Jumat, 13 Februari 2026

Optimalisasi Tambang MIND ID Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen Menuju

Optimalisasi Tambang MIND ID Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen Menuju
Optimalisasi Tambang MIND ID Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen Menuju

JAKARTA - Wakil Direktur Utama Holding Industri Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan, menegaskan bahwa Indonesia perlu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dengan mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Pernyataan itu disampaikan dalam Studium Generale bertema “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” yang digelar di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.

Menurut Dany, selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan di kisaran sekitar 5 persen. Kondisi itu, kata dia, mencerminkan ketergantungan struktur ekonomi nasional yang masih kuat pada ekspor bahan mentah dengan nilai tambah rendah.

Dalam kesempatan yang sama, Dany menjelaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk melakukan lompatan pertumbuhan lebih tinggi, namun perlu strategi tepat dan policy pendukung untuk mencapainya.

Baca Juga

Daop 6 Yogyakarta Tambah Perjalanan Kereta Api Saat Libur Imlek 2026 Mendatang

Strategi Menembus Batas Pertumbuhan 5 Persen

Dalam paparan yang disampaikan, Dany menekankan bahwa Indonesia memiliki sejumlah keunggulan komparatif yang bisa dimanfaatkan untuk memperbesar kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta meningkatkan kinerja ekonomi nasional.

Ia menilai bahwa sumber daya alam, struktur demografis yang relatif muda, serta pasar domestik yang besar adalah modal utama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini.

“Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5 persen, padahal dengan modal yang dimiliki seharusnya mampu melompat lebih tinggi,” ujar Dany pada forum tersebut.

Selain itu, Dany juga menyampaikan bahwa strategi pembangunan berkualitas telah dirangkum dalam buku yang ia tulis berjudul Indonesia Naik Kelas, yang diluncurkan pada akhir 2025. Dalam buku itu, ia menguraikan beberapa pilar penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju angka di atas 8 persen.

Kontribusi Sektor Tambang Masih Minim ke PDB

Salah satu poin penting yang disoroti Dany adalah realitas kontribusi sektor pertambangan dan sumber daya mineral terhadap PDB Indonesia yang masih rendah, yaitu sekitar 9 hingga 10 persen. Angka ini jauh di bawah kontribusi negara-negara maju yang mampu mencapai 30–40 persen, sebagian besar melalui nilai tambah industri yang lebih tinggi.

“Tingkat penerimaan negara yang rendah ini menunjukkan bahwa kita masih banyak menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri,” kata Dany.

Dany menilai bahwa rendahnya kontribusi ini merupakan sinyal bahwa hilirisasi sumber daya alam nasional belum optimal. Padahal, jika pemrosesan bahan mentah dilakukan lebih banyak di dalam negeri, potensi penerimaan pajak, royalti, dan penciptaan nilai tambah industri bisa meningkat signifikan.

Hilirisasi dan Nilai Tambah Industri sebagai Game Changer

Menurut Dany, kunci untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam Indonesia bukan hanya terletak pada pengelolaan tambang semata, tetapi juga pada penerapan strategi hilirisasi yang lebih intensif. Dengan hilirisasi, Indonesia dapat menangkap nilai tambah yang lebih besar dari setiap komoditas yang dihasilkan.

Ia menambahkan bahwa peluang tidak hanya ada di sektor pertambangan, tetapi juga pada secondary resources dan limbah industri yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu, Dany juga melihat potensi besar pada sektor lain seperti perikanan dan industri pengolahan lain yang selama ini belum sepenuhnya dioptimalkan, tetapi sejatinya bisa menjadi bagian dari strategi memperkuat industri nasional.

Dengan memperluas fokus hilirisasi tidak hanya pada komoditas tunggal, Indonesia bisa menciptakan ekosistem industri yang lebih beragam, inovatif, dan bernilai tambah tinggi. Hal ini pun membuka peluang bagi penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan struktur ekonomi domestik.

Riset, Inovasi, dan Tantangan Kebijakan

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen, Dany juga menekankan pentingnya penguatan riset dan inovasi sebagai fondasi peningkatan daya saing produk industri nasional.

Menurutnya, pengembangan teknologi dan kemampuan penelitian yang lebih baik akan membantu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Namun, ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kebijakan dan regulasi yang mendukung investasi jangka panjang serta insentif bagi pengembangan industri hilir.

Membangun Ekonomi yang Lebih Kompetitif

Dany menutup paparannya dengan menegaskan bahwa hilirisasi, optimalisasi sumber daya alam, serta penguatan sektor industri berorientasi nilai tambah adalah fondasi utama untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Jika dijalankan secara konsisten dan didukung oleh kebijakan yang tepat, ia yakin Indonesia mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen — sekaligus mendongkrak kontribusi ekonomi nasional ke level yang lebih kompetitif di kancah global.

Fery

Fery

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

KAI Daop 7 Madiun Inspeksi 12 Stasiun dan Ramp Check KA Jelang Lebaran 2026

KAI Daop 7 Madiun Inspeksi 12 Stasiun dan Ramp Check KA Jelang Lebaran 2026

KAI Perkuat Keselamatan Jalur Selama Angkutan Lebaran 2026 Fokus Pada Mitigasi Risiko

KAI Perkuat Keselamatan Jalur Selama Angkutan Lebaran 2026 Fokus Pada Mitigasi Risiko

PLN UID Sumut Kolaborasi dengan YBM Hadirkan Terang Lewat Program LUTD

PLN UID Sumut Kolaborasi dengan YBM Hadirkan Terang Lewat Program LUTD

Penjualan BYD Melonjak Tajam, Pangsa Pasar BEV Tembus 60 Persen

Penjualan BYD Melonjak Tajam, Pangsa Pasar BEV Tembus 60 Persen

PNM Perluas Jangkauan Layanan dengan Pendanaan Berkelanjutan

PNM Perluas Jangkauan Layanan dengan Pendanaan Berkelanjutan