JAKARTA - Di tengah bayang-bayang tekanan global dan domestik sepanjang 2025, secercah optimisme mulai terlihat di sektor perumahan nasional.
Pelaku industri menilai fase perlambatan bukan akhir dari siklus, melainkan jeda sebelum pemulihan. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi momentum kebangkitan pasar. Harapan tersebut muncul dari sejumlah indikator yang mulai menunjukkan perbaikan.
Pinhome menilai pasar properti domestik berpeluang bangkit pada 2026, meski sepanjang paruh kedua 2025 masih dibayangi tekanan sosial, ekonomi, politik, hingga lingkungan yang menekan daya beli masyarakat. Evaluasi tersebut dirangkum dalam laporan riset terbaru. Optimisme disampaikan dengan tetap mempertimbangkan risiko global. Sikap hati-hati konsumen menjadi catatan penting.
Baca JugaGrab Tingkatkan Kepemilikan Saham Super Bank Jadi 15,04 Persen
Berdasarkan riset yang dirangkum dalam Indonesia Residential Market Report Semester II 2025 & Outlook 2026, Pinhome mencatat ketidakpastian global dan domestik membuat konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian properti. Pola ini membentuk lanskap pasar berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Konsumen lebih selektif dan mempertimbangkan faktor risiko. Keputusan pembelian tidak lagi bersifat impulsif.
Kondisi ini membentuk lanskap pasar yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dinamika suplai dan permintaan mengalami penyesuaian signifikan. Beberapa segmen mencatat perlambatan, sementara lainnya tetap tumbuh. Adaptasi pelaku pasar menjadi kunci bertahan.
Perubahan Inventori Rumah Primer dan Sekunder
Salah satu temuan utama adalah stagnasi inventori rumah primer. Rata-rata penambahan inventori rumah baru bulanan turun hingga 14%, mencerminkan berkurangnya suplai rumah baru. Penurunan ini menunjukkan kehati-hatian pengembang dalam meluncurkan proyek. Strategi menahan suplai menjadi respons atas permintaan yang melambat.
Situasi ini membuka peluang bagi pengembang yang memiliki stok rumah siap huni untuk memenuhi kebutuhan beli cepat di pasar. Apalagi, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) masih berlaku hingga akhir 2027. Insentif tersebut menjadi katalis potensial. Terutama bagi pembeli yang ingin segera menempati hunian.
Sebaliknya, inventori rumah sekunder justru menunjukkan tren naik. Sepanjang semester II 2025, rata-rata penambahan inventori rumah sekunder tumbuh 5% per bulan. Kenaikan ini terutama terjadi di wilayah penyangga DKI Jakarta. Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan masing-masing menyumbang 8% dari total penambahan.
Tekanan Ekonomi dan Dampaknya pada Pasar
CEO Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menyebut peningkatan inventori rumah sekunder tak lepas dari tekanan ekonomi sepanjang 2025. Kondisi ekonomi mendorong sebagian pemilik melepas aset. Likuiditas menjadi prioritas di tengah ketidakpastian. Hal ini tercermin pada meningkatnya jumlah listing.
“Tekanan ekonomi, mulai dari gelombang PHK hingga kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti melepas aset hunian untuk menjaga likuiditas,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Kontan, Rabu (25/1/2026). Pernyataan ini menegaskan tekanan nyata pada rumah tangga. Properti menjadi salah satu aset yang dilepas. Strategi tersebut dilakukan demi stabilitas keuangan.
Tekanan tersebut juga tercermin dari meningkatnya listing properti dengan indikasi urgensi penjualan, seperti penggunaan label “Butuh Uang (BU)”, “Jual Cepat”, hingga penawaran harga di bawah pasar. Fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan dana cepat. Diskon harga menjadi daya tarik bagi pembeli. Namun kondisi tersebut juga menekan harga pasar.
Perbedaan Permintaan Antar Kawasan
Dari sisi permintaan, Pinhome mencatat kontras tajam antara kawasan industri dan kawasan residensial komuter. Kawasan industri tetap menunjukkan kinerja positif. Ekspansi sektor manufaktur menjadi pendorong utama. Aktivitas ekonomi di kawasan industri menopang permintaan hunian.
Di Cikarang, permintaan properti tumbuh 16% pada semester II 2025 dibandingkan semester sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan daya tahan kawasan industri. Kedekatan hunian dengan pusat kerja menjadi faktor penting. Aksesibilitas meningkatkan nilai properti.
Sebaliknya, kawasan residensial komuter di Bekasi mengalami koreksi permintaan cukup dalam. Permintaan di Tambun turun 22%, sementara Cibitung melemah 9% pada periode yang sama. Perbedaan tren ini menegaskan kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja menjadi faktor kunci pembentuk permintaan properti. Mobilitas dan efisiensi waktu menjadi pertimbangan utama.
Penyesuaian Pembiayaan dan Prospek 2026
Sejalan dengan temuan tersebut, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai meski sektor real estat dan konstruksi melambat sepanjang 2025, sinyal rebound penjualan rumah primer di akhir tahun menunjukkan kebutuhan hunian tetap kuat. Indikasi ini menjadi dasar optimisme. Permintaan fundamental dinilai masih ada. Tantangannya terletak pada keterjangkauan.
“Pemulihan ke depan sangat ditentukan oleh keterjangkauan, kepastian kebijakan, serta kemampuan pembiayaan,” ujarnya. Pernyataan tersebut menyoroti faktor struktural. Stabilitas regulasi dan akses kredit menjadi krusial. Tanpa itu, pemulihan bisa tertahan.
Data Pinhome menunjukkan meningkatnya minat terhadap KPR dengan tenor lebih panjang dan penurunan rata-rata plafon KPR. Bahkan, minat KPR rumah sekunder kini melampaui rumah primer untuk menghindari beban ganda cicilan dan sewa pada rumah indent. Skema Take Over dan Top Up mendominasi hingga 74% dari total transaksi. Tren ini mencerminkan fokus konsumen pada mitigasi risiko dan preferensi unit siap huni.
Memasuki 2026, tantangan global seperti konflik geopolitik, inflasi, dan rantai pasok masih membayangi. Namun resiliensi pasar regional memberi harapan baru. Sumatera menunjukkan pertumbuhan permintaan signifikan, sementara operasional Kereta Cepat Whoosh mendorong minat di Bandung Timur. Di luar Jawa, hilirisasi sumber daya alam memicu pertumbuhan baru. Kolaborasi kebijakan pembiayaan dan infrastruktur menjadi kunci agar optimisme kebangkitan pasar properti benar-benar terwujud.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
2.
3.
4.
Pemerintah Alokasikan 214 Juta Liter BBM Subsidi Bagi KAI Tahun 2026
- 26 Februari 2026
5.
Update Terbaru Bunga KUR BRI 2026: Apakah Masih 6 Persen Per Tahun?
- 26 Februari 2026







.jpg)
