Honda Kesulitan Bersaing Di Pasar Mobil Listrik China Penjualan Terus Menurun
- Jumat, 10 April 2026
JAKARTA - Tekanan persaingan di industri kendaraan listrik global semakin terasa, terutama di pasar China yang dikenal sangat dinamis dan kompetitif.
Perusahaan otomotif besar dari berbagai negara kini harus menghadapi perubahan cepat dalam teknologi, produksi, dan preferensi konsumen. Kondisi ini memaksa sejumlah produsen untuk mengevaluasi strategi mereka agar tetap relevan di tengah dominasi pemain baru.
Salah satu yang terdampak adalah Honda, yang kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan posisinya. Ketatnya persaingan dan kecepatan inovasi dari produsen lokal membuat perusahaan harus melakukan berbagai penyesuaian strategis. Situasi ini mencerminkan betapa cepatnya lanskap industri otomotif, khususnya kendaraan listrik, mengalami perubahan signifikan.
Baca JugaJadwal SIM Keliling Kabupaten Tangerang Hari Ini Lengkap Lokasi Dan Syarat
Pengakuan Langsung Dari Pimpinan Honda
Toshihiro Mibe secara terbuka menyatakan kesulitan perusahaannya dalam bersaing dengan pabrikan asal China, khususnya di sektor kendaraan listrik. Pernyataan ini muncul setelah Mibe melakukan kunjungan ke salah satu fasilitas pemasok di Shanghai, seperti dilansir dari Detik Oto.
Honda tengah menghadapi penurunan penjualan yang signifikan di pasar China. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi yang selama ini diterapkan belum mampu mengimbangi perkembangan pesaing yang lebih agresif dan inovatif.
Situasi tersebut mendorong perusahaan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lini bisnisnya, termasuk pengembangan produk dan efisiensi operasional.
Pembatalan Proyek Dan Dampak Finansial Perusahaan
Situasi ini memaksa Honda untuk membatalkan pengembangan tiga model mobil listrik yang dirancang untuk pasar Amerika Serikat, yang merupakan hasil kerja sama dengan Sony. Keputusan ini diambil sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi pasar yang tidak menguntungkan.
Eksekutif perusahaan mengakui ketidakmampuan Honda untuk menghadirkan produk dengan nilai tambah yang lebih baik dibanding produsen mobil listrik baru, sehingga mengurangi daya saing mereka.
Akibatnya, perusahaan mencatat kerugian finansial yang mencapai miliaran dolar. Bahkan, para eksekutif Honda dilaporkan rela menerima pemotongan gaji sementara sebagai bentuk sanksi atas kondisi ini.
Restrukturisasi Internal Dan Perubahan Strategi
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengembalikan divisi riset dan pengembangan ke dalam struktur perusahaan induk. Keputusan ini diharapkan mampu mempercepat proses inovasi dan meningkatkan efisiensi.
Mibe, yang sebelumnya menjabat kepala R dan D pada tahun 2020 di bawah pimpinan Takahiro Hachigo, memprakarsai pengintegrasian kembali divisi tersebut setelah 60 tahun beroperasi secara independen.
Langkah ini diambil karena divisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap lambatnya kinerja bisnis perusahaan. Dengan integrasi ini, Honda berharap dapat merespons perubahan pasar dengan lebih cepat dan tepat.
Ketertinggalan Teknologi Dan Produksi Di China
Dalam laporan terbaru yang dikutip dari Nikkei Asia, Mibe kini menyatakan bahwa Honda tidak punya kesempatan untuk mengejar ketertinggalan. Pernyataan ini mencerminkan tingkat persaingan yang sangat tinggi di pasar kendaraan listrik China.
Kunjungan Mibe ke pabrik pemasok di China mengungkap kenyataan bahwa fasilitas produksi di sana beroperasi tanpa tenaga kerja manusia di bagian produksi. Hal ini menunjukkan kemampuan manufaktur yang cepat, efisien, dan tetap menjaga kualitas.
Keunggulan teknologi tersebut menjadi tantangan besar bagi Honda yang masih membutuhkan waktu lebih lama dalam mengembangkan dan meluncurkan produk baru.
Penurunan Penjualan Dan Target Yang Lebih Rendah
Pada tahun 2020, Honda berhasil menjual 1,6 juta unit mobil di China. Namun, seiring munculnya banyak pesaing baru, volume penjualan tersebut merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Honda kini hanya menargetkan penjualan sekitar 600.000 unit untuk tahun ini, dengan pabrik-pabrik beroperasi hanya setengah dari kapasitasnya. Penurunan ini menjadi indikator nyata dari tekanan yang dihadapi perusahaan di pasar tersebut.
Selain itu, laporan juga menyoroti bahwa Honda memerlukan waktu dua kali lebih lama dalam meluncurkan model baru dibandingkan para kompetitornya dari China.
Dorongan Percepatan Inovasi Untuk Bertahan Di Pasar
Mibe menekankan urgensi bagi perusahaan dan para pemasok untuk bertindak cepat dalam mengembangkan kecepatan dan keterampilan yang diperlukan. Hal ini menjadi kunci agar Honda dapat kembali bersaing di pasar kendaraan listrik global.
Perubahan strategi yang dilakukan saat ini diharapkan mampu memperbaiki posisi perusahaan dalam jangka panjang. Meski tantangan yang dihadapi tidak ringan, Honda tetap berupaya mencari celah untuk beradaptasi.
Dengan tekanan kompetisi yang semakin ketat, masa depan industri otomotif akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam berinovasi dan merespons perubahan pasar. Honda kini berada pada fase penting untuk menentukan arah baru dalam menghadapi era kendaraan listrik yang terus berkembang pesat.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Daftar 5 Rumah Subsidi Balikpapan Murah 2026 Dekat Kawasan Penyangga IKN Baru
- Sabtu, 11 April 2026
Harga TBS Sawit Kalteng Maret 2026 Naik Usia Produktif Capai Rp3773 per Kg
- Sabtu, 11 April 2026
KUR BRI 2026 Hadir Dengan Struktur Bunga Simulasi Angsuran Syarat Pengajuan
- Sabtu, 11 April 2026
Berita Lainnya
Strategi Menhub Atur WFH ASN Demi Layanan Transportasi Tetap Optimal Nasional
- Jumat, 10 April 2026




.jpg)








