Harga Pangan Sumsel Pascale baran Berfluktuasi Bawang Cabai Masih Cenderung Naik
- Kamis, 09 April 2026
JAKARTA - Pasar pangan di Provinsi Sumatera Selatan belum sepenuhnya kembali stabil setelah perayaan Idulfitri 2026.
Sejumlah komoditas utama masih mengalami pergerakan harga yang cukup dinamis, dipengaruhi oleh perubahan permintaan serta distribusi pasokan. Kondisi ini menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga sehari hari.
Situasi pascalebaran memang kerap menghadirkan fluktuasi harga yang tidak bisa dihindari. Permintaan yang sempat tinggi selama periode hari raya perlahan mulai menurun, namun penyesuaian pasokan membutuhkan waktu. Akibatnya, beberapa komoditas masih berada pada level harga yang relatif tinggi, terutama kelompok bumbu dapur seperti bawang dan cabai.
Baca JugaPeralihan Kendaraan Listrik Tambang Dan Logistik Akibat Harga Solar Tinggi
Pergerakan Harga Bawang Masih Bertahan Tinggi
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per 8 April 2026, harga bawang di Sumatera Selatan masih menunjukkan tren kenaikan. Bawang merah tercatat mencapai Rp41.400 per kilogram, mengalami kenaikan sekitar Rp1.650 per kilogram dibandingkan sebelumnya.
Sementara itu, bawang putih juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Harga komoditas ini naik menjadi Rp41.750 per kilogram atau meningkat sekitar Rp3.100. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasokan bawang belum sepenuhnya pulih pasca lonjakan permintaan selama Lebaran.
Kondisi tersebut mencerminkan pentingnya distribusi yang lancar untuk menjaga kestabilan harga. Tanpa pasokan yang memadai, harga komoditas strategis seperti bawang cenderung bertahan tinggi lebih lama.
Harga Cabai Mengalami Kenaikan dan Penurunan Beragam
Selain bawang, komoditas cabai juga mengalami pergerakan harga yang cukup variatif. Cabai rawit hijau tercatat berada di angka Rp46.900 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah naik menjadi Rp55.000 per kilogram. Kenaikan ini menambah tekanan pada kelompok bahan pangan yang sering digunakan masyarakat.
Namun demikian, tidak semua jenis cabai mengalami kenaikan. Cabai merah besar justru mengalami penurunan harga menjadi Rp37.500 per kilogram. Hal serupa juga terjadi pada cabai merah keriting yang turun ke level Rp40.750 per kilogram.
Perbedaan tren ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan pada masing masing jenis cabai. Faktor distribusi serta ketersediaan stok di tingkat petani dan pedagang turut memengaruhi pergerakan harga tersebut.
Harga Protein Hewani Mulai Menunjukkan Penurunan
Berbeda dengan kelompok bumbu dapur, harga protein hewani mulai mengalami penurunan secara bertahap. Daging ayam ras tercatat turun sebesar Rp750 menjadi Rp37.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras juga mengalami penurunan ke level Rp29.450 per kilogram.
Penurunan ini memberikan sedikit kelegaan bagi masyarakat yang mengandalkan sumber protein hewani dalam konsumsi harian. Setelah sempat mengalami kenaikan selama periode Lebaran, harga mulai menyesuaikan seiring turunnya permintaan.
Tren ini juga menunjukkan bahwa pasokan protein hewani relatif lebih cepat pulih dibandingkan komoditas lain. Distribusi yang lebih stabil menjadi salah satu faktor yang mendukung penurunan harga tersebut.
Pantauan Harga di Pasar Tradisional Masih Bervariasi
Hasil pantauan di Pasar Lemabang menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok masih cukup bervariasi. Beras medium dijual sekitar Rp13.500 per kilogram, sedangkan beras premium berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
Untuk minyak goreng, baik curah maupun kemasan, harga berada di sekitar Rp19.000 per liter. Sementara itu, harga daging ayam ras di pasar tercatat Rp36.000 per kilogram dan telur ayam sekitar Rp28.000 per kilogram.
Komoditas bawang di pasar tradisional juga menunjukkan perbedaan harga. Bawang merah dijual sekitar Rp45.000 per kilogram, sedangkan bawang putih berada di angka Rp40.000 per kilogram.
Adapun harga cabai di pasar tersebut cukup beragam. Cabai merah besar dijual Rp30.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp35.000, cabai rawit Rp60.000, dan cabai burung bahkan mencapai Rp70.000 per kilogram.
Kondisi Fluktuasi Dinilai Wajar Pascale baran
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan, Ruzuan Effendi, menyampaikan bahwa kondisi harga yang belum stabil merupakan hal yang wajar setelah Lebaran. Ia menjelaskan bahwa pasar membutuhkan waktu untuk kembali menemukan keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
“Kondisi harga belum stabil dan tren penurunan berlangsung secara bertahap menuju stabil,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fluktuasi harga merupakan bagian dari siklus pasar yang terjadi setiap tahun. Setelah periode konsumsi tinggi, harga biasanya akan menyesuaikan secara perlahan seiring normalisasi aktivitas masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memahami kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar pangan. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan harga untuk memastikan stabilitas tetap terjaga dalam jangka waktu mendatang.
Upaya pengendalian distribusi dan pemantauan stok menjadi langkah penting agar harga pangan dapat kembali stabil. Seiring berjalannya waktu, diharapkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan tercapai sehingga harga kembali normal dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Daftar 5 Rumah Subsidi Balikpapan Murah 2026 Dekat Kawasan Penyangga IKN Baru
- Sabtu, 11 April 2026
Harga TBS Sawit Kalteng Maret 2026 Naik Usia Produktif Capai Rp3773 per Kg
- Sabtu, 11 April 2026
KUR BRI 2026 Hadir Dengan Struktur Bunga Simulasi Angsuran Syarat Pengajuan
- Sabtu, 11 April 2026
Berita Lainnya
Estimasi Biaya Listrik Kini Mudah Dicek Lewat PLN Mobile Resmi Secara Transparan
- Kamis, 09 April 2026




.jpg)








