BGN Ungkap MBG Jadi Penggerak Besar Industri Peternakan dan Permintaan Protein Hewani
- Senin, 30 Maret 2026
JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang sebagai salah satu kebijakan strategis yang berpotensi mengubah lanskap sektor peternakan di Indonesia.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya menilai bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menciptakan pasar baru yang sangat besar bagi produk-produk peternakan.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation hari kedua yang berlangsung di Kantor BRIN Jakarta pada Sabtu, 28 Maret 2026. Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, Sony menjelaskan bahwa pemerintah berperan langsung dalam mendanai pengadaan bahan baku pangan melalui program MBG.
Baca JugaMenteri LH Tekankan Syarat Teknis Penting dalam Pembangunan PSEL Nasional
Bahan baku yang dimaksud mencakup berbagai produk peternakan seperti susu, daging, dan telur yang didistribusikan ke setiap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Skema ini memastikan adanya aliran kebutuhan yang konsisten dari hulu ke hilir dalam rantai pasok peternakan nasional.
"Pendanaan bahan baku oleh MBG menciptakan kepastian permintaan, sehingga dapat mendorong produksi dan investasi di sektor peternakan," kata Sony.
Pasar Captive Skala Besar untuk Protein Hewani
Lebih jauh, Sony menekankan bahwa MBG akan menciptakan pasar captive dengan skala yang sangat besar, khususnya untuk komoditas protein hewani. Dengan adanya permintaan yang terjamin, sektor peternakan diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Program ini bahkan diperkirakan akan menghasilkan kebutuhan hingga miliaran kilogram untuk susu dan berbagai produk peternakan lainnya. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perubahan struktur industri peternakan dan susu di Indonesia secara menyeluruh.
Skala kebutuhan yang besar ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program sosial, melainkan juga instrumen ekonomi yang mampu menggerakkan sektor riil. Dengan pasar yang terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk meningkatkan kapasitas produksi dan melakukan ekspansi usaha.
Kebutuhan Produksi dan Skala Transformasi
Dari sisi kebutuhan produksi, angka yang disampaikan menunjukkan besarnya dampak yang akan ditimbulkan oleh program MBG. Sony mengungkapkan bahwa permintaan tersebut setara dengan penambahan sekitar 800.000 sapi perah, 1,6 miliar ayam pedaging, serta lebih dari 70 juta ayam petelur.
Besarnya angka tersebut mencerminkan transformasi besar yang akan terjadi dalam sektor peternakan nasional. Tidak hanya peningkatan jumlah ternak, tetapi juga perubahan dalam sistem produksi, distribusi, hingga manajemen rantai pasok.
"Ini merupakan lompatan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pengembangan peternakan Indonesia," ujarnya menegaskan.
Transformasi ini juga menuntut kesiapan berbagai pihak, mulai dari peternak kecil hingga industri besar. Tanpa perencanaan yang matang, lonjakan permintaan tersebut berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan antara supply dan demand.
Tantangan Besar yang Harus Diantisipasi
Di balik peluang besar yang ditawarkan, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi agar implementasi MBG berjalan optimal. Salah satu tantangan utama adalah peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan yang sangat tinggi.
Selain itu, persoalan distribusi juga menjadi perhatian, terutama terkait disparitas harga antarwilayah yang dapat memengaruhi stabilitas pasar. Isu keamanan pangan turut menjadi aspek penting yang harus dijaga, mengingat skala distribusi produk yang semakin luas.
Ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan dan beberapa produk peternakan juga menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, keberlanjutan sektor ini sangat bergantung pada regenerasi petani serta peningkatan kesejahteraan peternak agar tetap tertarik untuk berproduksi.
Semua tantangan tersebut membutuhkan penanganan yang terintegrasi agar peluang besar dari MBG tidak justru menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Peluang Ekonomi dan Pentingnya Kolaborasi
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Sony melihat peluang besar dari implementasi program MBG. Program ini dinilai mampu menarik investasi dalam skala besar, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja baru di sepanjang rantai pasok peternakan.
Dampak ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga oleh peternak kecil yang menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Dengan pengelolaan yang tepat, MBG dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis peternakan yang inklusif.
Keberhasilan program ini, menurut Sony, sangat bergantung pada sinergi lintas sektor. Dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, industri, pelaku usaha, serta lembaga riset dan inovasi menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan program.
"Jika dikelola dengan baik, MBG tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi berbasis peternakan yang inklusif dan berkelanjutan," tutur Sony Sanjaya.
Dengan kombinasi antara kebijakan yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan kesiapan sektor peternakan, program MBG berpotensi menjadi titik balik penting dalam pembangunan industri peternakan nasional sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Strategi PLN Nusantara Power Menjaga Stabilitas Listrik Selama RAFI 1447 H
- Senin, 30 Maret 2026
Pertamina Kembangkan Sumur Manpatu Lepas Pantai Balikpapan Secara Bertahap
- Senin, 30 Maret 2026
Spesifikasi Unggulan Smartband Rogbid Loop Dengan Desain Minimalis Modern
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Harga Pangan Hari Ini 30 Maret 2026, Beras Naik dan Cabai Turun Tajam
- Senin, 30 Maret 2026
Awal Musim Kemarau April 2026 Dimulai, BMKG Sebut 16,3 Persen Wilayah Terdampak
- Senin, 30 Maret 2026
Tiket Kereta Api Arus Balik Yogyakarta Hampir Habis Hingga Akhir Maret
- Senin, 30 Maret 2026












