investor Diminta Cermat Baca Tujuan Dana Emiten
Ilustrasi Gerak Saham. (Sumber Gambar: net)

JAKARTA – Kegiatan penghimpunan dana melalui skema private placement serta rights issue terpantau kian gencar dilakukan oleh sejumlah emiten dalam beberapa bulan terakhir. 

Kecenderungan ini muncul di tengah kondisi pasar saham yang masih fluktuatif serta meningkatnya keperluan pendanaan bagi pihak perusahaan.

Oleh sebab itu, para pemodal diharapkan untuk lebih jeli dalam mencermati maksud dari dilaksanakannya aksi korporasi tersebut. 

Hal ini dikarenakan tidak semua langkah private placement atau rights issue secara otomatis berdampak baik bagi pergerakan harga saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejumlah emiten baru-baru ini telah melaporkan rencana penerbitan saham baru, mulai dari sektor kesehatan, perbankan, pertambangan, hingga energi. 

Sebagai misal, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) baru saja menghimpun dana sebesar Rp 7,97 miliar melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMTHMETD.

Perusahaan tersebut melepas 29,65 juta lembar saham baru dengan harga Rp 269 per saham, yang seluruhnya diserap oleh investor individu nonafiliasi, Gene Richard sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Rencana penggunaan dana private placement ialah untuk pengembangan usaha perseroan dalam bentuk modal kerja, penambahan outlet, pembelian saham dan aset atau penyertaan saham pada satu atau lebih perusahaan di industri yang relevan dengan kegiatan usaha grup perseroan,” ungkap VP Sekretaris Perusahaan DGNS Stefanus Ivanly dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) pun sedang menyiapkan private placement hingga sebanyak 2,44 miliar lembar saham, atau setara 10 persen dari jumlah saham yang beredar. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk modal kerja serta pengembangan grup usaha.

Sementara itu, PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) berencana menerbitkan 1,4 miliar saham baru Seri C dengan nilai nominal Rp 100 per lembar untuk memperkokoh struktur permodalan dan menunjang ekspansi bisnis sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain nama-nama tersebut, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) juga sudah mengumumkan agenda serupa pada akhir April 2026. 

Di sisi lain, aksi rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu turut mengalami kenaikan.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana melepas 13,5 miliar saham baru Seri B, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyiapkan 25 miliar saham baru, dan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) sedang menyiapkan rights issue jilid II sebanyak 5,7 miliar saham guna mengakuisisi pabrik Mayne Pharma di Australia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai bahwa fenomena ini menjadi tanda besarnya kebutuhan dana emiten, namun tujuannya tidak selalu mengenai ekspansi. 

“Ada juga yang digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, modal kerja, akuisisi, hingga perbaikan neraca,” ujar Ekky, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekky melanjutkan bahwa pemodal tetap dapat menyerap aksi korporasi tersebut selama arah bisnisnya jelas, alokasi dananya produktif, serta didukung investor strategis. 

Namun, para investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko penurunan persentase kepemilikan saham.

Sebagai ilustrasi, private placement MDKA diprediksi mengakibatkan dilusi sekitar 9,09 persen, sementara rights issue VKTR dan PYFA diperkirakan memberikan dampak dilusi yang lebih besar, masing-masing sekitar 36,36 persen dan 45,69 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menekankan bahwa bertambahnya volume saham yang beredar dapat memicu penurunan valuasi atau derating valuation jika dana hasil aksi korporasi tersebut tidak dikelola secara maksimal.

“Jika private placement atau rights issue kurang dioptimalkan, maka akan menyebabkan derating valuation atau penurunan valuasi sebagai akibat dari jumlah saham beredar yang lebih banyak, sehingga harga saham emiten pelaksana aksi korporasi tersebut berpotensi turun,” jelas Harry, Sabtu (9/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, kenaikan harga saham masih sangat mungkin terjadi apabila dana itu digunakan untuk langkah ekspansi yang mampu mengangkat kinerja perusahaan. 

“Emiten yang akan memaksimalkan rights issue adalah emiten yang memanfaatkan dananya untuk kegiatan ekspansi seperti,” tambah Harry. 

Ekky pun menutup dengan peringatan agar investor tidak langsung menganggap aksi korporasi sebagai sentimen positif, melainkan harus mempelajari fundamental sampai profil investor yang menyerap saham baru. 

“Namun, jika dilusinya besar dan prospek bisnisnya belum jelas, sebaiknya lebih berhati-hati,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua