Breaking

Net Sell Asing Tekan IHSG 19,40 Persen dan Rekomendasi Saham Pilihan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 11 Mei 2026
Net Sell Asing Tekan IHSG 19,40 Persen dan Rekomendasi Saham Pilihan
Ilustrasi grafik saham. (Foto: cnnindonesia)

JAKARTA – Aktivitas jual bersih atau net sell yang dilakukan oleh investor asing di pasar saham dalam negeri dinilai menjadi salah satu penyebab yang menekan nilai tukar rupiah, di mana saat ini posisinya telah melemah hingga melampaui level Rp17.000.

Kondisi ini tampak seperti siklus yang terus berulang, lantaran merosotnya nilai tukar rupiah pada prosesnya juga menghambat minat investor untuk masuk ke pasar saham tanah air. 

Berdasarkan informasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot sebesar 19,40 persen sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YtD) 2025. 

Sejalan dengan koreksi indeks tersebut, aliran modal asing yang keluar dari pasar saham dilaporkan sudah menyentuh Rp37,60 triliun YtD.

Head of Equity Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjabarkan bahwa gejala net sell asing di pasar modal memiliki pengaruh besar terhadap fluktuasi rupiah karena mendorong perubahan aset dari rupiah ke dolar AS.

”Apalagi ketika outflow terjadi bersamaan di pasar saham dan pasar obligasi, efeknya ke rupiah bisa menjadi lebih signifikan,” katanya kepada Bisnis sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bersamaan dengan depresiasi mata uang garuda, Wafi memandang bahwa risiko terhadap performa pasar saham cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh pelemahan rupiah yang berisiko memperburuk sudut pandang investor asing terhadap pasar modal tanah air. 

Wafi bahkan berpendapat apabila posisi rupiah terus berada di atas Rp17.000 per dolar AS, investor asing akan mengambil langkah lebih defensif karena tingkat pengembalian (return rate) sangat mudah tergerus oleh perubahan nilai tukar.

”Untuk paruh kedua 2026, saya lihat IHSG masih berpotensi volatile dengan kecenderungan sideways cenderung rebound terbatas jika stabilitas rupiah mulai membaik dan suku bunga global turun. Jadi arah market masih sangat bergantung pada flow asing dan stabilitas makro,” tambah Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejumlah sektor yang dinilai paling terkena dampak dari merosotnya rupiah adalah sektor yang memiliki keterikatan besar pada utang dalam valuta dolar AS, seperti industri penerbangan, otomotif, petrokimia, hingga beberapa sektor konsumer.

Namun di sisi lain, emiten yang bergerak di bidang komoditas atau ekspor dianggap lebih tangguh atau defensif. 

Wafi memberikan saran kepada para investor untuk tetap mengedepankan saham dengan fundamental yang kuat serta risiko kurs yang minim, seperti BBRI, BMRI, dan TLKM. 

Saham ADRO juga dinilai memiliki daya tarik untuk dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) menghadapi penurunan rupiah.

Selain terjadi di pasar saham, aksi jual oleh investor asing pun menghantam pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. 

Sampai dengan April 2026, kepemilikan asing dilaporkan berada pada angka Rp856,14 triliun, atau mengalami penyusutan sebanyak Rp23,79 triliun selama rentang waktu Januari hingga April 2026.

Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI, Salvian Fernando, menilai bahwa aksi jual di pasar SBN memberikan dampak besar pada pelemahan rupiah, sebab SBN merupakan pintu utama masuknya dana asing ke dalam negeri.

”Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah,” jelasnya kepada Bisnis sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Salvian melanjutkan bahwa terpuruknya rupiah saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor domestik atau aksi jual asing di pasar SBN saja, melainkan juga berasal dari tekanan luar negeri yang masih menguasai pasar akibat tingginya suku bunga global yang menetap lebih lama (higher for longer). 

Di samping itu, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran ikut mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven) demi memproteksi dana mereka di tengah situasi pasar yang penuh ketidakpastian.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua